Keteguhan Hati Suadji


Cerpen M Anshor Sja’roni (Republika, 30 Mei 2010)

Keteguhan Hati Suadji ilustrasi Rendra

HIDUP Suadji dan keluarganya mendekati titik hancur. Sudah hampir sebulan ini rekan-rekan kerjanya menunjukkan sikap permusuhan. Istrinya, yang bekerja sebagai dosen di sebuah universitas swasta, tak luput dari gangguan tersebut. Sementara anaknya yang masih berumur tiga tahun tentu saja tak mengerti apa-apa. Tetapi bagi Suadji, anaknya bisa saja jadi korban dari sikap permusuhan itu.

Sepulang kerja pukul delapan, Suadji mandi dan lantas mengambil air wudlu. Selasai shalat Isya, ia duduk di kursi teras rumah. Dengan perasaan tidak enak, ia memikirkan nasibnya. Ia berpikir bagaimana cara menghentikan tekanan akibat sikap permusuhan orang-orang di kantornya. Ia tidak ingin mundur dan menjadi pengecut. Tetapi, ia juga sadar, kalau ia terus maju risikonya bisa jadi ia bakal ditendang. Ketika ia suntuk dengan pikirannya, istrinya muncul dari dalam rumah.

“Ada masalah lagi di kantor?” tanya istrinya.

“Tidak,” jawab Suadji sekenanya.

“Jangan bohong. Kamu habis shalat, kan? Akhir-akhir ini aku lihat kamu makin rajin shalat. Tidak biasanya, pasti ada masalah.” Suadji diam dan tampak wajahnya menunjukkan sikap tidak suka dengan sindiran istrinya.

“Tadi ada yang telepon aku,” kata istrinya setelah duduk di sampingnya.

“Siapa?”

“Bayu, katanya teman kamu kerja.”

“Apa katanya?”

“Dia mengucapkan selamat padaku. Kok dia tahu nomor ponselku, ya? Apa kamu cerita ke dia?”

“Tidak.”

Kok dia tahu kalau aku diangkat jadi sekretaris dekan?”

Suadji tidak menjawab istrinya. Ia memikirkan Bayu, teman sesama programmer di bank swasta tempat dia bekerja. Bayu bertempat tinggal jauh dari rumah Suadji dan tak pernah sekalipun berkunjung ke rumah. Bayu teman mengasyikkan di tempat kerja, tetapi Suadji tidak biasa menceritakan masalah keluarga dengan teman kantor.

“Kemarin juga ada SMS masuk, nomornya tak dikenal. Kata-katanya tidak enak sama sekali,” lanjut istrinya.

“Apa katanya?” Suadji mulai khawatir.

“Katanya hidup itu tidak perlu ngoyo. Kalau memang tidak punya uang, tidak perlu sampai utang. Mengangsur cicilan rumah saja sering menunggak, sekarang kredit motor. Kamu cerita ke teman kerja kamu tentang rumah tangga kita?”

“Tidak.”

Kok mereka tahu semuanya?”

Perasaan Suadji semakin tidak enak. Ternyata tidak hanya Bayu yang mengetahui seluk-beluk keluarganya. Seminggu yang lalu dua rekan kerja lainnya menyindir-nyindir dia soal cicilan rumah yang bakal tidak terlambat lagi ia bayar, karena ia bakal promosi jabatan. Lalu tiga hari yang lalu waktu makan siang di kantin mereka tiba-tiba membicarakan motor yang baru dia beli untuk dipakai kerja istrinya. “Mestinya yang pantas itu mobil. Masak untuk istri orang yang dekat pusat cuman motor metik.” Begitulah sindiran mereka. Padahal, sama sekali dia tak pernah menceritakan hal itu.

Suadji semakin yakin ada orang-orang kantor yang memata-matai keluarganya. Mencari-cari informasi tentang pekerjaan istrinya, nomor ponselnya, juga mungkin soal anaknya. Tujuannya tidak lain menerornya. Dan yang membuat dia semakin gelisah, teror itu kini dirasakan istrinya.

“Kalau bukan kamu, lantas mereka tahu dari siapa?” tanya istrinya yang juga mulai gelisah. “Aku tidak suka orang lain tahu dapur kita.”

Suadji tak menanggapi istrinya. Wajahnya makin kecut. Dan tiba-tiba ia merasa kepalanya berdenyut-denyut. Matanya menyipit dengan mulut meringis menahan nyeri di kepalanya.

“Kamu harus mengambil sikap,” kata istrinya lagi, tanpa memerhatikan wajah suaminya. Suadji merasa kepalanya benar-benar sakit.

“Buatkan aku kopi!”

“Memangnya ada apa kamu, meringis seperti kesambet setan.”

Sebenarnya, ia ingin berterus terang pada istrinya. Tetapi ia ragu. Kepalanya serasa makin pening.

“Kepalaku pusing.”

“Apa sih susahnya bersikap?” tanya istrinya.

“Bersikap bagaimana?”

“Kamu harus ngomong ke mereka, bilang jangan mengurusi keluarga orang.”

Suadji ingin memberi tahu istrinya bahwa mereka telah bersekongkol untuk menjatuhkan dirinya, tidak lain, karena ia mengambil sikap untuk mengungkapkan kebenaran. Karena itulah ia mendapat perlawanan keras dan cenderung menyerang dari mereka.

“Apa sih masalah mereka? Apa kamu punya salah pada mereka? Atau ini mereka anggap lelucon? Lelucon yang benar-benar tidak lucu.”

Mendapat pertanyaan bertubi dari istrinya, Suadji merasa kepalanya semakin pening.

“Nanti saja aku beri tahu. Buatkan kopi dulu.”

Istrinya beranjak. Masih dua langkah istrinya berjalan ke dalam rumah, Suadji terjatuh dari tempat duduknya. Suara debum menghentikan langkah istrinya, menengok ke belakang, dan membuat ia menjerit.

“Mbak Tik! Tolong aku!”

Mbak Tik, pembantu yang dibawa dari desa beberapa bulan yang lalu, ada di dalam kamar bersama si kecil.

“Ada apa, Bu?”

“Ayo, bantu aku!”

Dengan tergopoh-gopoh istrinya dan Mbak Tik mengangkat tubuh Suadji.

“Tolong bikinkan teh hangat, Mbak Tik!”

Sebentar kemudian Mbak Tik datang dengan membawa segelas teh hangat. Setelah seteguk teh, Suadji membuka matanya dan bergumam: “Kalau kau tak mundur, kau bakal hancur. Mundur atau hancur!”

“Kau bicara apa, Mas?” tanya istrinya sambil memegang kening Suadji yang panas. “Masya Allah! Tolong jaga Bapak, Mbak Tik. Aku telepon taksi.”

Tidak lama kemudian taksi datang. Suadji siuman tapi ia tak mau pergi ke rumah sakit. Ia bilang pada istrinya, “Aku tidak apa-apa. Suruh balik saja.”

Telepon rumah berdering. Istrinya tergesa mengangkat gagang telepon. Setelah tahu istri Suadji yang menjawab telepon, suara di seberang berkata, “Tolong bilang sama suami Anda, jangan bertindak macam-macam. Kalau mau selamat, jangan gegabah. Jangan cari muka. Anda punya anak, kan?”

“Ini siapa?”

“Tidak perlu Anda tahu. Bilang saja pada suami Anda. Demi keselamatan dia, Anda dan anak Anda, lebih baik dia diam.”

“Jangan sembarangan kalau ngomong, ya!”

“Saya tidak main-main. Saya tekankan sekali lagi, bilang ke dia, mundur atau hancur! Selamat malam.”

Telepon ditutup. Segera istrinya masuk ke kamar menemui Suadji.

“Kamu harus cerita, apa yang sebenarnya terjadi di kantor,” kata istrinya, “Aku tidak mau mereka terus-terusan meneror aku.”

Suadji terlihat menggigil. Keringat mengucur deras dari keningnya. “Mereka benar-benar bakal melakukannya,” gumamnya, nyaris tak terdengar istrinya. Lalu, dia bilang pada istrinya, “Sebenarnya, ada masalah besar di kantor.”

“Ceritakan dengan jelas?”

“Dua bulan yang lalu aku menemukan kejanggalan dalam penerapan sistem program pelaporan yang aku buat bersama Bayu. Aku sudah baik-baik melaporkan kesalahan itu pada pimpinan cabangku, tetapi tampaknya dia sengaja menutup-nutupi. Dua minggu kemudian aku melaporkan hasil temuanku ke pimpinan pusat. Dan awal bulan kemarin ada tim dari pusat turun untuk investigasi awal. Sebenarnya, apa yang aku lakukan, pusat mendukung. Tetapi pimpinan cabang merasa terancam.”

“Terancam bagaimana?”

“Rupanya, dia berusaha menutupi kesalahannya. Bank cabang kebobolan. Dan dia terancam.”

“Terancam gara-gara kamu melapor ke pusat?”

“Begitulah.”

Istrinya terdiam lama. Suadji menunggu reaksi istrinya. Ia berharap istrinya akan mengatakan, “Aku yakin kamu benar dan sedang memperjuangkan kebenaran. Karena itu, kamu jangan takut. Maju terus pantang mundur.” Tetapi, apakah teror itu telah menjatuhkan mentalnya?

“Kalau kamu terus maju, itu namanya bunuh diri, Mas,” kata istrinya.

“Tetapi aku sedang mengungkap kebenaran. Aku ingin kamu mendukungku.”

“Tetapi bagaimana dengan orang-orang kantor, apa ada yang mendukungmu?”

“Tidak. Mereka semua terlibat.”

“Termasuk pimpinan cabang kamu?”

“Dia yang jadi otaknya. Setidaknya begitulah yang aku ketahui. Jadi, bagaimana menurutmu?”

“Terserah kamu,” tukas istrinya, “Tetapi aku tidak mau kamu celaka. Lihatlah pengalaman orang-orang yang menjadi whistle blower.”

“Memangnya bagaimana mereka?”

“Bagi mereka, pilihannya cuma dua, dibunuh atau disengsarakan,” tukas istrinya dan segera masuk ke kamar depan begitu terdengar si kecil memanggil. Sambil mendekap anaknya, istrinya berkata lagi, “Aku tidak mau anak kita jadi yatim.”

Suadji tidak mendengar suara istrinya. Tetapi, di kepalanya masih terngiang ancaman pimpinan cabang, “Mundur atau hancur!” Ancaman itu diterimanya pagi tadi setelah pimpinan cabang memanggilnya untuk menyerahkan surat pemeriksaan dirinya dari tim investigasi. Dan baru saja istrinya menerima ancaman yang sama. Mungkin besok pagi ia akan menerima ancaman yang sama pula. Atau, bukan ancaman? Mungkin sesuatu bakal menimpa dirinya. Mungkin besok pagi sebuah kecelakaan menimpa dirinya yang menyebabkan dia terkapar dan kehilangan ingatan sehingga dia tidak bisa memberikan kesaksian di depan tim investigasi. Atau, sesuatu yang lebih hebat dari itu? Suadji ngeri membayangkan tubuhnya remuk dilindas mobil atau bus atau truk pengangkut sampah waktu berangkat kerja esok pagi.

Suadji bangkit dari tempat tidur. Ia tidak mau menyerah. Dengan sempoyongan, ia berjalan ke kamar mandi. Ia ambil air wudlu. Ia ingin meneguhkan hati untuk membongkar kebusukan di kantornya. Sebelum menuju tempat shalat, dengan hati galau, ia melihat anak dan istrinya di kamar depan. Terbayang dalam benaknya, istrinya menjadi janda dan anaknya menjadi yatim. Namun, dengan cepat ia kibas bayangan itu. Ia menuju tempat shalat. Ia ingin menguatkan hati. Memohon pada Tuhan agar ia selamat dari tindakan orang-orang jahat yang ingin menghancurkan dirinya.

***

Pagi hari dalam perjalanan ke kantor, Suadji telah menyiapkan diri. Data-data yang diperlukan tim investigasi telah ia siapkan. Termasuk ia siapkan diri jika ternyata mereka yang berhati busuk berbalik menyerang dia dan membikin celaka. Ia telah meneguhkan hati. Dalam shalat hajatnya semalam, ia telah bertemu ibunya dalam bisikan yang menenteramkan hatinya: “Anakku, pilihlah hidup mulia atau mati syahid demi kebenaran yang kau perjuangkan. Jangan kau ikuti orang-orang yang berhati laknat, berwatak jahat, demi kepuasan yang bersifat duniawi. Sungguh, Ibu bangga punya anak seteguh kamu. Ibu nantikan kamu di surga.” (*)

 

 

Sidoarjo, 2010

M Anshor Sja’roni lahir di Sidoarjo, 11 Maret 1973. Alumnus Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya. Mantan ketua Teater Puska Unair Surabaya. Menulis cerpen, puisi, artikel, dan resensi dan dimuat di beberapa media seperti Harian Seputar Indonesia, Jurnal Nasional, The Jakarta Post, Surabaya Post, Metropolis, Jawa Pos, Kompas Jawa Timur. Kini mengabdikan diri sebagai guru di Lembaga Pendidikan Al Falah Surabaya.

3 Responses

  1. Cerpen yang tiada bertele-tele, langsung saja

    Like

  2. Suadji mungkin maksudnya susno duadji ya..
    Hehehe..
    Ayo basmi koruptor..

    Like

  3. Terima kasih Lakonhidup yang telah mendokumentasikan cerpen saya. Toelakan@Pacitan juga Erid terima kasih apresiasinya. :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: