Menunggu Imam


Cerpen Irwan Kelana (Republika, 9 Mei 2010)

Menunggu Imam ilustrasi Rendra

SEPULUH kali cukup sudah! Aku tak mau mengalami kegagalan cinta yang kesebelas kali. Sudah lelah aku menawarkan cinta ini kepada para wanita, semua berakhir dengan kekecewaan. Padahal, cinta yang aku tawarkan sederhana saja; ‘Maukah engkau menikah denganku?’ Tiga dari 10 orang wanita itu langsung menolakku mentah-mentah. “Bagaimana kita akan menikah kalau kita belum saling kenal?” begitu alasannya.

Dua di antaranya menyatakan mau, tapi minta waktu setahun lagi. Aku tak bersedia menunggu.

Tiga lainnya ternyata sudah ada yang punya. Mereka teman sekantorku. Rupanya sikap ramah mereka hanya sebagai sesama kolega.

Satu orang hampir saja jadian denganku, tapi dia dijodohkan oleh orang tuanya.

Namun, yang paling tragis adalah Mia, adik kelasku di Pesantren Gontor dulu. Ketika aku datang ke rumahnya di Solo, ternyata baru kemarin dia dilamar oleh Ustaz Hidayat, kakak kelasku.

Lima tahun berlalu tanpa cinta. Tahun ini, di usiaku yang sudah beranjak 30, aku ingin lebih banyak merenung dan menjauh dari cinta wanita.

Karena itu, ketika di kantorku ada karyawati baru yang bernama Nindy dan orangnya sangat cantik, aku telah berbulat tekad untuk tak akan pernah mendekatinya. Biarlah para lelaki yang ada di kantorku ini berlomba-lomba mengejar gadis tinggi semampai itu.

Meskipun demikian, aku tak bisa menghindarinya seratus persen. Sebagai sebuah kelompok perusahaan advertising, media online, dan media radio, jumlah karyawan di perusahaan tempatku bekerja relatif sedikit, hanya sekitar lima puluh orang. Jadi, kami pasti sering berinteraksi.

Di samping itu, aku selalu diminta menjadi imam shalat berjamaah, sebab akulah satusatunya karyawan yang lulusan pesantren. Dan, direktur utama telah memerintahkan seluruh karyawan wajib shalat berjamaah.

***

Enam bulan telah lewat. Belum ada seorang pun yang berhasil merebut hati gadis yang sehari-hari tampil dengan baju motif polos dan rambut diikat itu.

Ngomong-ngomong, kamu nggak minat sama Nindy?” tanya Mbak Ayu pada suatu siang.

Nggak ah, Mbak.”

“Kenapa? Nindy lagi kosong, lho,” kata direktur yang lebih senang dipanggil ‘mbak’ oleh anak buahnya.

“Ah, aku gak percaya Mbak, ada cewek secantik dia ngejomblo.”

“Benar, Fatih. Dua bulan sebelum bekerja di tempat kita, Nindy udah hampir nikah, tapi nggak jadi. Cowoknya menikah dengan orang lain.”

“Sebentar lagi pasti dia udah dapat gantinya,” sahutku cuek.

“Jadi, benar kamu nggak mau sama dia?”

Aku menggeleng.

“Kenapa? Dia cantik dan sopan. Keturunan Arab lagi.”

“Apalagi keturunan Arab. Biasanya dijodohin di antara sesama mereka. Katanya untuk menjaga kemurnian ras dan harta.”

“Jangan sinis begitu. Nggak semua orang keturunan Arab yang tinggal di Indonesia seperti itu. Banyak juga kok yang menikah sama orang pribumi. Kakak mbak yang nomor satu menikah dengan wanita keturunan Arab di Pekalongan. Sepupu Mbak juga menikah dengan wanita keturunan Arab di Surabaya.”

“Setahu saya, biasanya orang Arab menikahnya ya sama orang Arab juga. Apalagi Arab Alawiyyin.” [1]

“Itu dulu. Sekarang orang-orang Alawiyyin pun banyak yang menikah dengan pribumi. Nindy sendiri Arab campuran kok. Ibunya orang Semarang asli. Dua orang kakak Nindy menikah dengan orang Jawa.”

“Nindy bukan campuran Arab Cina?”

“Memangnya kenapa?”

“Matanya agak sipit dan wajahnya sangat putih.”

Nah, ketahuan. Diam-diam perhatian sama Nindy ya?” seru Mbak Ayu.

Aku tak menjawab. Hanya wajahku kurasakan mendadak panas dan sudah pasti merona merah.

***

Acara paparan publik klien kami sore itu selesai pukul setengah empat. Kami segera membereskan perlengkapan dan peralatan. Pukul lima sore, kami bersiap meninggalkan Hotel Gran Melia yang berlokasi di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.

“Ade, Sinta, Nonik, dan Putri pulang duluan ya. Mbak sama Fatih dan Nindy belakangan. Masih ada sedikit urusan dengan klien,” kata Mbak Ayu tiba-tiba.

Aku ingin protes, tapi Mbak Ayu memberi kode dengan ekor matanya.

Hampir pukul setengah enam sore ketika Kijang Innova yang aku kemudikan keluar dari kawasan hotel tersebut. Mbak Ayu duduk di sampingku, sedangkan Nindy di kursi tengah.

Sepanjang perjalanan menuju kantor di Kemang, Jakarta Selatan, Mbak Ayu berkali-kali menggoda aku dan Nindy. Mulanya, aku dan Nindy sama-sama grogi. Tapi, lama kelamaan aku merasa nyaman juga. Kulihat dari kaca spion Nindy pun berkali-kali tersenyum kecil. Suaranya terdengar merdu dan manja. Ketika mata kami beradu, wajahnya yang putih bersemu merah dadu.

Seperti biasanya, Jalan Warung Buncit di sore hari selalu macet. Kami tiba di kantor lewat pukul enam. Baru saja aku mau ke mushala untuk menunaikan shalat Magrib, Mbak Ayu memanggilku ke ruangannya. Ia menyampaikan beberapa hal penting yang harus aku kerjakan besok. “Maaf, Mbak buru-buru. Soalnya udah ditunggu suami, dan kebetulan Mbak lagi nggak shalat,” ujarnya.

Tergesa-gesa aku berwudhu, lalu masuk ke ruang mushala. Tiba-tiba mataku terpaku pada sosok Nindy dalam balutan mukena. Ia tampak jauh lebih cantik dari yang selama ini pernah aku lihat. Dadaku berdesir.

“Sudah shalat, Nindy?” pertanyaan itu seperti meluncur begitu saja dari bibirku.

“Belum. Saya menunggu imam.”

“Oh, kalau begitu mari kita shalat bersama-sama.”

Belum pernah aku merasakan shalat sesyahdu itu. Rakaat pertama, aku membaca surah al-Waqiah ayat 15-26 dan rakaat kedua ayat 27-40. Kelompok ayat itu bercerita tentang keindahan surga yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, baik dari golongan terdahulu maupun golongan kanan. Di antaranya adalah bidadari-bidadari yang bermata indah laksana mutiara yang tersimpan baik, merupakan gadis-gadis perawan, dan penuh cinta.

Selesai shalat, Nindy berkata perlahan, “Mas, bisa sekalian pimpin baca doa ya.”

Aku membacakan sejumlah doa. Ketika tiba pada doa Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatina qurrata a’yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaama, [2] aku mengulanginya sampai tiga kali. Tanpa terasa butiran kristal bening menggenang di pelupuk mataku.

“Mas, apa arti doa yang Mas ulang sampai tiga kali tadi?” tanya Nindy.

“Ya Allah jadikanlah bagi kami, istri-istri kami dan anak-anak cucu keturunan kami perhiasan mata, dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.”

“Mengapa khusus doa tersebut Mas mengulanginya sampai tiga kali?”

Aku menghela napas sejenak. “Karena, aku sangat berharap kepada Allah segera mendapatkan jodoh wanita yang salehah, yang dengannya aku dapat membina keluarga yang indah, penuh ketakwaan, dan kebahagiaan.”

Kutatap matanya, tiba-tiba dia menunduk. Mendadak timbul keberanian dalam diriku untuk bertanya, “Kamu sendiri, apa harapan dan cita-citamu tentang keluarga?”

Nindy mengangkat wajahnya perlahan. Matanya mengerjap. Seperti ada bintang berkilat di sana.

“Kira-kira sama dengan Mas Fatih. Berharap mendapatkan jodoh seorang lelaki yang beriman dan mampu membimbingku ke jalan yang diridhai Allah.”

“Sudah ada calonnya?”

Nindy mengangguk mantap. “Pasti sudah ada.”

Mendadak aku merasa hampa.

“Tapi, Nindy belum tahu dia berada di mana saat ini,” kata Nindy sambil tersenyum.

Ruhku seperti hidup kembali.

“Aku ada satu pertanyaan dan satu persyaratan. Maukah engkau menjawabnya?”

“Baik, Mas.”

“Maukah Nindy menikah denganku?”

“Nindy mau,” jawabnya tegas.

“Tapi, ada syaratnya. Aku tidak mau menunggu lama. Aku mau menikah minggu depan. Apakah kamu siap?”

“Siap. Jangankan minggu depan, besok pun Nindy siap.”

Allahhu akbar! Subhanallah! Alhamdulillah!”

Aku sujud syukur sambil berulang-ulang memuji kebesaran Allah SWT.

***

Malam pertama, pukul tiga dini hari. Aku dan Nindy baru selesai mandi. Kemudian kami menunaikan qiyamullail berjamaah. Shalat Tahajud empat rakaat; dua rakaat-dua rakaat. Disusul shalat Witir tiga rakaat; dua rakaat dan satu rakaat.

Seusai shalat, Nindy mencium tanganku penuh khidmat. Tak henti-hentinya aku mengagumi kecantikan wajahnya yang memancar dari balik mukena putihnya. “Ya Allah, ternyata ada makhluk yang Engkau ciptakan seindah ini. Barangkali beginilah bidadari surga yang Engkau janjikan,” bisikku dalam hati.

Nindy tersenyum. “Kok Mas menatap Nindy terus? Nindy jadi malu.” tuturnya lembut.

Aku meraih wajahnya ke dalam pelukanku.

“Sayang, aku mau berterus terang kepadamu,” bisikku perlahan.

Ia mendongakkan kepalanya. Mata lembutnya seperti menunggu.

“Sesungguhnya, sejak pertama kali melihatmu, aku langsung jatuh cinta. Aku berusaha menutup pintu hatiku serapat-rapatnya, namun bayang wajahmu selalu menggodaku siang dan malam. Di kantor, sulit sekali rasanya aku memalingkan mataku dari wajahmu, walaupun aku berusaha mati-matian.”

“Nindy tahu itu.”

“Maksudmu?”

“Memangnya kalau dilirik orang nggak terasa? Kalau lelaki itu sering kali mencuri pandang kepada kita?” sahutnya manja.

“Mati aku! Ternyata dari dulu udah ketahuan ya,” gemas aku mencubit hidung bangirnya.

“Itu sebabnya Mas melakukan puasa Daud [3] ya?” tanya Nindy.

Kok tahu?”

“Teman-teman bilang.”

“Betul, aku puasa Daud ketika itu, terutama untuk menjaga mata dan hatiku agar tidak berpaling kepadamu. Bukankah salah satu hikmah terpenting ibadah puasa adalah menjaga pandangan?”

Nindy tersenyum. Ia beranjak dari pelukanku. Kemudian membuka mukenanya.

“Sekarang Mas boleh memandangku sepuas hati. Tak ada dosa dan tak ada yang menghalangi.” Sorot matanya begitu teduh.

“Terima kasih ya, Allah. Engkau anugerahkan kepadaku bidadari terindah.”

Kembali kupeluk dia dan kubelai rambutnya yang hitam legam.

“Satu lagi pengakuanku. Aku selalu berdebar dan mendadak cemburu setiap kali kamu membuka ikat rambut dan membiarkan rambutmu tergerai.”

“Mengapa, Mas?”

“Rambutmu adalah rambut paling indah yang pernah aku lihat. Aku tak rela kalau ada orang lain yang tahu bahwa kamu memiliki rambut yang seanggun itu.”

Tiba-tiba Nindy menyunggingkan senyum yang paling manis.

“Mulai sekarang, rambut indah ini hanya untuk Mas Fatih seorang. Tak ada lagi orang lain, apalagi laki-laki yang bisa melihatnya.”

“Bagaimana caranya?” aku kurang mengerti.

“Nindy telah berjanji sama Allah, akan mengenakan jilbab kalau sudah mendapatkan suami yang saleh, yang mampu menjadi imam di dunia dan akhirat. Selama ini, Nindy bekerja sebetulnya sambil menunggu imam. Sekarang imam itu sudah Nindy dapatkan.”

Aku kehabisan kata-kata. Ya Allah, nikmat-Mu ini teramat besar bagiku.

Kembali kupeluk istriku dan kubiarkan air mataku jatuh di wajahnya yang seputih pualam. (*)

 

 

Jakarta, 2010

Catatan:

[1] Orang-orang Arab yang berasal dari Hadramaut (Yaman), dan mengklaim masih keturunan Rasulullah.

[2] Quran Surat ke-56.

[3] Sehari puasa, sehari berbuka.

 

19 Responses

  1. amin,
    bagian bercengkramanya tini lewati, takut ngiri 😀

    bahasa dan alur cerpennya sederhana 🙂

    Like

  2. Subhanallah… Cerpen yang indah sekali…
    Z suka… suka sekali…
    Fahri dan Aisyah yang kembali…
    U/ penulisnya Irwan Kelana (atau kak Irwan Kelana)…
    Trims telah menulis cerpen sebagus ini… ^_^

    Like

  3. Apakah apabila aku mengirim cerpen tanpa ada unsur relijinya atau kata-kata masjid, ustadz, dll masih bisa dimuat di Republika ya?

    Like

    • Susuk Kekebalan (28 Maret 2010), Arajang (31 Januari 2010) dan Satpol PP (2 Mei 2010) sepertinya tidak menyertakan unsur-unsur tersebut.

      Saya pribadi memandang hal ini sebagai sebuah alternatif yang positif, Mas Bamb. Saya pikir, cerpen “Menunggu Imam” ini sangat kecil kemungkinannya atau bahkan mustahil dimuat Kompas atau Koran Tempo, misalnya. Karena tidak sejalan dengan ‘pakem’ dan ‘misi’ kedua koran tersebut.

      Like

  4. Nah, sama Bung Bamby, itu jg pikiran saya.

    masalahnya, saya ketakutan klo membuat cerpen agama. soalnya saya masih percaya bahwa fiksi yg di dalamnya ada (nilai) agama itu dilarang (meskipun dg tujuan ikhlas nan mulia smacam pengingat atau dakwah), sebab hal itu tdk diajarkan oleh Nabi dan para shahabatnya.

    lbih baik mnulis fiksi yg umum saja.. tp kmungkinan bakal ditolak klo ke republika.

    itulah knp saya jg ktakutan mlihat larisnya buku smacam ayat-ayat cinta atau kcb atau yg lain, smoga saya tidak dicatat sbg org2 yg prnah mmbacanya.

    Like

  5. @S Raga: Terima kasih informasinya. Bisakah lebih diperjelas lagi?

    Sejak MI saya sudah bisa membuat fiksi. Dan sudah tumbuh ‘ketakutan’ itu. Serasa ada yang salah dengan fiksi.
    Mau tidak mau, soal honor jelas terbayang. Makanya saya cenderung di media yang tak memberi honor/kalangan sendiri. Bukankah tulisan nonfiksi lebih baik dibanding fiksi? Tapi tidak mudah ya menghilangkan kesenangan pada ‘mimpi’.

    Bisakah lebih diperjelas lagi? Atau tulisan-tulisan mengenai hal ini yang bisa saya akses?
    Trim’s

    Like

  6. @ Raga
    apa di jaman RasululLah dan sahabat diajarkan menulis fiksi?

    statement-mu yang ini : “lbih baik mnulis fiksi yg umum saja..”

    seperti membantah statement-mu satunya: “masalahnya, saya ketakutan klo membuat cerpen agama. soalnya saya masih percaya bahwa fiksi yg di dalamnya ada (nilai) agama itu dilarang (meskipun dg tujuan ikhlas nan mulia smacam pengingat atau dakwah), sebab hal itu tdk diajarkan oleh Nabi dan para shahabatnya.”

    hehe..

    Like

  7. Suka dengan pertanyaan Tofan pada Raga. *menggelitik*

    Karena sejauh yang saya tahu, Rasulullah Saw. dan para sahabat yang mulia tak pernah mengajarkan membuat cerpen. Jika semua harus berdasar ilmu (sebutlah sebuah dalil naqli, sebuah ayat atau hadis), mungkin Raga bisa menjabarkan pada kami sehingga pernyataannya sendiri tidak terkesan rancu dan plin-plan. Ditunggu. 🙂

    Hmm, kalau dalam Al-Qur’an sendiri ada satu surat yang dinamai “Para Penyair” (Asy-Syu’araa’) ya?

    Like

  8. Aku terkjt ktka mmbca pernyataan S Raga. Sangsi banget karena pernyataanya dapat mmberikan pemahaman seakan akan mmbwt fiksi agama itu di larang. Sunan Kali Jaga sendiri berdakwah melalui Wayang dg ceritanya semua fiksi. Spt lakon; Petrok, yg berarti, Fatruk ma bagho, yg artinya meninggalkan hal lacut. Arjuna; Rojaunal jannata, yg berarti mengharap sorga. dan Semar; Sammaro, di ambil dari tasrif sammaro-yusammiru-tasmiron, berarti terus-menerus atau istiqomah dlm melakukan hal. Punten, mas Raga, kayaknya harus lebih memperjelas pernyataanya, dlm artyan dari mana dalil yg di ambil? Qur’an hadisya. Ikut madzhab mana kitab itu dan namanya apa. Jika saya, mengaca dari kanjeng sunan kali jaga. Beliau adalah seorang budayawan. Dan banyak karakter dari cerita beliau di kiaskan dari kalimah mutiara arab, spt trsbt d atas. Punten!

    Like

  9. ya allah so sweet……. gokill bangets critanya andai aku begitu…..//????? ” AKH IRAWAN MAAN NAJAKH JA?

    Like

  10. fiksi sudah ada sejak jaman sblum islam, kaum Yahudi paling sering membuat cerita2 fiksi & dongeng-dongeng utk kalangan mereka sendiri.

    setelah islam datang, org islam akhirnya juga bnyk yg menyimpang ke fiksi itu sndiri dalam menjalankan agama, mereka ini termasuk golongan menyempal (istlahnya melakukan bid’ah), contohnya ya jalaludin rumi yang sufi-nya minta ampun itu,, sufi ini kental bgt dg khurofat, kisah2 dusta, semacam kelengkeng bisa jadi emas, kuat tidak makan 40 hari, kisah penyejuk hati yg tidak ada asal-usulnya, dsb..

    sedangnya islam yg murni, islam yg masih jernih, maka berdakwah dg cara bercerita dongeng-dongeng (yang meskipun di dalamnya berisi pengajaran akhlak yg baik) itu tdk pernah diajarkan oleh Rasulullah.

    karena itulah, jika ingin membuat cerita fiksi, lebih baik yg umum saja, tntang sosial atau apa. sebab kalau menyentuh agama, maka “apa-apa yg berkaitan dg agama membutuhkan dasar / dalil”, sedangkan menulis “fiksi bernilai agama” itu tidak ada dasarnya kecuali dr org2 yg menyimpang (bid’ah itu tadi, dan perlu diketahui, bid’ah lebih dicintai iblis ketimbang maksiat, sebab biasanya org yg melakukan bid’ah itu merasa benar, jd nyaris tdk mungkin bertobat, karena itulah iblis senang.)

    sampai skrg bnyk org mnggunakan cerita fiksi (tidak nyata) untuk mengajak org lebih mendalami agama, termasuk adanya sinetron religi, semacam yg nanti di kuburan keluar ular, dsb.. mereka hendak menjadikan sesuatu yg masih kabur nyata-tidaknya di atas dakwah..

    dalil tentang bahayanya fiksi islami singkat saja, “lau kaana khoiron, lasabaquna ilaih..”

    “jika suatu perbuatan itu baik, maka para shahabat Nabi akan lebih dulu melakukannya.”

    seandainya fiksi itu bagus untuk mengajak manusia ke dalam agama, tentu para sahabat sudah berlomba-lomba untuk mendongeng kepada masyarakatnya…. sayang sekali, para sahabat (kecuali org2 yg menyimpang tadi) tidak pernah mendongeng fiktif untuk mengajak masyarakatnya lebih mendalami islam.

    nah, sekarang kita tanya kpd penulis fiksi islami itu, skrg niat org membuat fiksi islami untuk mengajak org lain jadi lebih baik agamanya, maka niatnya betul, tapi caranya salah (syarat ibadah ada 2, tidak sekedar niat ikhlas, tapi caranya juga harus sesuai tuntunan Nabi, sebab tidak ada istilah “inovasi” di dalam agama ini) Nabi sudah bersabda, “barangsiapa beramal yg tidak ada tuntunannya dariku, maka dia tertolak)

    namun jika org mmbuat fiksi islami sekedar menghiasi dengan nilai-nilai islam saja, tanpa ada maksud berdakwah, maka sesungguhnya agama ini terlalu mulia untuk sekedar digunakan untuk itu.

    Like

    • Ada dua pernyataanmu yang saya kritisi, Raga:

      [1] //karena itulah, jika ingin membuat cerita fiksi, lebih baik yg umum saja, tntang sosial atau apa//

      Apa dalil yang mendasari pernyataanmu itu??

      [2] //“jika suatu perbuatan itu baik, maka para shahabat Nabi akan lebih dulu melakukannya.”//

      Apakah para sahabat Nabi mencontohkan “membuat fiksi umum, ttg sosial atau apa” yang kau maksud itu? Jika iya, bisa kau berikan contohnya berupa manuskrip lengkap dengan periwayatannya?

      Ditunggu jawaban yang mencerahkannya.

      Like

  11. Raga answered:

    para sahabat Nabi tidak memberikan contoh kecuali yg berurusan dg agama… makanya, ketika sesuatu tidak bersinggungan dg agama, maka tentu shabat tak pernah meriwayatkannya.. jadi, pernyataan //karena itulah, jika ingin membuat cerita fiksi, lebih baik yg umum saja, tntang sosial atau apa//.. pernyataan itu memang gak butuh dalil karena tdk ada unsur agama di dalamnya.

    tp segala sesuatu yg bersinggungan dg agama,, pasti sudah diriwayatkan oleh para sahabat mana yg baik & buruk.. skrg contoh saja, apakah para sahabat meriwayatkan “bagaimana bertani jagung hibrida”?, itu kan di luar agama… untuk sesuatu di luar agama, qt tidak butuh dalil… karna itulah, fiksi yg membutuhkan dalil adalah fiksi islami, karena mereka membawa nama agama, dan hal itu lah yg perlu dicari dalilnya, lau kana khoiron, lasabaquna alaih.. “kalau sesuatu itu baik, maka para sahabat tentu sudah melakukannya.”.. skrg adakah sahabat nabi yg membudayakan fiksi islami? itu tidak dilakukan kecuali oleh org2 yg tersesat setelah mereka.

    Like

  12. Ok. Apa definisi fiksi islami menurutmu? Di mana batasan2 pasti–sebatas subjektivitasmu, sebuah fiksi bisa dikatakan islami/tidak? Karena yang aku pahami sejauh ini, semua kebaikan itu berakar dari islam.

    Like

  13. pusing aku mau njawab di mana, di inbox atau di sini.

    aduh pagi2 dah pusing, rasanya kayak menelan bulat-bulat puisi afrizal malna..

    gini aja deh, aku kan skadar mnjelaskan pemikiranku, tp gak melarang scara mutlak.. jadi klo gak cocok ya sudah, silakan buat yg mo nulis fiksi islami ya teruskan saja dg keyakinannya masing2, dg definisinya masing2.. klo gini kan gak mslah.. nah, slsai, kan. hoho.

    Like

  14. bagi saya cerpen ini sangat sederhana tapi bagus (sehingga sampai di muat di Republika) temanya juga sudah terlalu sering diangkat tapi sejujurnya. ini bagus dan saya pun belum bisa mencapai hal seperti ini.

    @ S. Raga: Kenapa harus takut membuat fiksi islami. kalau Mas takut berarti selama ini Mas hanya mengikuti keinginan pasar. dan keinginan pasar itu belum tentu benar..
    bagi saya karya sastra yang hanya mengikuti keinginan pasar adalah sampah (Joni Ariadinata) seharusnya kita bisa memperjuangkan ideology… mungkin ini menyakitkan tapi jika untuk sementara kita membuat cerpen umum juga nggak papa asalkan itu tak bertentangan dengan kata hati kita… semoga ini tak menjadi luapan emosi saya hanya bermaksud mengigatkan. Mas boleh setuju atau tidak..

    salam kenal: Abdul Hadi

    Like

  15. cerpen yang sangat menabjupkan.

    Like

  16. Sungguh ini sebuah cerpen yg bisa bikin saya menjadi terharu bahagia, karena posisinya sama dengan apa yg saya alami saat ini, tetapi bedanya saya masih mencari calonnya. hehe…

    Like

  17. Salam Mas Irwan cerpen yang mas irwan buat temanya seputar islam seperti cerita yang banyak dibuat oleh mba Asma Nadia atau kang Habiburahman El Sharazy. Saya baru sadar beberapa karya mas irwan dalam cerita Rindu dan Bayu adalah cerita trilogi yg terbit di harian Republika.. Saya salut pada mas irwan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: