Archive for July, 2010

Kemarau
July 27, 2010


Cerpen Andrea Hirata (Kompas, 25 Juli 2010)

BARANGKALI karena hawa panas yang tak mau menguap dari kamar-kamar sempit yang dimuati tujuh anak. Barangkali lantaran mertua makin cerewet karena gerah. Barangkali karena musim kemarau telanjur berkepanjangan, kampung kami menjadi sangat tidak enak setelah bulan Maret sampai September. (more…)

Advertisements

Mbah Dul Karim
July 27, 2010


Cerpen Sam Edy Yuswanto (Republika, 25 Juli 2010)

MASIH seperti kemarin, tangan sebelah kanan Mbah Dul Karim terlihat menenteng tasbih sambil memutarnya pelan. Sementara bibirnya terlihat komat-kamit layaknya dukun yang sedang merapal mantra, seperti yang pernah kulihat di sinetron teve semalam. Aku yang masih berumur hijau pun lantas bertanya pada ibuku. (more…)

Karna Aku Maria
July 27, 2010


Cerpen Ana Balqis (Jawa Pos, 25 Juli 2010)

DIALAH perempuan itu. Tidak segan mengaku Jawa meski lama di kota-kota sebesar Paris atau Kanada atau Jepun. Kerap terbang mengelilingi dunia bersama berus dan kanvasnya. (more…)

Bola
July 27, 2010


Cerpen Putu Wijaya (Suara Merdeka, 25 Juli 2010)

AKU merayakan kemenangan Spanyol dengan membeli sebuah bola. Dengan bangga kuserahkan bola itu kepada anak-anak yang suka main bola merecoki jalanan sambil berpesan: (more…)

Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih
July 27, 2010


Cerpen Yusi Avianto Pareanom (Koran Tempo, 25 Juli 2010)

ANWAR Sadat menemui ajalnya pada hari pertama ia menginjakkan kaki di Jakarta. Ia datang dari Semarang. Usianya pada hari naas itu 28 tahun. (more…)

Kepura-puraan
July 18, 2010


Cerpen Fandy Hutari (Republika, 18 Juli 2010)

HARI sudah sore. Lembayung senja memayungi Kardi yang berjalan dengan sepeda motor tuanya. Kardi kembali memanjakan diri ke warnet di dekat kantornya sehabis bekerja seharian. Sore ini, Kardi ingin sekali mengobrol bersama teman-teman masa kuliahnya melalui situs jejaring sosial, Facebook. (more…)

Ranggalawe Gugur
July 18, 2010


Cerpen Gunawan Maryanto (Jawa Pos, 18 Juli 2010)

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

dan duka maha tuan bertakhta [1] (more…)