Oleh Setta SS (Kotasantri, 7 Mei 2009)

SORE hari, dua hari yang lalu. Sebuah ambulan berhenti di sebrang jalan tak jauh dari pondokan saya. Saya tidak begitu peduli. Malam harinya saat saya keluar untuk suatu keperluan, sebuah keranda jenazah sudah terparkir di depan rumah itu. Bangku-bangku tertata di halaman depan rumah itu dengan penerangan benderang tidak seperti biasanya. Tampak beberapa orang laki-laki dewasa berjaga (akan semalaman kah?) sambil bermain kartu di sana—hai, bermain kartu! Tidak salahkah penglihatanku ini?

“Ada orang meninggal. Jatuh sewaktu jalan-jalan—berjalan kaki. Terus dibawa ke rumah sakit. Dua hari dirawat di rumah sakit, ternyata kemarin siang meninggal,” terang bapak pemilik pondokan saya di pagi buta itu. Ia sedang memasak air di belakang pondokan kami dengan tungku kayu bakar dan saya akan mengambil wudlu untuk shalat Shubuh berjamaah di masjid.

“Laki-laki atau perempuan?” tanya saya memastikan.

“Ibu-ibu,” jawabnya.

Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uuun. Begitu mudahnya kematian menghampiri hanya karena jatuh sewaktu berjalan-jalan.

Siang harinya, hampir seharian, terdengar alunan suara murattal sayup-sayup sampai ke kamar saya, Al-Mathrud atau Asy-Syukur atau As-Sudais? Bahkan malam harinya pun tampak sekumpulan orang berkumpul dan membacakan sepaket surat Yaasiin dan tahlil di rumah itu. Biasanya hingga tujuh malam berturut-turut.

Ah, tiba-tiba sebuah pertanyaan usil berputar-putar di kepala saya. Saya tidak tahu, apakah dalam kesehariannya di rumah itu selalu terdengar bacaan syahdu kalam Ilahi? Namun jika tidak, bahkan tidak pernah sama sekali misalnya, sungguh celaka!

Sahabat-sahabat, apakah kita harus menunggu hingga ada salah seorang dari anggota keluarga kita wafat terlebih dahulu untuk memenuhi rumah kediaman kita dengan bacaan merdu kalam Ilahi itu?

***

Lebih tujuh belas bulan ke belakang.

“Dek, kapan terakhir kali kau memegang Al-Qur’an dan membacanya? Atau mungkin berusaha menghafalkannya?”

“Dua minggu yang lalu di sekolah—kalau tidak salah. Emang kenapa?”

“Pas ujian praktek agama, ya?”

“Iya.”

“Berarti kalau tidak ada ujian praktek agama tidak akan membacanya lagi dalam waktu dekat ini, ya?”

“Siapa bilang? Itu kan kebetulan saja. Lagian waktu ujian agama, aku sudah hafal dua minggu sebelumnya kok. Sok tahu, lo!”

Keluar deh Uci ‘taring’-nya. Jawaban adik perempuan saya yang masih duduk di bangku SMP itu tidak nyambung sama sekali dengan esensi dari pertanyaan saya. Tapi lebih pada sebuah pembelaan diri.

“Kapan mau membacanya lagi? Hafalannya sudah sampai surat apa? Surat Al-Ma’uun hafal tidak?”

Setelah pesan terakhir itu terkirim ke nomer Uci, saya rangkum dialog di atas ke dalam satu SMS dan saya kirim ke nomer ayuknya, Cak. Kemudian saya sambung dengan sebuah SMS lagi, “Kalau yang kuliah semester akhir kan tidak ada ujian agama lagi, apa berarti sudah lupa kapan terakhir kali membaca Al-Qur’annya?”

“Kenapa mesti surat Al-Ma’uun? Kalau surat yang lain aku hafal!” balasan Uci.

Berselang bilangan detik, SMS dari ayuknya juga masuk, “Ember! Sorry, dah lupa. Hehe….”

Dua-duanya pada error semua ternyata.

“Kan di sana ada cerita begini, Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu…. Tahu jawabannya? Oya, kalau surat Al-Kaafiruun hafal kan?”

“Pasti Al-Qur’annya juga lupa di mana menyimpannya. Ipodmu tuh yang adil isinya. Minimal kau simpan Juz ‘Amma dan surat-surat pilihan favoritmu. Jangan hanya diisi peterdol dkk. doang. By the way, if only—mengkhayal dikit nih, kau bukan adik kakak, sorry super sorry banget deh punya calon istri yang tidak pernah membaca Al-Qur’an dalam kesehariannya sepertimu. Piiss, deh!” tulis saya pada Cak.

“Kan di sana ada cerita begini, Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya. Kalau surat Al-Kaafiruun aku sudah hafal. Kecil dan mudah.”

“Yes! Akhirnya deh, barusan membuka Al-Qur’an dulu kan? Ya, benar. Semoga kita tidak termasuk orang yang lalai dari shalat yang kita kerjakan. Amin.”

“Enak saja! Aku seringlah membaca Al-Qur’an. Maksudku tadi, aku sudah jarang menghafalkannya,” protes Cak.

“Ok deh kalau begitu. Smile….”

Dan, begitulah akhir diskusi kami—saya dan adik-adik, malam itu, untuk sebuah pertanyaan berikut ini:

Kapan terakhir kali kau memegang Al-Qur’an dan membacanya? Atau mungkin berusaha menghafalkannya? (*)

 

 

Yogyakarta, 28 Mei 2oo8 o5:o7 p.m.

 

Advertisements