Archive for May, 2010

Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara
May 30, 2010


Cerpen Ni Komang Ariani (Kompas, 30 Mei 2010)

DEWA Made Dinaya sudah menduga di mana ia akan berakhir. Di tempat ini dengan posisi seperti ini.

Inilah alasan mengapa Dinaya dulu selalu menolak untuk meneruskan sekolahnya. Betapapun ia menyukai ilmu yang serasa melambungkannya ke cakrawala dunia, ia tahu semua itu akan sia-sia belaka. Ketika kedua orangtuanya memintanya untuk meneruskan kuliahnya, Dinaya menolak mentah-mentah anjuran itu. (more…)

Malam Rajam
May 30, 2010


Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 30 Mei 2010)

JELANG dini hari. Di sebuah ranjang berkelambu coklat muda. Kau terlelap tanpa dengkur. Telanjang dada. Bersarung sebatas lutut. Di sampingmu, terbaring sebatang tubuh molek yang hanya dibalut kain lasem sebatas dada, hingga terintip ceruk di antara dua bukit tinju yang ditutupinya. Selingkaran lehernya menyerak tanda merah sebesar ujung jempol, bagai habis dihisap-kecap. Air muka kalian menyemburatkan lelah yang tak biasa. Tengah malam tadi kalian khatamkan sebuah pertarungan yang tertunda sekian lama. Bukan hanya dengan keringat, tapi kalian juga melakoninya dengan hasrat yang mendahaga. Tak ada yang ditetapkan sebagai pamuncak. Kalian sama-sama kuasa. Kalian pula sama-sama kalah. Bakda itu, lelap kalian adalah sebenar lelap. Untuk apalah bermimpi lagi bila angan-angan itu baru saja tertunai?! Tertunai di atas nama pertautan-halal; di atas ranjang yang berseprai anyar; di atas malam yang dipilahku untuk merajam. Membalas dendam! (more…)

Keris Kiai Setan Kober
May 30, 2010


Cerpen Yudhi Herwibowo (Suara Merdeka, 30 Mei 2010)

Dan siapa yang akan berani mengganggu lakuku?

Bahkan jin-jin itu pun kuharap akan jera!

— Empu Bayu Aji, masa Pajajaran 1150 M

AKU adalah gelora amarah!

Dengan bara bagai percahan matahari dan tempa bagai hujanan batu, aku mulai mengambil wujud. Laku dan mantra kemudian mengisi napasku satu demi satu. Masih kuingat jelas, walau telah ratusan tahun lewat, empu paling termasyur kala itu, menguntai bait-bait mantra dengan ambisi yang memuncak dalam relung hati. Keringatnya yang terus menetes, dan langsung pula menguap, bagai jawaban dari gejolak hati yang membuncah. (more…)

Mangkok Merah
May 30, 2010


Cerpen Zen Hae (Koran Tempo, 30 Mei 2010)

PERGURUAN Mangkok Merah sudah lama tamat. Tapi seseorang membangkitkannya pada suatu sore. Bermula di kantor polisi, dengan sedikit pendahuluan di stasiun.

Begitulah, pada Jumat, 8 Februari 2008, yang kelak dicatat sebagai hari berkabung stasiun kereta api Pintu Duabelas, pukul 16.53 waktu stasiun, ketika calon penumpang berkerumun dengan kegembiraan akhir pekan yang sedang berkecambah dan matahari laksana dicetak dengan warna pepaya matang, pintu ruangan kepala stasiun Triman Djoewir A.S. diketuk orang. Keras dan tidak sabaran. (more…)

Keteguhan Hati Suadji
May 30, 2010


Cerpen M Anshor Sja’roni (Republika, 30 Mei 2010)

Keteguhan Hati Suadji ilustrasi Rendra

HIDUP Suadji dan keluarganya mendekati titik hancur. Sudah hampir sebulan ini rekan-rekan kerjanya menunjukkan sikap permusuhan. Istrinya, yang bekerja sebagai dosen di sebuah universitas swasta, tak luput dari gangguan tersebut. Sementara anaknya yang masih berumur tiga tahun tentu saja tak mengerti apa-apa. Tetapi bagi Suadji, anaknya bisa saja jadi korban dari sikap permusuhan itu. (more…)

Di Kaki Hariara Dua Puluh Tahun Kemudian
May 25, 2010


Cerpen Martin Aleida (Kompas, 23 Mei 2010)

SUDAH enam puluh tahun hariara itu tegak di pekarangan belakang sekolah itu. Walau usia sudah mengelupas kulit batangnya, namun dia tetaplah yang paling menjulang di antara pepohonan yang ada di sekeliling.

Di ujung akarnya yang menjentang di permukaan tanah, dengan bersila beralaskan tikar pandan, duduklah Kartika Suryani sejak beberapa saat yang lalu. (more…)