Cerpen Qiyash (Republika, 20 Juni 2010)

Ilusi ilustrasi Rendra

MALAM hari baginya neraka. Dosa tak penting lagi. Dalam kamus hidupnya, dosa itu adalah metamorfosis dari pahala. Tiada pahala tanpa dosa. Maka, beruntunglah pahala memiliki dosa di sampingnya. Tanpa pikir panjang, ia meraih tasnya. Berwarna merah mencolok. Ia memakai minidress ketat juga berwarna merah mencolok dan sepatu berhak lima sentimeter yang baru dibelinya di Pasar Sentral. Kakinya sudah menginjak pinggir kota. Kota yang penuh lampu-lampu ritmik. Dari gang sempit, bau dan pengap. Ia ngos-ngosan. Berlari dikejar bayangan. Bayangan itu antara nyata dan tidak. Ketika ia memperjelas tatapannya, bayangan itu tiba-tiba lenyap. Namun, bayangan itu sesekali muncul ketika matanya tak jaga. Wajahnya tak jelas. Hanya warna putih yang bisa tertangkap.

Bayangan itu seakan-akan menginginkan dirinya. Menginginkan nyawanya. Juga, seperti bayangan kesalahan yang terus membuntutinya. Ini sudah hari ketiga ketika bayangan itu datang. Dan, pertama kali muncul di mimpinya. Ia berusaha menutupi takutnya dengan bersikap acuh dan semakin menggila. Tapi, sekuat ia memberi tekanan, bayangan itu semakin kuat menghantui malam-malamnya.

Klakson pete-pete menyadarkannya dari pertarungan rasa takut itu. Ia mengakhiri tarikan napas kelelahannya dan bangkit dari posisi setengah rukuk. Sopir pete-pete bergantian membunyikan klaksonnya. Menawarinya tumpangan. Sambil meneriakkan kata-kata gombal murahan khas buaya kampung. Inilah perjalanan menuju neraka.

Akhirnya, tiba di mulut neraka. Kau pasti membayangkan neraka tak seindah ini. Neraka ini adalah surga dunia. Isinya hanyalah pemburu surga dunia. Manusia-manusia yang berlumuran nafsu, haus kesenangan, hanya mengenal uang dan wanita. Ini benar-benar mulut neraka, bahkan bayangan itu pun tak mau mendekat. Bayangan itu tak pernah sekalipun menampakkan dirinya di tempat ini. Itulah mengapa ia selalu merasa aman berada dalam miniatur neraka ini. Baginya, tempat ini adalah penyelamat hidupnya dari kecemasan dan kelaparan hari esok meskipun kadang membayangi hidupnya akan kecemasan kekal mendatang.

Namun, sudah tiga hari ini, ia dongkol. Kedongkolan pertanda besok akan lapar. Nihil. Hanya nihil-lah yang tergambar dalam realitas ataupun angan-angan. Tempat ini tak lagi menawarkan kebahagiaan hari esok. Ia merasa seperti barang lama yang tetap dipajang, tetapi sudah usang, diutak-atik pelanggan-pelanggan sebelumnya. Melirik pun tak ada. Yang tercium hanyalah bau usang. Bagaimanapun manisnya ucapan merayu, tetap tak menarik perhatian. Dia tahu, dirinya telah mengering dan gugur bersama daun-daun kering lainnya. Bahkan melapuk. Daun-daun muda yang semakin produktif menggeser posisinya.

Dia masih cantik. Cantik karena make up tebal yang menopeng di wajahnya. Menutupi keriput-keriput wajahnya. Apakah isi neraka hanyalah perempuan berwajah cantik dan bertubuh montok? Atau, pria-pria kelas eksekutif berkantong tebal. Ia termenung menatap kondisi di sekelilingnya. Setidaknya, ia masih punya harapan untuk bermimpi. Bermimpi menuju surga. Meskipun bau surga tak mau mendekat dan tak mau menghinggapi bunga tidurnya.

“Mbak, kok duduk saja. Nggak kerja, ya?” wajah manis nan lugu menghampirinya. Umur gadis itu masih 15 tahun.

Wajah sinis itu tersihir menyungging. “Iya. Kayaknya Mbak mau berhenti dulu.”

“Lho? Mbak, kok gitu? Terus, yang biayain sekolahnya Adi siapa, Mbak?”

“Nanti kubawa ke ayahnya dan meminta tanggung jawab.”

“Tapi, Mbak tahu siapa ayah Adi? Bukannya selama ini Adi dibiayai sama Mbak?” gadis lugu itu sedikit pun tak punya rasa cemas. Kenyataan seperti itu juga akan menimpa dirinya.

“Mbak tahu,” jawabnya tidak yakin. Lalu, menunduk lesu.

Tiba-tiba, seorang perempuan berdandan mewah, make up menor, dan tampang ganas datang. Ditemani rokok yang ia pegang, terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Sesekali, ia mengembuskan asap di kedua katup bibirnya yang marun. Wanita itu memanggil Dina.

“Sana, Din. Mbak Leli udah manggil kamu tuh. Rezekimu datang. Ntar kalau kamu nggak dipakai lagi baru menyesal,” perintahnya kepada gadis barusan.

Ia semakin menyadari. Begitulah hukum alam. Semuanya pasti ada regenerasi. Dina kini sangat diminati. Melihat badannya yang masih segar bugar. Kulit wajahnya masih kencang dan halus. Tanpa make up pun Dina masih cantik. Tapi, hukum alam pun pasti menghinggapi Dina. Yang suatu saat akan bernasib sama dengannya. Kasihan. Dina sama sekali tak tahu apa-apa.

Ratna masih duduk di salah satu sudut bar. Ditemani dengan minuman kesukaannya. Beraroma alkohol. Matanya menerawang ke sekelilingnya. Tiba-tiba, titik pandangnya berubah. Semua titik pandang yang ia lihat adalah penghuni neraka. Semuanya hanyalah bahan bakar api neraka. Ruangan itu berubah menjadi nyala api membentuk dinding besar. Minuman di gelasnya berubah menjadi darah dan nanah. Musik berganti suara bara api yang membakar panas, cambukan tali raksasa, desisan ular yang siap memangsa, jeritan penghuni neraka yang kesakitan.

Orang-orang yang menari tak lagi bergerak gemulai mengikuti musik. Gerakannya berubah, badan meliuk-liuk, menahan siksa yang pedih. Bising. Tambah bising dan semakin bising. Suara-suara jeritan itu memekakkan telinganya. Hingga membuat gendang telinganya mau pecah. Sesosok makhluk aneh tiba-tiba mendekatinya. Semakin dekat. Makhluk itu membawa cambuk raksasanya, setrika raksasa, gunting raksasa, dan peralatan-peralatan aneh lainnya. Makhluk itu serupa dengan makhluk yang mengejarnya tiga hari ini dengan wajah yang juga tak dapat ditebak. Makhluk itu bersiap mengeluarkan cambuknya. Di belakang makhluk itu, ada ular besar yang bersiap memangsanya. Sedari tadi mengeluarkan lidahnya. Keluar masuk.

Tubuhnya gemetar. Keringat mengucur deras membasahi tubuhnya. Wajahnya pucat. Bibirnya membiru. Ia beranjak dan segera lari meninggalkan tempat itu. Makhluk dan ular itu terus mengejarnya. Ia terus berlari. Jalanan tiba-tiba dihampari duri dan jeruju. Pepohonan menjadi api. Kendaraan menjadi binatang buas yang siap menerkam. Tak ada tempat yang layak untuk bersembunyi. Semuanya bersekongkol untuk menangkap Ratna.

Semakin jauh ia berlari, tiba-tiba telinganya menangkap suara rinai merdu, lembut, dan tenang. Suara itu timbul tenggelam di tengah jeritan-jeritan manusia yang kesakitan. Semakin ia berlari, suara itu semakin jelas terdengar. Sama sekali berbeda dari alunan musik para musisi. Lebih indah dari simfoni Mozart atau Beethhoven. Suaranya merinai aneh, namun merdu. Akhirnya, ia sampai di sumber suara itu. Ia tiba di sebuah halaman. Para makhluk yang megejarnya semakin menjauh, tak mampu lagi menjangkaunya. Seperti ada sebuah pembatas yang menghalanginya masuk di kawasan ini. Makhluk itu akhirnya lenyap, tak membekas. Perasaannya lega. Keringatnya tiba-tiba kering. Berganti rasa sejuk yang menenangkan batinnya. Menembus masuk ke kulitnya. Jauh lebih sejuk dari angin musim dingin. Kesejukan yang tak ada tandingannya.

Langkah kakinya bergerak menyusuri tempat itu. Semuanya terlihat indah. Sungai-sungai mengalirkan air yang berkilauan. Jernih, riak, dan gemercik. Pepohonan berdiri kokoh dan rindang. Dilengkapi dengan buah-buahan, ruah dan segar. Istana megah menghampar hingga menembus langit. Penghuninya berwajah teduh, berseri, bercahaya, dan tersenyum ramah kepadanya. Semua orang memakai pakaian berbahan sutra, bergelang emas, dan mutiara. Semuanya sedang asyik bercengkerama, penuh canda tawa.

Ia singgah di sebuah peristirahatan. Di bawah pohon teduh lagi nyaman. Di sampingnya, mengalir sungai. Ia menggayungkan tangannya ke air sungai itu. Lalu, membasuh wajahnya. Benar-benar segar. Sesegar tegukan air dingin para kafilah yang dilanda kehausan. Kemudian, ia berbaring menghilangkan penatnya. Ia mengatup kan matanya. Perlahan. Seluruh anggota tubuhnya mengikuti, tertunduk lesu. Terbuai oleh senandung yang melenakan. Semakin jauh mengalun. Suara itu semakin melarutkannya dalam ketenangan. Hingga terlelap.

Rinai suara itu kembali membangunkannya. Membuka matanya perlahan. Ia tersadar. Semuanya berubah. Hidupnya seketika berestorasi. Suara itu berubah menjadi azan yang tengah berkumandang. Tubuhnya terbaring di atas altar sajadah. Matanya tertuju ke atas. Melihat plafon kubah masjid yang megah. Ilusi itu membawanya ke tempat ini. Tempat yang nyaman dalam ilusi berkedok mimpi. Rangsangan yang berasal dari perintah otak menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Ia beranjak dan segera mengambil air wudhu. Ia membasuh wajahnya. Rasanya seperti salsabil dalam ilusinya. Inilah pertama kali ia menghadap Tuhannya pada usia yang menginjak renta. Karena, cercah itu masih ada. (*)

 

Keterangan:

Pete-pete adalah nama lain dari angkot yang digunakan di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan.

 

 

Qiyash adalah nama pena dari Bulqia Mas’ud, lahir di Polewali, 30 November 1989. Saat ini, ia mengambil jurusan Sastra Inggris di Universitas Hasanuddin, Makassar. Aktif di Forum Lingkar Pena (FLP) Makassar dan menulis cerpen. Karyanya sudah dimuat di beberapa media massa. Dua buah cerpennya telah dibukukan dalam Antologi Aji Bello: Album Cerita Pilihan bersama anak-anak FLP Ranting Unhas.

Cerpen ini meraih juara kedua dalam lomba menulis cerpen Islami Semarak Ramadahan 2009 antarmahasiswa yang dilaksanakn oleh Pengurus Harian Mushala Al Afiyah Universitas Hasanuddin.

Advertisements