Cerpen Zen Hae (Koran Tempo, 22 Agustus 2010)

1. Tu(k)an(g) Kebun

: M.H. Székely Lulofs

TUANKU, yang tua dalam kebakaannya, mendatangiku yang tengah tertidur di sebuah bangku batu panjang. Ia memakai seragam kontrolir dengan topi yang miring ke kanan. Serba-putih. Dengan ujung tongkat rotannya ia cutik pipiku, aku geragapan dan meraih ujungnya. “Apa kau bermimpi?” ia bertanya. “Ya. Tapi aku buta. Segala yang kuimpikan merah-hitam semata. Sosok-sosok mengabur seperti kerumunan lebah,” kataku. Lantas ia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menatap bulatan marmer putih di mataku. “Lantas bagaimana kau merawat taman ini?” ia bertanya lagi. “Aku merawatnya dengan cara membayangkannya,” kataku.

Ia memandang taman segi delapan di depan kami. Lumayan luas, cukup banyak pohon peneduh dan rumpun bunga. Hamparan rumput yang dipotong serapi permadani Turki. Batu-batu raksasa setabah bijian purba yang ribuan tahun menanti hujan pertama. Sebuah sungai kecil yang memusuhi jalan lempang ke muara. “Bumi benar-benar impian seorang tukang kebun,” katanya setelah matanya puas. “Semula aku mengira kau akan benar-benar menderita di bumi asing ini, tapi ternyata tidak. Kau cukup cakap membawa diri.”

Tapi ia mengeluhkan tamannya, tak ada lagi yang mengurusnya. Taman itu kini menghutan dan merambak hingga tak terhingga. Adapun pohon itu—kunamai ia Pohon Merah—yang pernah kami datangi di hari istirah yang sejuk, menjulang kian kokoh dan tambah tinggi hingga menyentuh atap sorga. Bebuah dan dedaunnya berjatuhan dan membusuk di sungai hingga susu di sungai itu menjadi cepat basi. Hewan-hewan sering mabuk begitu meminumnya. Tak jarang mereka mengamuk dan berbunuhan—setelah panas berdebat tentang siapa yang pantas merawat taman itu.

“Sedang para centeng berpedang-api itu, apalah yang bisa kuharapkan dari mereka? Mereka bisa menjaga tapi tidak bisa mengurus taman dengan baik. Kadang mereka tertidur di bawah pohon, dengkur mereka menjelma guntur, pedang mereka tergeletak dan apinya menjalar ke mana-mana. Susu basi toh bukan piranti ampuh untuk memadamkan api.”

“Tapi bisa membuat seluruh makhluk sakit perut berhari-hari. Dan belum ada dokter di tempatmu, Tuanku,” jawabku.

Advertisements