Oleh Setta SS (Kotasantri, 11 Agustus 2009)

MENYONGSONG pekan terakhir kompetisi Serie A Italia musim 2007/2008, ada tiga striker (penyerang) yang bercokol di puncak daftar pencetak gol terbanyak. Mereka adalah Alessandro Del Piero, Marco Borriello, dan David Trezeguet. Hingga pekan ke-37, ketiganya sama-sama telah mengemas 19 gol.

Mari kita dengar komentar Del Piero terkait peluangnya untuk menjadi capocanonieri alias top scorer atau pencetak gol terbanyak musim ini.

“Akan menjadi hal yang hebat dan jalan yang benar untuk menghormati rekan setim kita. Juga cara kita bermain sebagai sebuah tim,” ungkap Del Piero, berharap bisa berada sejajar dengan duetnya di lini depan Juventus, David Trezeguet, dalam torehan gol dan mengangkat tropi capocanonieri bersama.

Apa yang dikatakan Del Piero dibuktikannya di lapangan hijau saat bertandang ke stadion Marassi, kandang Sampdoria, di laga pamungkas. Baru tujuh menit babak pertama berjalan, sepakan kaki kiri bagian dalam Alex, sapaan akrab Del Piero, merobek jala gawang Sampdoria. Dan, ketika di menit ke-16 klubnya mendapat hadiah penalti, Del Piero dengan besar hati menyerahkan eksekusi itu kepada Trezeguet, semata untuk menyamakan jumlah gol keduanya sama-sama 20 gol.

Sungguh, sebuah sikap yang luar biasa. Del Piero telah menunjukkan pada dunia, bahwa ia—sebagai seorang striker dan pribadi, bukan tipe orang yang egois dan serakah. Karena sudah menjadi rahasia umum, untuk urusan mengeksekusi bola-bola mati (penalti, tendangan bebas, dan sepak pojok) adalah tugas spesial Del Piero. Bahkan ia termasuk salah satu eksekutor bola-bola mati andalan di Squadra Azzuri, Italia.

Namun, untung tak dapat ditolak, begitu kata pepatah lama. Di menit ke-65, Il Capitano Bianconeri—kapten Juventus, yang ramah dan murah senyum itu mencetak gol keduanya dalam pertandingan itu. Sementara Trezeguet gagal menambah koleksi golnya sampai peluit panjang berbunyi hingga jumlah total gol yang dikoleksi keduanya berselisih satu.

Bagaimana dengan Marco Borriello? Sesumbar ambisiusnya ketika jumpa pers sebelum pertandingan, menguap ikut tertelan bersama kekalahan timnya saat bertandang ke kandang Atalanta. Alih-alih mencetak hattrick (tiga gol) untuk mengungguli koleksi gol Trezeguet dan Del Piero, Borriello gagal mencetak sebiji gol pun. Dan harus puas berada di tangga ketiga daftar penyerang tersubur Serie A Italia musim 2007/2008.

Bravo Alessandro Del Piero!

***

Secara harfiah, fighting mind bisa diartikan berpikir menang, semangat bertanding, atau mental juara.

Sejujurnya, saya sering kecewa dengan sikap dari kebanyakan warga negara kita. Mereka tidak memiliki sifat yang satu ini. Saya sudah menyaksikan sendiri beberapa kali pada waktu dan momentum yang berbeda.

Di laga semi final piala Thomas. Ketika Taufik Hidayat menghadapi Hyun Ii Lee dari Korea Selatan dalam posisi kritis di set kedua setelah kalah di set pertama. Tiba-tiba seorang penonton tak jauh dari tempat saya duduk nyeletuk, “Wah, Indonesia jelek! Taufik pasti kalah!” dan ngeloyor pergi setelah mengucapkannya.

Pun juga di laga final Uber. Ketika Maria Kristin menjadi bulan-bulanan pebulutangkis tungal putri nomor satu dunia dari Cina, Xie Xinfang. Seorang penonton di dekat saya, dengan suara yang terdengar sangat menyebalkan di telinga, malah meneriakan yel-yel, “Kalah, kalah, kalah ….” Padahal ia jelas-jelas berkulit sawo matang, bukan kuning!

Huh! Saya sangat yakin, kedua penonton itu adalah para pecundang sejati!

***

Jika kita cermati prestasi yang telah diukir oleh Juventus, klub sepakbola yang dibela Del Piero sejak tahun 1993, mereka adalah pengoleksi gelar terbanyak Serie A Italia, 29 kali. Jauh di atas AC Milan (17 kali) dan Internazionale Milan (15 kali). Tentu hanya sebuah tim dengan mental juara sekeras baja sajalah yang sanggup mengoleksi gelar juara sebanyak itu. Del Piero sebagai maskot Juventus sudah pasti tak lepas dari bagian fighting mind yang bersinergi di sana.

Jika dalam dunia sepakbola fighting mind identik dengan semangat bertanding untuk meraih kemenangan atau menghindari kekalahan, maka dalam dunia keseharian—menurut saya, fighting mind adalah semangat untuk tetap eksis dalam kehidupan ini dan sekaligus mencintai kehidupan itu sendiri dengan sepenuh hati. Orang-orang yang memiliki fighting mind membara dalam kehidupan ini akan selalu berkata, “I’m possible!” Dan bukan, “Impossible!”

Bagaimana dengan Anda? (*)

 

 

Yogyakarta, 19 Mei 2oo8 o2:14 p.m.

 

Advertisements