Gerobak Bakso


Cerpen Rifan Nazhif  (Republika, 6 Juni 2010)

Gerobak Bakso ilustrasi Rendra

SUARA itu menggema lagi memukul-mukul lorong hatiku. Tapi, aku masih saja terus berdiri di sini. Lumayan, pembeli lagi mengantre. Kalau aku pergi demi memenuhi kehendak suara itu, aku akan kehilangan banyak pembeli. Mereka mungkin merasa disepelekan, kemudian mendendam untuk tak singgah lagi di gerobak baksoku. Lagi pula kasihan, mereka sedang kelaparan. Mereka hanya memiliki waktu sempit di sela jeda kantor atau toko tempat mereka bekerja demi mengganjal perut dengan menikmati baksoku yang kata orang terkenal superlezat.

“Ris, kau tak shalat dulu? Dengar tuh, sudah azan!” Rahib sudah mengenakan topi haji dan menyelempangkan sarung di bahu. Dia juga seorang penjual bakso seperti aku. Tapi, dia selalu beranjak pergi setiap kali mendengar suara azan menggema dari Masjid Agung. Seringkali dia mengatakan, shalat di awal waktu lebih dihargai Allah ketimbang di akhirnya. Lagi pula bisa sekalian berjamaah. Perkara rezeki, Allah yang mengatur.

“Duluanlah! Aku sebentar lagi ke sana. Tuh, pembeli lagi mengantre!”  ucapku. Rahib mengedikkan bahu sambil bergegas pergi. Aku bersyukur dia lebih mementingkan memenuhi panggilan Allah ketimbang melayani pembeli. Berarti aku selangkah lebih maju. Seluruh pembeli akan masuk ke gerobak baksoku. Mereka kemudian memilihku sebagai penjual bakso paling top. Paling mementingkan kebutuhan pembeli.

Benar saja, orang-orang itu langsung menyerbu gerobak baksoku. Meminta bakso saja, meminta dicampur mi, meminta dibanyakkan saos, dibanyakkan sambal, jangan terlalu pedas! Wah, sepertinya aku harus memiliki tangan lebih dari dua. Seharusnya Allah bermurah hati memberiku tangan empat atau enam, agar aku lebih mudah melayani pembeli. Begitu sering tebersit pikiran konyol di benakku.

Uff! Melelahkan! Peluh menganak sungai di keningku. Pembeli silih berganti duduk di bangku panjang itu. Sebagian malahan rela berdiri sambil berbincang dengan temannya. Pembeli itu, menurutku, ada yang berjanji sebagai pelanggan tetapku, karena mereka mengangkat dua jempol tangan atas kelezatan baksoku. Hmm, ini memang keahlianku. Tiada duanya di lorong pasar yang becek ini. Kecuali mungkin bakso Rahib bisa menyamaiku. Tapi, aku tahu dia tak murni berusaha sendiri mengadon baksonya. Kami tinggal di bedeng sewaan yang berdempetan. Maka, wajar saja aku mencurigai sekali waktu dia berhasil mencuri-curi resep rahasiaku.

“Belum shalat, Ris?” Di sela-sela melayani pembeli, Rahib bertanya. Aku baru sadar dia sudah pulang dari masjid. Roman wajahnya cerah. Masih ada tetes demi tetes air di rambutnya. Barangkali seusai shalat, dia meraupkan air ke rambut agar otak dan kepalanya dingin melayani pembeli.

“Belum! Kau lihat pembeliku berjubel. Kasihan mereka,” ucapku. Semangkok bakso langsung berpindah dari tanganku ke tangan pembeli.

“Bukannya kasihan kepada dirimu sendiri, Ris? Ya, kasihan kalau-kalau rezekimu kabur. Tapi menurutku, lebih baik tunaikan dulu shalat. Selepas itu kau bekerja serius. Tak melulu memikirkan akan shalat sebentar lagi. Tak melulu bimbang meninggalkan gerobakmu yang ditongkrongi pembeli.”

Batinku menggerutu. Pasti si Tembem ini ingin merebut pembeliku. Selangkah saja aku bergerak meninggalkan gerobak baksoku, seluruh pembeli akan berpindah ke gerobaknya. Berarti impas sudah. Pembelinya yang tadi berlari ke gerobakku, diganti pembeliku yang berpindah ke gerobaknya. Aku tak ingin itu terjadi. Biarlah pembeli bakso Rahib yang hilang, sementara aku tidak. Allah pasti sangat memahami hamba-Nya. Mencari rezeki itu adalah perintah. Berjihad. Jadi, Allah maklum kalau hamba-Nya terlambat melaksanakan shalat karena sibuk berjihad.

Waktu berjalan cepat. Sejam setelah shalat Zuhur telah berlalu. Dua jam sesudahnya, sehingga nyaris menyambut shalat Ashar. Rahib kembali mengingatkan. “Hampir Ashar, Ris! Pergilah!”

“Tanggung, Hib! Tak kau lihat perempuan gemuk itu. Kasihan, tahu!” Aku tetap mengotot. Rahib menoleh ke arah perempuan gemuk itu. Ya, ya, Rahib pasti merasa kasihan juga sepertiku. Tentu manusia super lapar seperti perempuan itu, akan merasa terganggu bila laparnya yang sangat terganjal. Aku menebak dia juga emosian. Sekali saja aku memintanya berpindah ke gerobak bakso Rahib, maka aku harus siap-siap dibentaknya.

Suara itu menggema lagi memukul-mukul lorong hatiku. Waktu Ashar tiba. Rahib mengingatkan, lebih tepatnya memarahiku. Dia mengatakan aku telah lalai menjalankan perintah Allah.

“Kau telah kehilangan shalat Zuhur, Ris!”

“Ah, hanya sekali, Hib!” Pembeliku mulai sepi.

“Sekali kau bilang? Yang kemarin-kemarin bagaimana?”

“Ah, kau seperti tak tahu pembeliku berjubel!” kilahku. Pembeli kembali berdatangan.

“Sekarang shalat Ashar sama-sama. Tutup dulu daganganmu.” Rahib setengah memaksa.

“Rezeki datang, Hib!” Aku tak menoleh lagi kepada tetanggaku itu. Wajah-wajah lapar pembeli membuat naluri dagangku terlecut. Langsung tak kupedulikan Rahib apakah dia sudah mengenakan peci haji dan menyelempangkan sarung di bahu. Peduli amat!

Hmm, aku tersenyum lega. Rezeki dari dulu dan sekarang bertumpuk dan semakin bertumpuk. Aku telah menyisihkan sebagian untuk modal pulang kampung kemudian bertemu istri dan anakku. Oh, ya, sudah berapa lama aku tak pulang menjenguk mereka? Sebulan, dua bulan? Ya, Allah, hampir empat bulan. Tak terasa rinduku menggumpal menyesak dada. Aku bersalah telah meninggalkan mereka sekian lama, selain hanya sesekali menelepon mereka lewat warung telepon.

Akhirnya, pukul enam petang semua bubar. Aku tak sadar Rahib sudah selesai merapikan tempat jualannya, dan seluruh barang-barang, kecuali gerobak, telah berada di atas becak langganannya. Dia melirikku. Dia tersenyum. Pasti dia ingin bertanya apakah aku sudah shalat Ashar. Tapi, cepat-cepat diurungkannya. Dia yakin aku tentu hanya menjawab ‘belum’!

Aku mengikuti ritualnya. Meletakkan barang-barang di atas becak langgananku. Meminggirkan gerobak hingga menyentuh dinding toko yang sudah tutup, kemudian meraba-raba dompet pinggang yang sudah penuh. Wah, sedikit lagi niatku akan tersampaikan.  Melihat istriku sumringah setelah kugenggamkan ke tangannya kalung emas delapan belas karat yang pernah diingatkannya kepadaku terakhir kali aku meneleponnya. Mendengar jerit senang anakku ketika melihat di tangan bapaknya ini ada sepeda mini impiannya. Empat bulan lalu dia dengan berseloroh mengatakan kepadaku ingin memiliki sepeda mini. Itu pun kalau akhirnya aku mempunyai cukup uang untuk membelikannya.

Istriku, aku memenuhi janji seorang suami. Anakku, bapakmu ini telah berhasil mewujudkan anganmu.

Aku mengikut langkah kaki Rahib yang tegas dan gegas. Kaki itu telah lama terpacak menungguku. Sedemikian sabar seperti pemiliknya yang berulang kali tabah menyuruhku shalat tepat waktu. Aduhai, apa yang dituturkannya berulang-ulang kepadaku adalah benar. Tentang shalat tepat waktu. Tentang shalat berjamaah.

Selama kami sama-sama di kampung, sebenarnya boleh dibilang akulah yang paling dekat dengan masjid. Dekat dengan masjid, bukan berarti rumahku hampir berdempetan dengan masjid. Tapi, jiwaku yang seolah asyik-masyuk memenuhi seantero rumah Allah itu.

Aku paling senang iktikaf di sana sekali seminggu, sejak Isya sampai selepas Subuh. Aku hampir tak pernah terlambat shalat fardu dan sekaligus merampungkannya dengan berjamaah. Aku selalu lebih dulu memegang mikrofon sementara Rahib masih di rumahnya. Kami seolah berlomba-lomba azan.

Tapi sekarang, setelah pelanggan baksoku lumayan melimpah, aku telah berulang kali tak shalat fardu. Memang Subuh, Maghrib, dan Isya, tetap kulaksanakan meski lebih sering terlambat. Pastinya aku tak melaksanakannya dengan berjamaah. Tak seperti Rahib yang selalu menyempatkan diri mengunjungi mushala yang tak jauh dari bedeng sewaan kami. Bahkan, kerap aku mendengar suaranya yang merdu ketika azan. Ah, semoga Allah memaafkanku. Semoga Dia memahami betapa aku butuh uang banyak demi memenuhi kehendak anak-istriku.

“Ris, kita shalat Maghrib dulu di Masjid Agung, ya! Sudah hampir azan, nih!” Rahib menghadang langkahku.

“Ah, aku di rumah saja. Capek, Hib! Biarlah barang-barang kita aku yang mengiringi sampai ke bedeng.”

“Shalatlah dulu! Tukang becak juga sabar menunggu. Lagi pula kita berempat bisa shalat berjamaah bersama-sama,” sarannya. Dua tukang becak itu menatapku bersaling-silang menatap Rahib dan barang bawaan di becak masing-masing. Aku yakin mereka enggan menuruti kemauan Rahib. Kutahu mereka puasa saja malas, apalagi sampai shalat fardu, apalagi hingga harus berjamaah.

“Badan lengket, nih!”

Rahib tersenyum sambil beranjak meninggalkanku dan dua tukang becak yang langsung gigih mengayuh becak masing-masing. Tak sampai setengah jam seluruh barang-barang sudah sampai di halaman bedeng sewaan. Rahib juga telah bersama kami, memasukkan barang-barangnya ke bedengnya. Sementara aku memasukkan pula barang-barangku ke bedengku.

“Jangan lupa shalat Maghrib!” Rahib mengingatkanku. Aku mengangguk ragu-ragu. Kututup rapat pintu bedengku. Aku duduk berselonjor di lantai sambil menghitung penghasilan dari dompet pinggangku. Lumayan banyak. Kutambahkan dengan uang di dalam kotak simpananku. Sepertinya cukup membeli sebuah sepeda mini sederhana dan kalung emas delapan belas karat. Besok pagi aku akan libur berjualan. Kemudian membeli sepeda dan kalung itu di pasar. Petang hari barulah pulang ke kampung menumpang bus malam.

Khayal yang melambung ini, membuatku tak sadar berbaring di atas lantai dan terlelap. Aku tak sadar, sehingga pagi-pagi benar aku merasa seseorang telah mengguncang-guncang bahu sambil memanggil namaku dengan nada panik.

Kukucek mata. Kulihat orang itu adalah Rahib. Matanya melotot. Wajahnya pasi. Katanya, “Kau lupa menutup pintu bedeng ini ya? Atau adakah maling yang masuk ke mari? Kau merasa kehilangan apa-apa tidak?” Dia memberondongku. Kulihat pintu terkuak lebar.

Aku baru seratus persen terbangun saat menyadari kotak simpanan dan dompet pinggangku telah kosong melompong. Hasil pencarianku selama empat bulan telah raib. Pasti maling telah menggondolnya. Aku teringat hanya merapatkan  tanpa mengunci pintu bedeng tadi malam. Ya, Allah, lututku lemas. Hilang sudah harapanku pulang kampung  dan memenuhi keinginan anak-istriku.

“Ada barangmu yang hilangkah?” tanya Rahib.

Aku diam.

“Kau sudah shalat Subuh?”

Aku membisu. (*)

 

 

Palembang, 1 Juni 2010

Rifan Nazhif, lahir di Medan, 18 Mei 1972. Mulai menulis cerpen dan puisi sejak tahun 1989. Beberapa karyanya pernah dimuat di beberapa media massa, baik lokal maupun nasional. Penulis kini tinggal di Palembang.

2 Responses

  1. Ngomong-ngomong 3 surat kabar nasional di hari minggu memuat 3 cerpen cerpenis dari Sumatera Selatan…Selama buat Rifan di Republika…. MUAAAANNNTAAAAFFFFF

    Like

  2. Makasih, mas. Ayo, kita kebut menulis dan menulis… Heee

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: