Cerpen Anna Fatul Ulum (Republika, 4 Juli 2010)

“HEI, kusut aja daritadi, ada apa?”

“Gak tau nih, Man, mau ngapain, mungkin begini ya kalau udah gila cinta?” jawabku tidak bersemangat karena sedang malas untuk berbicara pada semua orang.

“Waduh, ternyata virus itu juga udah melanda orang alim kayak kamu ya?” Rahman mulai menertawakan diriku.

“Kalau kamu memang suka sama dia, langsung aja lamar! Apa yang kamu tunggu, kerja udah ada, ganteng, kaya, apa lagi yang membuatmu seperti ini?”

“Ibuku selalu memaksaku untuk menikah. Tapi, aku sudah telanjur menyukai seorang cewek, kulitnya putih tanpa ada belang, tinggi, dan cantik.
Kalau berjalan, pandangannya terjaga.”

“Wow, sempurna. Terus, apa masalahnya?” Rahman semakin antusias.

“Masalahnya aku sekarang tidak tahu ke mana gadis cantik itu.”

“Kamu hubungi aja nomor telepon atau HP-nya gitu?”

“Man, masalahnya aku nggak tau. Kalau tau, aku gak bakalan stres seperti ini. Namanya saja aku kenal dari orang lain.”

“Namanya siapa? Siapa tahu aku ngerti dia. Aku kan banyak relasi.”

“Namanya Virgin. Tahu nggak?”

“Wah, nama yang aneh. Kamu tahu dia di mana?”

“Dia guru SMP. Aku sempat tanya pada satpam di sana, aku tidak tahu rumahnya di mana, tapi satpam itu hanya memberikan nama kecamatannya.”

“Ya, udah, kita cari si Virgin itu sekalian membuktikan kesungguhanmu.”

“Gila kamu. Masak harus door to door cari namanya?” Aku semakin pusing cerita dengan Rahman.

“Ya, nggak apa-apa, kan? Kalau kamu serius dan berniat baik, pasti akan diberi kemudahan,” saran Rahman sok bijak. Nasihat ini yang pertama kali membuatku terdiam.

“Besok kita mulai mencari. Namanya kan aneh, pasti nggak bakalan sulit cari namanya.”

Malam ini, aku tidak bisa tidur karena memikirkan pertualanganku besok. Semoga apa yang dikatakan Rahman benar. Namanya tidak sulit untuk dicari. Aku telah gila dengan semua yang ada pada dirinya. Aku takut kalau dia sudah bersuami atau punya tunangan. Tapi, apa pun yang terjadi, aku harus mencari dirinya.

Sudah beberapa RT yang kami cari, namun tak ada yang orang di kampung yang mengenal nama tersebut. Dari tadi pagi sampai sore hari, aku terus bertanya pada ketua RT dalam masing-masing RW, telah aku sebutkan ciri-cirinya dan namanya, tetapi dia belum kutemukan. Malam pun tiba, kami tetap mencarinya. Di rumah ketua RT, kami menemukan nama Virgin.

“Adik-adik ini apanya Virgin?” tanya istri ketua RT.

“Kami….” Belum selesai saya bicara, Bu RT langsung menuduh.

“Jangan-jangan kalian adalah bapak dari anak yang dikandung Virgin?” pertanyaan Bu RT membuat jantungku seakan berhenti berdetak.

“Anak yang dikandung Virgin? Maaf, Bu, saya tidak mengerti.”

“Kalian kenal nggak sama yang namanya Virgin?”

“Nggak. Eh, maksudnya tidak terlalu mengenal kepribadiannya, Bu.”

“Mungkin, yang Ibu maksud bukan Virgin yang kami cari? Apa boleh Ibu menceritakan sekilas tentang ciri-ciri Virgin yang punya anak tanpa bapak itu?”

“Orangnya cantik, putih, dan tinggi.”

Deg. Hatiku berdegup kencang. Mungkinkah ia Virginku?

“Man, dari ciri-cirinya benar. Tapi, kita coba cek dulu kebenarannya?” bisikku pada Rahman.

“Bu, bolehkah saya minta tolong untuk mengantarkan kami ke rumah Virgin yang Ibu maksud? Karena teman saya ini sedang mencari Virgin pujaan hatinya,” kata Rahman meyakinkan.

“Boleh,” kata Ibu RT. Suasana rumahnya begitu menyeramkan, aura ejekan masih terasa. Kakiku mulai lemas. Aku takut, dia benar-benar Virginku.

Aku melihat mata penduduk kampung, tampak nanar memandang kami. Kami seperti terdakwa. Wajah orang-orang sekitar mulai garang saat Bu RT menjelaskan maksud kami bertemu dengan Virgin.

“Untuk apa kalian mau bertemu Virgin? Mau bertanggung jawab? Apa mau mengejek?” tanya seorang Ibu agak sinis.

“Begini, Bu, teman saya ini sedang mencari temannya yang tidak ada kabar. Namanya juga kebetulan Virgin. Kami tidak tahu alamatnya yang pasti. Tetapi, yang kami tahu hanya kecamatannya,” jelas Rahman karena aku sudah tidak mampu berkata-kata aku benar-benar takut dia adalah Virginku.

“Apakah boleh kami menemuinya atau mungkin lihat fotonya saja,” pinta Rahman.

“Virgin sudah tidak mau bertemu dengan siapa-siapa karena laki-laki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab,” jelas ibu tua itu.

“Kalian siapa dan mau apa? Jangan-jangan kalian adalah salah satu pacarnya Virgin?” bentak ibu tua itu.

“Saya Rahman dan ini Riadi. Wah, Bu, kenal saja sama putri ibu belum, mana mungkin bisa jadi pacarnya? Ibu, ibunya Virgin?”

“Bukan, saya bibinya, itu fotonya,” kata ibu tua itu sambil menunjuk sebuah foto cewek yang cantik dan putih.

Saat menyaksikan foto itu, aku langsung tersungkur dan bersujud. Tak lama kemudian, orang-orang yang melihat perilaku langsung mendekati. Wajah mereka tampak semakin beringas. Mereka yakin, akulah penyebab kehamilan Virgin yang ada dalam foto itu. Rahman pun tak bisa berbuat apa-apa, kecuali berusaha menenangkan penduduk yang mulai semakin kasar, ingin memukulku.

“Maaf, Bu. Bukan saya pelakunya,” jawabku tenang.

“Lalu, mengapa kamu sujud segala?” tanya orang-orang.

“Oh, saya melakukannya karena orang yang ada dalam foto itu berbeda dengan Virgin yang saya cari,” jawabku.

Rahman tampak lega. Orang-orang itu pun mundur perlahan. “Maaf, kami salah orang. Kami mohon permisi,” kataku.

Kami pun segera meninggalkan orang-orang itu dengan perasaan lega. Rahman pun demikian. Saya bersyukur karena perempuan itu bukanlah Virginku.

Apakah ini adalah obsesi atau cinta? Virgin telah mengukir namanya dalam setiap saraf pikiranku. Aku kagum dengan semua yang ada padanya. Aku menyukai caranya memandangku dan caranya menunduk setelah melihatku.

Aku memberi tahu Rahman bahwa Virginku bukanlah Virgin biasa. “Rahman, Virgin yang aku maksud adalah Virgin yang pandangannya terjaga.”

“Oke, jangan menyerah, besok kita cari lagi. Dan, kita pasti akan menemukannya,” ucap Rahman.

“Man, apakah hari ini kita bisa menemukan Virgin?” tanyaku dengan penuh keraguan.

“Percaya, Di. Kalau kamu bersungguh-sungguh dengan niat yang baik untuk menikahi Virgin, pasti kamu akan mendapatkannnya walaupun terasa sulit kita mencarinya.” Rahman lagi-lagi dia menceramahiku.

Kami sudah melewati beberapa RW dan RT. Tinggal satu RW dari kecamatan ini yang belum kami tanya. Setelah ini, aku akan mundur. Akan aku pasrahkan pada ibuku tentang calon istriku.

Dari hasil pencarian kami, ada tiga orang yang bernama Virgin. Kami pun meminta alamat ketiga gadis itu, lalu segera mencari rumahnya.

Kami berhenti di sebuah rumah yang aneh, tapi sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Pak RW.

“Maaf, Bu, apakah Ibu tahu Virgin? Alamatnya di sini?” tanyaku pada Ibu setengah baya, tetapi penampilannya masih seperti remaja belia.

“Masnya dari mana? Sebelumnya tidak pernah ke sini, ya?” tanya ibu setengah baya itu dengan genit.

“Kami mau mencari Virgin, Bu. Tapi, kami tidak tahu alamatnya di mana?” kata Rahman menjelaskan.

“Sepertinya kalian belum pernah ke sini, mau virgin yang ciri-cirinya seperti apa?” tanya ibu itu tambah genit, membuatku mau muntah.

“Putih, cantik, dan tinggi,” jelas Rahman kepada ibu itu dengan penuh keyakinan.

“Mas-masnya berani bayar berapa? Kalau masih virgin, ya tentunya mahal, Mas, apalagi dengan ciri-ciri seperti itu,” jelas ibu genit itu.

“Maksud Ibu apa? Saya tidak mengerti. Kami mencari gadis yang bernama Virgin, kok pakai bayar?”

“Lho, Masnya mau cari cewek yang namanya Virgin? Bukan mau mencari virgin?”

“Jadi, maksud Ibu, kami laki-laki genit yang suka mencari kayak begituan? Wah, Bu, maaf kami salah orang,” jelasku pada ibu genit itu.

“Maaf, Bu, kami permisi. Maaf, telah mengganggu.” Kami pun pergi meninggalkan tempat aneh itu.

“Man, sepertinya kita sudahi saja pencarian ini. Kok, bisa-bisanya ketua RW di sini memberikan alamat tersebut kepada kita dan aku takut kedua alamat ini pun akan sama seperti alamat yang tadi.”

“Ini adalah kesempatan kita terakhir untuk menemukan Virgin pujaan hatimu.”

“Tapi, kalau begini, caranya aku sudah menyerah. Dia memang sangat sulit untuk kutemukan.”

Rahman selalu memberikan semangat kepadaku untuk tetap mencari Virgin. Dia menyakinkan aku pasti di antara kedua nama Virgin yang belum kami temui, salah satunya adalah Virgin yang aku cari.

“Maaf, Bu, saya mau tanya alamat ini ada di mana?” tanyaku.

“Adik-adik ini mau cari siapa?”

“Virgin, Bu.”

“Virgin yang pakai kerudung, cantik, putih, dan tinggi?”

“Iya, Bu, benar.” Rahman sangat bersemangat menjawab pertanyaan ibu ini seakan-akan dia tahu betul siapa Virgin.

“Kalian lurus saja. Ada gang sebelah kiri, kalian masuk saja dan di situ ada gasebo. Di depan gasebo, itulah rumahnya,” jelas ibu ini.

Langkahku mulai ringan. Aku sangat berharap, dialah Virginku. Kami pun telah masuk gang. Kami melihat gadis berkerudung sedang duduk-duduk berdekatan dengan seorang laki-laki.

“Man, jangan ke sana dulu,” perintahku pada Rahman.

“Lho, kenapa?”

“Aku takut dia benar-benar Virgin yang aku cari,” jawabku dengan suara parau.

“Kita tanyakan saja pada orang itu yang duduk di warung. Apakah benar gadis itu Virgin.”

“Maaf, Pak, apakah gadis yang duduk sama laki-laki di gazebo itu namanya Virgin?”

“Iya, benar. Adik siapa?”

“Kami temannya. Laki-laki yang duduk dengannya siapa, Pak?”

“Sepertinya pacarnya.”

“Terima kasih, Pak, kami mohon pamit saja.”

“Di, kamu ini bagaimana, sih? Belum juga melihat wajahnya kamu sudah pulang? Siapa tahu dia benar-benar Virgin yang kamu cari. Coba kamu perhatikan dari belakang saja dia terlihat cantik,” oceh Rahman.

“Virgin yang kucari tidak seperti itu, memang aku belum melihat wajahnya, tetapi aku yakin dia bukan Virginku.”

“Kita hanya punya satu kesempatan lagi. Semoga yang terakhir ini adalah Virgin yang aku maksud.”

Kami terus mencari Virgin walau sepeda motorku sudah terdengar sangat lelah. Inilah RT yang terakhir, RT yang akan menjawab pencarianku.

“Man, berhenti. Sepertinya, itu mobilku, apakah ibuku ada di sana?”

“Iya, Di, itu mobilmu. Sebentar, Di, biar aku yang ke sana, pura-pura lewat sekalian mencari rumah Virgin.”

“Oke, makasih, ya, Man.”

Rahman memang sangat lihai apabila bersandiwara. Dia sekarang mulai mencari nomor rumah Virgin dan kali ini dia akan melewati rumah yang ada mobilku. Dia mulai melihat ke dalam rumah yang di depannya ada mobilku. Dia menyapa seseorang di rumah itu, mungkin ibuku yang dia sapa. Untuk apa ibuku ke sana, aku tidak pernah tahu kalau ibuku punya saudara di sana.

“Rahman, mengapa dia sangat lama ada di dalam rumah itu? Ngapain dia di sana?” bisikku dalam hati.

“Ngapain kamu di sana lama sekali? Sebelah mana rumahnya Virgin? Di dalam rumah itu ada ibuku? Senyam-senyum, ditanya malah senyam-senyum. Kamu nggak bilang kan kalau aku ada di sini?”

“Di….” Rahman tetap tersenyum.

“Aku tidak tahu, apakah Virgin yang kau maksud itu dia. Tetapi, kalau menurutku, sih, dia gadis yang tidak sangat cantik dan kulitnya juga tidak begitu putih. Tingginya pun biasa. Kabar yang paling spektakuler, Virgin ada di rumah itu, rumah yang sekarang juga ada ibumu.” Rahman semakin tidak kuat menahan tawa.

“Ada apa, sih, Man? Ibuku ngapain di sana?” tanyaku penuh tidak sabaran.

“Ya, itu, Ibumu sedang melamar gadis yang namanya Virgin di rumah itu sesuai alamatnya dengan alamat ini. Maka dari itu, kamu segera saja ke sana, takutnya dia bukan Virgin yang dia maksud?”

“Eh, gimana ciri-cirinya?”

“Ya, pokoknya, beda dengan Virgin yang kamu deskripsikan padaku. Dia manis, tapi tidak bisa dikatakan sangat cantik kata kamu itu dan kulitnya tidak terlalu putih. Ya, kulit Indonesia banget dan dia juga tidak terlalu tinggi. Biasa, sih. Kenapa kamu senyum-senyum, bukannya sedih Virgin yang kamu maksud belum ditemukan, malah kamu mau dijodohkan dengan Virgin yang beda,” tanya Rahman padaku.

“Man, maaf, ya, sebenarnya deskripsi yang aku ceritakan kepadamu bukan deskripsi fisiknya.”

“Maksudnya?”

“Menurut informasi yang aku dengar dari satpam sekolah tempat dia mengajar, Virgin adalah gadis yang sangat cantik hatinya, kulitnya putih karena tidak ada satu pun tangan laki-laki yang menyentuhnya. Kulitnya tetap putih karena tidak ada kotoran yang ada di tubuhnya. Dia adalah gadis yang tinggi karena keimanannya. Dialah gadis yang mulia. Dan, matanya selalu terjaga untuk tidak melihat yang tidak berhak dia lihat.”

“Dasar kamu, ya, sudahlah kamu cepat lihat ke sana, siapa tahu dialah yang kau maksud!” Aku berlari, tidak sabar ingin melihat gadis pilihan ibuku, dan aku tidak sabar melihat gadis terakhir yang bernama Virgin di kecamatan ini.

Aku bangga pada ibuku. Pilihannya benar. Dia memilihkan Virgin yang selama ini aku cari. Walau sulit, dia masih ada. (*)

 

 

Anna Fatul Ulum, adalah Mahasiswa Universitas Negeri Malang, Jurusan Sastra Indonesia. Lahir di Sumenep, pada 28 Februari 1987. Penulis pernah menjuarai Lomba Menulis Artikel Se-Universitas Negeri Malang. Cerpennya yang berjudul Pantai dan Kebisuan diterbitkan dalam antologi cerpen FLP oleh penerbit Aulia Press.

 

Advertisements