Cerpen Irwan Kelana (Republika, 9 Mei 2010)

Menunggu Imam ilustrasi Rendra

SEPULUH kali cukup sudah! Aku tak mau mengalami kegagalan cinta yang kesebelas kali. Sudah lelah aku menawarkan cinta ini kepada para wanita, semua berakhir dengan kekecewaan. Padahal, cinta yang aku tawarkan sederhana saja; ‘Maukah engkau menikah denganku?’ Tiga dari 10 orang wanita itu langsung menolakku mentah-mentah. “Bagaimana kita akan menikah kalau kita belum saling kenal?” begitu alasannya.

Dua di antaranya menyatakan mau, tapi minta waktu setahun lagi. Aku tak bersedia menunggu.

Tiga lainnya ternyata sudah ada yang punya. Mereka teman sekantorku. Rupanya sikap ramah mereka hanya sebagai sesama kolega.

Satu orang hampir saja jadian denganku, tapi dia dijodohkan oleh orang tuanya.

Namun, yang paling tragis adalah Mia, adik kelasku di Pesantren Gontor dulu. Ketika aku datang ke rumahnya di Solo, ternyata baru kemarin dia dilamar oleh Ustaz Hidayat, kakak kelasku.

Lima tahun berlalu tanpa cinta. Tahun ini, di usiaku yang sudah beranjak 30, aku ingin lebih banyak merenung dan menjauh dari cinta wanita.

Karena itu, ketika di kantorku ada karyawati baru yang bernama Nindy dan orangnya sangat cantik, aku telah berbulat tekad untuk tak akan pernah mendekatinya. Biarlah para lelaki yang ada di kantorku ini berlomba-lomba mengejar gadis tinggi semampai itu.

Meskipun demikian, aku tak bisa menghindarinya seratus persen. Sebagai sebuah kelompok perusahaan advertising, media online, dan media radio, jumlah karyawan di perusahaan tempatku bekerja relatif sedikit, hanya sekitar lima puluh orang. Jadi, kami pasti sering berinteraksi.

Di samping itu, aku selalu diminta menjadi imam shalat berjamaah, sebab akulah satusatunya karyawan yang lulusan pesantren. Dan, direktur utama telah memerintahkan seluruh karyawan wajib shalat berjamaah.

***

Enam bulan telah lewat. Belum ada seorang pun yang berhasil merebut hati gadis yang sehari-hari tampil dengan baju motif polos dan rambut diikat itu.

Ngomong-ngomong, kamu nggak minat sama Nindy?” tanya Mbak Ayu pada suatu siang.

Nggak ah, Mbak.”

“Kenapa? Nindy lagi kosong, lho,” kata direktur yang lebih senang dipanggil ‘mbak’ oleh anak buahnya.

“Ah, aku gak percaya Mbak, ada cewek secantik dia ngejomblo.”

“Benar, Fatih. Dua bulan sebelum bekerja di tempat kita, Nindy udah hampir nikah, tapi nggak jadi. Cowoknya menikah dengan orang lain.”

“Sebentar lagi pasti dia udah dapat gantinya,” sahutku cuek.

“Jadi, benar kamu nggak mau sama dia?”

Aku menggeleng.

“Kenapa? Dia cantik dan sopan. Keturunan Arab lagi.”

“Apalagi keturunan Arab. Biasanya dijodohin di antara sesama mereka. Katanya untuk menjaga kemurnian ras dan harta.”

“Jangan sinis begitu. Nggak semua orang keturunan Arab yang tinggal di Indonesia seperti itu. Banyak juga kok yang menikah sama orang pribumi. Kakak mbak yang nomor satu menikah dengan wanita keturunan Arab di Pekalongan. Sepupu Mbak juga menikah dengan wanita keturunan Arab di Surabaya.”

“Setahu saya, biasanya orang Arab menikahnya ya sama orang Arab juga. Apalagi Arab Alawiyyin.” [1]

“Itu dulu. Sekarang orang-orang Alawiyyin pun banyak yang menikah dengan pribumi. Nindy sendiri Arab campuran kok. Ibunya orang Semarang asli. Dua orang kakak Nindy menikah dengan orang Jawa.”

“Nindy bukan campuran Arab Cina?”

“Memangnya kenapa?”

“Matanya agak sipit dan wajahnya sangat putih.”

Nah, ketahuan. Diam-diam perhatian sama Nindy ya?” seru Mbak Ayu.

Aku tak menjawab. Hanya wajahku kurasakan mendadak panas dan sudah pasti merona merah.

***

Acara paparan publik klien kami sore itu selesai pukul setengah empat. Kami segera membereskan perlengkapan dan peralatan. Pukul lima sore, kami bersiap meninggalkan Hotel Gran Melia yang berlokasi di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.

“Ade, Sinta, Nonik, dan Putri pulang duluan ya. Mbak sama Fatih dan Nindy belakangan. Masih ada sedikit urusan dengan klien,” kata Mbak Ayu tiba-tiba.

Aku ingin protes, tapi Mbak Ayu memberi kode dengan ekor matanya.

Hampir pukul setengah enam sore ketika Kijang Innova yang aku kemudikan keluar dari kawasan hotel tersebut. Mbak Ayu duduk di sampingku, sedangkan Nindy di kursi tengah.

Sepanjang perjalanan menuju kantor di Kemang, Jakarta Selatan, Mbak Ayu berkali-kali menggoda aku dan Nindy. Mulanya, aku dan Nindy sama-sama grogi. Tapi, lama kelamaan aku merasa nyaman juga. Kulihat dari kaca spion Nindy pun berkali-kali tersenyum kecil. Suaranya terdengar merdu dan manja. Ketika mata kami beradu, wajahnya yang putih bersemu merah dadu.

Seperti biasanya, Jalan Warung Buncit di sore hari selalu macet. Kami tiba di kantor lewat pukul enam. Baru saja aku mau ke mushala untuk menunaikan shalat Magrib, Mbak Ayu memanggilku ke ruangannya. Ia menyampaikan beberapa hal penting yang harus aku kerjakan besok. “Maaf, Mbak buru-buru. Soalnya udah ditunggu suami, dan kebetulan Mbak lagi nggak shalat,” ujarnya.

Tergesa-gesa aku berwudhu, lalu masuk ke ruang mushala. Tiba-tiba mataku terpaku pada sosok Nindy dalam balutan mukena. Ia tampak jauh lebih cantik dari yang selama ini pernah aku lihat. Dadaku berdesir.

“Sudah shalat, Nindy?” pertanyaan itu seperti meluncur begitu saja dari bibirku.

“Belum. Saya menunggu imam.”

“Oh, kalau begitu mari kita shalat bersama-sama.”

Belum pernah aku merasakan shalat sesyahdu itu. Rakaat pertama, aku membaca surah al-Waqiah ayat 15-26 dan rakaat kedua ayat 27-40. Kelompok ayat itu bercerita tentang keindahan surga yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, baik dari golongan terdahulu maupun golongan kanan. Di antaranya adalah bidadari-bidadari yang bermata indah laksana mutiara yang tersimpan baik, merupakan gadis-gadis perawan, dan penuh cinta.

Selesai shalat, Nindy berkata perlahan, “Mas, bisa sekalian pimpin baca doa ya.”

Aku membacakan sejumlah doa. Ketika tiba pada doa Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatina qurrata a’yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaama, [2] aku mengulanginya sampai tiga kali. Tanpa terasa butiran kristal bening menggenang di pelupuk mataku.

“Mas, apa arti doa yang Mas ulang sampai tiga kali tadi?” tanya Nindy.

“Ya Allah jadikanlah bagi kami, istri-istri kami dan anak-anak cucu keturunan kami perhiasan mata, dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.”

“Mengapa khusus doa tersebut Mas mengulanginya sampai tiga kali?”

Aku menghela napas sejenak. “Karena, aku sangat berharap kepada Allah segera mendapatkan jodoh wanita yang salehah, yang dengannya aku dapat membina keluarga yang indah, penuh ketakwaan, dan kebahagiaan.”

Kutatap matanya, tiba-tiba dia menunduk. Mendadak timbul keberanian dalam diriku untuk bertanya, “Kamu sendiri, apa harapan dan cita-citamu tentang keluarga?”

Nindy mengangkat wajahnya perlahan. Matanya mengerjap. Seperti ada bintang berkilat di sana.

“Kira-kira sama dengan Mas Fatih. Berharap mendapatkan jodoh seorang lelaki yang beriman dan mampu membimbingku ke jalan yang diridhai Allah.”

“Sudah ada calonnya?”

Nindy mengangguk mantap. “Pasti sudah ada.”

Mendadak aku merasa hampa.

“Tapi, Nindy belum tahu dia berada di mana saat ini,” kata Nindy sambil tersenyum.

Ruhku seperti hidup kembali.

“Aku ada satu pertanyaan dan satu persyaratan. Maukah engkau menjawabnya?”

“Baik, Mas.”

“Maukah Nindy menikah denganku?”

“Nindy mau,” jawabnya tegas.

“Tapi, ada syaratnya. Aku tidak mau menunggu lama. Aku mau menikah minggu depan. Apakah kamu siap?”

“Siap. Jangankan minggu depan, besok pun Nindy siap.”

Allahhu akbar! Subhanallah! Alhamdulillah!”

Aku sujud syukur sambil berulang-ulang memuji kebesaran Allah SWT.

***

Malam pertama, pukul tiga dini hari. Aku dan Nindy baru selesai mandi. Kemudian kami menunaikan qiyamullail berjamaah. Shalat Tahajud empat rakaat; dua rakaat-dua rakaat. Disusul shalat Witir tiga rakaat; dua rakaat dan satu rakaat.

Seusai shalat, Nindy mencium tanganku penuh khidmat. Tak henti-hentinya aku mengagumi kecantikan wajahnya yang memancar dari balik mukena putihnya. “Ya Allah, ternyata ada makhluk yang Engkau ciptakan seindah ini. Barangkali beginilah bidadari surga yang Engkau janjikan,” bisikku dalam hati.

Nindy tersenyum. “Kok Mas menatap Nindy terus? Nindy jadi malu.” tuturnya lembut.

Aku meraih wajahnya ke dalam pelukanku.

“Sayang, aku mau berterus terang kepadamu,” bisikku perlahan.

Ia mendongakkan kepalanya. Mata lembutnya seperti menunggu.

“Sesungguhnya, sejak pertama kali melihatmu, aku langsung jatuh cinta. Aku berusaha menutup pintu hatiku serapat-rapatnya, namun bayang wajahmu selalu menggodaku siang dan malam. Di kantor, sulit sekali rasanya aku memalingkan mataku dari wajahmu, walaupun aku berusaha mati-matian.”

“Nindy tahu itu.”

“Maksudmu?”

“Memangnya kalau dilirik orang nggak terasa? Kalau lelaki itu sering kali mencuri pandang kepada kita?” sahutnya manja.

“Mati aku! Ternyata dari dulu udah ketahuan ya,” gemas aku mencubit hidung bangirnya.

“Itu sebabnya Mas melakukan puasa Daud [3] ya?” tanya Nindy.

Kok tahu?”

“Teman-teman bilang.”

“Betul, aku puasa Daud ketika itu, terutama untuk menjaga mata dan hatiku agar tidak berpaling kepadamu. Bukankah salah satu hikmah terpenting ibadah puasa adalah menjaga pandangan?”

Nindy tersenyum. Ia beranjak dari pelukanku. Kemudian membuka mukenanya.

“Sekarang Mas boleh memandangku sepuas hati. Tak ada dosa dan tak ada yang menghalangi.” Sorot matanya begitu teduh.

“Terima kasih ya, Allah. Engkau anugerahkan kepadaku bidadari terindah.”

Kembali kupeluk dia dan kubelai rambutnya yang hitam legam.

“Satu lagi pengakuanku. Aku selalu berdebar dan mendadak cemburu setiap kali kamu membuka ikat rambut dan membiarkan rambutmu tergerai.”

“Mengapa, Mas?”

“Rambutmu adalah rambut paling indah yang pernah aku lihat. Aku tak rela kalau ada orang lain yang tahu bahwa kamu memiliki rambut yang seanggun itu.”

Tiba-tiba Nindy menyunggingkan senyum yang paling manis.

“Mulai sekarang, rambut indah ini hanya untuk Mas Fatih seorang. Tak ada lagi orang lain, apalagi laki-laki yang bisa melihatnya.”

“Bagaimana caranya?” aku kurang mengerti.

“Nindy telah berjanji sama Allah, akan mengenakan jilbab kalau sudah mendapatkan suami yang saleh, yang mampu menjadi imam di dunia dan akhirat. Selama ini, Nindy bekerja sebetulnya sambil menunggu imam. Sekarang imam itu sudah Nindy dapatkan.”

Aku kehabisan kata-kata. Ya Allah, nikmat-Mu ini teramat besar bagiku.

Kembali kupeluk istriku dan kubiarkan air mataku jatuh di wajahnya yang seputih pualam. (*)

 

 

Jakarta, 2010

Catatan:

[1] Orang-orang Arab yang berasal dari Hadramaut (Yaman), dan mengklaim masih keturunan Rasulullah.

[2] Quran Surat ke-56.

[3] Sehari puasa, sehari berbuka.

 

Advertisements