Cerpen Eko Wahyudi Sutardjo (Republika, 18 April 2010)

Pelangi Senja ilustrasi Rendra

SEMBURAT keemasan mentari mulai menari-nari di antara sekat rerantingan pohon akasia yang berdiri kokoh dan dijadikan sandaran tubuhnya. Satu dua kali, dedaunan berjatuhan satu per satu menerpa wajah dan kepala. Angin semilir berhembus dingin, menyisir di antara pelipis urat dan pori yang tersemat menghiasi kulit ari. Rinai hujan pun sedikit demi sedikit mulai terlihat berjatuhan. Walau begitu, pemuda itu tetap duduk di situ. Menunggu pelangi yang jarang datang di waktu sore menjelang.

Ia terus duduk dan termenung berteman sepi. Rambut hitam lurus panjang, yang tergerai rapi merumputi wajahnya dibiarkan begitu saja. Pikirannya berkecamuk kencang, seakan mampu menembus batas samudera awang-awang.

Di bawah rerimbunan pepohonan itu, debar jantung dadanya kian bertalu. Di antara siang dan petang yang mulai berhimpitan, sebuah ikrar yang pernah berdendang di telinganya kembali berkumandang. Ikrar yang menjadi tumpuan asa dan doanya kian hari. Ikrar yang telah tersemat menjadi seuntai nafas, sejak beberapa tahun yang lalu.

***

Ketika itu, menjelang siang, di sebuah rumah yang tak begitu mewah terlihat meriah. Banyak orang-orang datang dan pergi bertandang, hingga penuh sesak.

Namun aneh. Sosok wanita muda yang duduk di ujung beranda—ditemani teman sejawatnya—terus merunduk lesu sembari menahan sembab di mata.

“Nis, buruan berkemas, gih. Sebentar lagi, keluarga ustaz Wijaya akan datang,” papar ibunya, dan membuat lamunannya buyar.

“Buuu,” balasnya lemas.

“Sudahlah, Nis. Tidak perlu dibicarakan lagi. Semua ini, Bapak-ibu lakukan adalah demi kebaikan masa depanmu. Ustaz adalah orang yang sudah dewasa. Baik pekerti, nasab, dan sudah cukup materinya. Bapak dan Ibu tidak bisa menolaknya, Nis,” kata ibunya kian mengiba.

Annisa tak berkata lagi. Hanya saja, langkah gontai yang dipunyainya mewakili segalanya.

Usai melewati acara khitbah itu, nampak di wajahnya penuh dengan gejolak warna durja. Semilir angin yang hadir lewat jendela terasa anyir. Silang-siur para tamu yang bertandang, di matanya bak serpihan batu karang yang tak mampu menjadi periang. Luluh-lantak hatinya makin terasa, ketika sebuah benda persegi panjang hitam tiba-tiba berdering di atas tempat tidurnya.

“Dik, sore ini kita harus bertemu,” terdengar suara tanpa rupa dari seberang sana.

“Tapi, Kak?”

“Jika sampean menyayangiku, datanglah di tempat pertama kali kita bertemu.”

“Tuttt….” bunyi telepon ditutup.

Sore harinya, suasana sepi menggayuti di antara mereka. Sepasang muda-mudi yang sedang bercengkerama di bawah peteduhan tetaman kota. Tanpa banyak bicara.

“Kak, maafkan aku,” ucap gadis itu.

Tak serta-merta pemuda itu menjawab. Beragam pikiran berkecamuk di kepalanya. Entah, mengapa semua kisah yang mereka rajut bersama sekian tahun harus berakhir seperti ini. Rajutan kisah-kasih yang mereka bina dengan senandung bismillah, terpaksa harus dibelah. Bukan dengan sayatan pedang atau pun karena sekat perbedaan segudang. Namun, kisah-kasih mereka harus diakhiri, demi bakti kepada orang tuanya.

“Kak, maafkan aku,” lanjut Annisa sekali lagi.

“Sudahlah, Dik. Tak ada yang perlu dimaafkan. Mungkin benar, apa yang telah menjadi pilihan bapak-ibumu. Lebih baik, sampean bersama Ustaz. Aku sadar, Ustaz yang selama ini telah membimbing kita, lebih baik jika dibanding denganku….”

“Cukup, Kak, sampean jangan bilang begitu,” binar mata Annisa mulai berontak.

“Sudahlah. Mungkin, Tuhan masih ingin menguji sebatas mana kesabaran dan ketulusan kita menerima ujian ini. Tak usah ada tangis lagi! Inilah tahapan bagi kita agar menjadi dewasa,” tandas Faisal mengakhiri, sembari menyodorkan sepucuk surat yang sedari tadi tersimpan rapat di saku kemeja birunya.

“Demi Allah, aku tak bermaksud menyakiti sampean, Kak.”

Hening dan sepi makin menggayuti. Tak ada kata dan bahasa yang berbusana. Bau sengak angin pun hadir, menyeruak dari balik kedua lorong hidung dan bibir, menawarkan damai yang terkubur dalam rongga dada.

“Asal sampean tahu, Kak, bapak dan ibu tidak sepenuhnya menerima pinangan ustaz. Bapak dan ibu masih mempunyai syarat. Ustaz harus mau menunggu sampai aku selesai kuliah.”

“Iya, aku tahu.”

“Dan sampai kapan pun, bapak dan ibu tidak akan pernah merestui hubungan kita, selama ustaz belum menikah. Alasan beliau, ustaz telah datang lebih awal daripada sampean, Kak,” imbuh suara lirih Annisa.

“Iya, aku juga tahu.”

“Kak… jalan kita masih panjang.”

Faisal hanya terdiam. Bisu. Tiada sepatah kata lagi yang terucap dari mulutnya.

***

Semenjak pertemuan itu, tak pernah sekalipun mereka bertemu. Hampir genap empat tahun lamanya. Bentangan jarak dan tempat perkuliahan yang berbeda antara Jogja-Surabaya, sebenarnya bukan menjadi kendala utamanya. Namun, karena Annisa telah berjanji kepada orang tuanya untuk tidak lagi menemui Faisal.

Hari demi hari dijalani dengan warna rasa yang berganti-ganti. Sendiri. Dan hanya sendiri-sendiri. Susah-senang, duka-ceria yang dahulu sering mereka lewati bersama, tak pernah lagi tercermin di antara mereka berdua. Bahkan, untuk sekadar tegur sapa lewat peranti kemajuan teknologi pun tak pernah dijalani. Keduanya saling mengunci diri. Debar kerinduan yang merasuk ke dalam sukma, hanya mampu mereka jadikan penguat doa ketika malam menjemputnya.

Dalam suasana berbeda. Di sebuah kamar dengan ukuran yang tak begitu besar, dengan balutan dinding warna tepung, perasaan Annisa terus mengapung. Sebingkai foto bergambar seorang pemuda yang menyiratkan senyum simpul yang terpajang di antara ruas-ruas almari dalam kamar asramanya, dipandangi penuh makna. Sembari berebahan, sebuah memori duka yang pernah dialami mulai merayapi. Sebuah puisi berpigura dengan ornamen bunga-bunga yang terpampang di depannya pun tak luput dari perhatiannya. Tiap kali ia berhenti membacanya, kali itu pula buliran kristal bening mulai berjatuhan, membasahi pipinya.

Annisa

Engkau adalah pelangi di hatiku

Serumpun cinta yang kuberi

Serumpun cinta yang kauberi

Biarlah bertahta di ujung mutiara doa

Tak perlu kita berceloteh tentang waktu

Tak perlu kita menggurui ayah-bundamu

Biarlah kisah-kasih ini menepi dan berlabuh sendiri

Di ujung pelangi takdir Illahi

Jika kelak kaumasih mencintaku

Datanglah di tempat ini empat tahun lagi

Aku bahagia, jika kau datang

Aku bahagia, jika kau tak datang

Faisal Ghazali, 20 Juni

Sembab kian berkeriap. Hening makin membuat suasana malam itu terasa hambar. Langit-langit malam terasa muram. Desiran angin yang menelusup dari celah jendela tak dirasa. Namun aneh, temaram lampu kamar yang menggantung di atasnya seakan mampu berkelakar.

“Sudahlah, Annisa. Mending, kamu nekat saja menemui Faisal ke Jogja. Tak usah kamu pegang teguh janjimu kepada bapak-ibumu. Tidakkah kamu lelah, bertahun-tahun menunggu kepastian hubunganmu dengannya, demi menunggu nikah tidaknya ustaz Wijaya, hah?” sengak suara lampu itu menantangnya.

Tak ingin memperpanjang lamunan yang akan menambah sedih, lampu itu pun segera di matikan.

Klikkk. Lampu itu pun padam.

***

Di tempat dan waktu berbeda pada hari berikutnya, nampak para pemuda-pemudi berkerumun dengan pancaran rona bahagia. Adik, kakak, orangtua dan sanak saudara yang mengiringinya begitu pula. Pasalnya, sebuah toga yang tersemat di atas kepala mereka, menjadi saksi bahwa mereka telah merdeka dan lepas dari pasungan tahapan masa. Masa dimana mereka mulai merenda asa dan cita, menuju muara takdir yang belum terlihat bagaimana ujungnya.

Langit siang itu nampak sayu. Sesayu mata yang terlukis di balik wajah Faisal, menahan rasa kerinduan yang mengudara dalam sukma.

“Duh, Tuhan. Aku harus bagaimana???” seru batinnya penuh tanya.

“Sudahlah. Aku tak boleh mengeluh. Aku tak boleh mengaduh. Aku harus berani melakukan ini!”

Keesokan harinya, ketika mentari mulai terpancar jelas di ufuk timur. Perasaan mengalah yang selama ini terpendam seakan harus segera dihempaskan.

Satu dua kali, degup jantung yang dimiliki kian menjadi. Tanpa rasa gamang ia terus mengayunkan kaki. Tepat di sebuah pintu rumah yang dahulu sering ia singgahi, terbersit pula rasa iba di kepalanya.

“Arghhh, tidak. Hidupku adalah hidupku. Bahagiaku adalah bahagiaku. Dan nasib cintaku, ada di telapak kaki dan tanganku. Bukan bertumpu pada ustaz Wijaya,” seru batinnya menyemangati.

Tak berselang waktu lama, sosok pria dewasa yang ingin ditemui mempersilahkannya.

“Ada kabar angin apa Faisal, kok tumben main ke sini? Bagaimana kabar kuliahnya di Jogja, sudah selesai?”

“Sudah, Ustaz. Baru diwisuda kemarin,” timpalnya perlahan.

Sosok yang ada di depannya dipandangi penuh makna. Terbesit pula di kepala dan benaknya, sebuah petuah agama yang membelenggu polah tingkah dan akal budinya. Tanpa banyak omong, ia pun dengan gagah berani mengajukan maksud dan tujuan yang telah lama diendapkannya.

“Ustaz. Maksud saya ke sini, adalah untuk….” gerak bibirnya terhenti. Lidahnya kelu membelenggu. Semua rasa, seakan hadir memburunya.

“Ada apa, Sal?” sela Ustaz itu.

“Sa, sa, sa, saya ke sini, adalah demi Annisa, Ustaz,” paparnya dengan mata nanar.

***

Langit seakan ikut menyala ketika beragam warna mulai terpancar indah penuh mega di arah barat daya. Hujan pun seakan malu jika terus seperti itu. Rona pias yang sedari tadi sibuk menghias, tak mampu lagi untuk merias, ketika ia mendengar, ada seorang wanita muda beserta pria dewasa yang duduk berjauhan di bawah peteduhan lain jauh di sana, memanggil-manggil namanya. (*)

 

 

Yogyakarta, 2010

Eko Wahyudi Sutardjo, lahir di Grobogan, 27 Agustus 1987. Penggiat LEKRA (Lembaga Kajian Politik dan Sastra) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ludah Surga adalah antologi cerpennya yang diterbitkan oleh Pustaka KMF Yogyakarta, 2006.

Advertisements