Oleh Setta SS (Kotasantri, 16 Agustus 2010)

SUATU sore, saya duduk termangu di sebuah bangku bambu panjang yang baru dibeli ibu kos di kontrakan baru saya. Sejatinya saya baru menyadari, bangku bambu serupa yang sebelumnya menempati posisi bangku baru yang sedang saya duduki itu, yang rangka utama bagian tengahnya patah itu, sudah teronggok di halaman tak jauh dari beranda tempat saya duduk sore itu.

Entah, sudah beberapa hari itu saya merasa suntuk dan jenuh. Sekujur badan saya terasa pegal-pegal. Sudah cukup lama saya tidak lagi berolah raga dengan teratur. Bahkan sekadar jogging selepas Shubuh di masjid pun sudah tak dilakoni. Beberapa waktu ke belakang, saat teman-teman sehobi masih tak sepelik sekarang menjalani hari-hari mereka, kami masih menyempatkan bermain futsal atau sepak bola setiap Sabtu atau Minggu pagi secara rutin; dan kadang saya bermain bulu tangkis bersama rekan lain di Jum’at pagi. Makanya selain sepatu kulit berwarna hitam, saya punya sepasang sepatu futsal merk Specs, sepasang sepatu sepak bola Spotec, dan untuk bermain tepok bulu andalan meraih emas Olimpiade negeri kita, saya punya sepasang sepatu merk Yonex.

Ketika seorang teman satu kontrakan saya tiba di kontrakan kami entah dari mana sore itu, saya memulai dialog yang intinya mengajak dia berolah raga. Namun ternyata dia tak suka berolah raga. Atau lebih tepatnya, dia tak memiliki keahlian olah raga permainan apa pun.

“Oalah, banci…,” reflek kata saya padanya. Eh, dia tak terima. “Aku tidak suka disebut banci,” ungkapnya. Oh, maafkan saya, Kawan.

Faktanya dia memang tidak bisa bermain futsal. Dia tak cakap bermain sepak bola. Pun dia tak lihai bermain tepok bulu. “Kalau bermain tenis meja?” buru saya. Jawabannya masih idem juga. Terus bisanya olah raga apa? Tapi pertanyaan terakhir itu hanya terlontar dalam benak saya. Tak tega saya terus mempertanyakan sesuatu yang sama sekali tak diminatinya. Sama sekali tak masuk dalam daftar hobinya.

Hanya kemudian saya jadi termenung lama, membanding-bandingkan antara diri saya dengan sosoknya. Saya pernah menjadi jawara tenis meja sekampung dengan menyingkirkan 31 peserta lainnya. Saya pernah menjadi top scorer liga sepak bola di SMA. Saya sudah cukup makan asam garam pertandingan sepak bola tarkam (antar kampung) dalam berbagai turnamen, dari mulai yang Kambing Cup hingga Sapi Cup; meski dari dua partai final yang saya tapaki, tak pernah berhasil mengangkat tropi juara sekalipun. Bagaimana dengan dia yang bahkan tak pernah merasakan momen-momen mendebarkan di hadapan ratusan pasang mata yang menyaksikan aksinya di tengah lapangan atau arena pertandingan?

Bagian inilah hal urgen yang ingin saya diskusikan di sini. Bahwa ternyata kita seringkali terlalu dramatis dan hiperbolik dalam men-judge situasi sesaat yang akhirnya bermuara pada sikap kurang menghargai apa adanya diri kita sendiri. Pada multi-event yang menuntut keterlibatan aktif kita di dalamnya, kita kerap merasa kalah lebih dulu sebelum memulai pertandingan yang sesungguhnya. Kita lebih sering merasa kerdil di hadapan orang lain yang tak sepenuhnya kita kenal. Bahkan pada mereka yang hanya selintasan saja pernah kita lihat. Dari sosoknya yang tinggi menjulang, wajahnya yang rupawan, tubuhnya yang kekar, ucapannya yang tampak terpelajar, rentetan gelar akademik yang disandangnya, kekayaan melimpah yang dimilikinya, atau dari hal-hal lain yang sebenarnya hanya sebatas kulit luar atau sebagian kecil saja dari profilnya. Bukan keseluruhan jati dirinya.

Adalah sah-sah saja kita merasa tidak seberuntung dia ketika tinggi badan kita terpaut jauh di bawahnya, tak secakep wajahnya, tak sekekar bodinya, tak setingkat jenjang pendidikannya, dan bukan orang kaya raya. Namun ada satu hal yang harus kita yakini, tak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna. Pasti di balik gemerlap nilai plus yang tampak jelas di depan kita, ada sisi minus dari dirinya yang tak terlihat oleh pengetahuan kita yang awam terhadapnya. Dan kesadaran ini yang sering terlupakan begitu saja dari spektrum apresiasi alam bawah sadar kita pada sosok ideal yang jamak dianggap tanpa cela itu.

Kembali ke sosok rekan sekontrakan baru saya di atas. Jika saya runut lebih jauh nilai plus saya dibandingkan dirinya, maka saya pun punya kemampuan menulis kreatif yang sama sekali tidak dikuasainya. Kemudian, saya tidak perlu memakai kacamata minus sebagaimana dirinya yang tak dapat membaca dengan jelas jika tidak memakainya. Tentu, saya yakin masih ada beberapa nilai plus lain dalam diri saya yang patut disyukuri keberadaannya.

Pada titik inilah sesungguhnya kesadaran itu mulai muncul kembali senyata-nyatanya dalam diri saya. Bahwa saya bukanlah makhluk yang hanya dikaruniai kekurangan semata. Oleh karena itu, saya harus mulai mengasah kembali gunting syukur saya yang–sangat boleh jadi, sudah sekian lama dibiarkan tumpul dan berkarat karena ketidakmengertian saya sendiri.

Hmm, semoga begitu pula persepsi Anda setelah menyelesaikan membaca rangkaian tulisan sederhana ini. (*)

 

 

Yogyakarta, 8 Agustus 2o1o o7:36 p.m.

 

Advertisements