Archive for June, 2010

R a s a
June 27, 2010


Cerpen Putu Wijaya (Jawa Pos, 27 Juni 2010)

MEMANDANGI koran, melahap foto doktor termuda Indonesia I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi WS, 27 tahun, mataku tidak berkedip. “Cantik, badannya bagus, senyumnya mempesona,” gumanku memuji. “Kalau aku masih muda, aku akan datang kepadamu dan langsung melamar.”

Ami yang sejak tadi di belakangku nyeletuk, “Begitu ya? Bagaimana kalau ditolak?” Aku mengangguk. (more…)

Kampung Lapar
June 27, 2010


Cerpen Mashdar Zainal (Republika, 27 Juni 2010)

Kampung Lapar ilustrasi Rendra

SETELAH mendengarkan sebuah cerita, Mahisa tak jenak lagi memejamkan kedua matanya, apalagi makan dengan tenang. Semua pasti sepakat bahwa cerita itu memang benar-benar keramat. Ya, cerita tentang masa, bahwa suatu saat nanti matahari akan tergelincir dari ketinggiannya. Matahari akan mengapung beberapa senti di atas kepala manusia. (more…)

Pergi ke Toko Wayang
June 27, 2010


Cerpen Gunawan Maryanto (Koran Tempo, 27 Juni 2010)

AKHIRNYA aku mengajakmu ke toko wayang. Itu janjiku sejak tahun lalu. Barulah sekarang aku bisa melunasinya. Betapa sulit menjelaskan kepadamu bahwa wayang kulit itu harganya mahal. Bahwa aku harus mengumpulkan uang berbulan-bulan atau terpaksa menghutang untuk bisa membelinya. Kamu hanya tahu bahwa aku sayang kamu dan aku akan memberikan segalanya untukmu. Kamu benar. Aku akan memberikan seluruh yang kupunya untukmu. Anakku satu-satunya. (more…)

Tiga Kata untuk Emilie Mielke Jr
June 27, 2010


Cerpen Norman Erikson Pasaribu (Suara Merdeka, 27 Juni 2010)

TIM medis memilih untuk mengatakan sebagai: “Ada gerimis di paru-paru ibumu.“ Tentu saja kemudian Emilie Mielke Jr, anak gadis sematawayangmu yang ber-IQ 200 itu, memilih tak percaya. Sebab untuk menciptakan gerimis, sudah seharusnya ada awan Kumulus, jelasnya kepada para perawat yang memberitahunya ketika mereka makan di kafetaria. Sementara segala yang disebut awan adalah air yang menguap lantaran panas matahari, katanya lagi. Dan di paru-parumu, dia yakin tidak ada matahari. Dia sungguh meyakini itu meski tak pernah mengubek-ubek dadamu—sedangkan dokter yang sudah melakukan itu, meragukannya. Namun, mengapa malam ini kau malah memilih mengatakan padanya bahwa ada badai di paru-parumu? (Gerimis saja dalam versinya adalah tidak mungkin, bagaimana bisa ada badai?) (more…)

Redi Kelud
June 27, 2010


Cerpen Han Gagas (Kompas, 27 Juni 2010)

AKU lahir di tengah keluarga yang berbeda. Bapakku tunawicara, ibuku suwung kalau kambuh jadi begitu menakutkan. Marno, kakak pertama, suka berendam seharian. Kalau dilarang berendam, paling tidak ia mandi empat kali sehari, pukul 8, 11, 2, dan 4. (more…)

Anak-anak Masa Lalu
June 20, 2010


Cerpen Damhuri Muhammad (Jawa Pos, 20 Juni 2010)

BILA tidak ingin celaka, jangan melintas di Jembatan Sinamar pada waktu-waktu lengang, apalagi tepat di saat berserah-terimanya ashar dan magrib! Bukankah begitu sejak dulu, petuah para tetua, perihal jembatan yang tak pernah lekang dan usang itu? Namun, sebagaimana titian biasa runtuh, pantangan biasa dilanggar, bukankah pula, dari masa ke masa, selalu ada gerombolan anak-anak kampung ini, yang diam-diam hendak menyingkap rahasia tersuruk di sebalik pantang dan larang yang terus dimaklumatkan? (more…)