Putusnya Tali Tasbih Kaoka


Cerpen Soenarwoto Prono Leksono (Republika, 11 April 2010)

Putusnya Tali Tasbih Kaoka ilustrasi Rendra

MEMASUKI malam Rabiulawal. Dentang-dentang suara rebana mengiringi syair puji-pujian Ilahi serta shalawat yang didendangkan para remaja masjid menyambut perayaan Maulid Nabi memecah kesenyapan malam.

Aura suara religi itu seperti membumbung tinggi, membelah awan berarak, merobek langit berlapis, lalu menghunjam ke bawah mengoyak ceruk kalbuku. Perih dan pilu seperti tersayat-sayat sembilu.

Syair puji-pujian dan shalawat itu juga seperti melumat desaunya angin dingin yang menggigit musim penghujan. Aura suara religi itu juga menyirnakan bintang gemintang di atas langit yang memamerkan cahaya permatanya.

Bersama berlalunya dentang-dentang suara religi itu, aku termangu sendiri bagai menelan kesepian tak bertepi. Di tengah terkaman kesepian dan kesunyian malam itu, seketika berkelebat bayang-bayang wajah ibuku.

Bayangan di mana ibu semasih muda dulu yang pegiat hadrah dengan kesukaannya melantunkan shalawat Nabi. Ibu pun tak hanya memainkan saat hadrah, saat zikir setelah menunaikan shalat fardhu dan sunah, atau sedang dalam kesendirian di luar beribadah, ia suka bershalawat.

Ada satu alasan keyakinannya yang kuat, ibu suka membacanya. Nabi Muhammad SAW, tutur ibuku, kudu selalu diagung-agungkan dan dimuliakan. Beliau tak sekadar rasul biasa, beliau adalah Habibullah, beliau Khalilullah, beliau Waliyullah, dan pengejawantahan dari Yang Terpuji.

Beliau telah mewariskan perbendaharaan kehidupan rohaniah yang begitu agung dan menakjubkan bagi anak manusia dan tak sekadar umatnya Muslim. “Serta yang lebih hakiki keberadaannya adalah wasilah, sebagai jalan untuk mendekat kepada-Nya,” petuah ibuku suatu kali menjelang perayaan Maulid Nabi.

Kini, aku dirambati rasa rindu kepada ibu yang begitu mengharu biru. Sudah lama memang aku tak bertemu. Satu alasan karena kesibukan kerja dan kebutuhan keluarga yang menjepit membuatku hingga kini belum bisa mengobati rinduku kepada ibu.

Kemarin, menjelang waktu memasuki malam Rabiulawal, ibuku menghubungi melalui HP hasil pinjaman tetangga. “Assalamualaikum. Mas Azam, ibu di desa sekarang sedang sakit. Ibu kangen. Sempatkanlah pulang barang sejenak menengok ibu,” pintanya dengan suara lirih dan tersendat.

Aku tahu suara itu pertanda ia telah digerumus usianya yang membuat tata ujarnya tak lancar. Dalam kejauhan, tempat aku hanya bisa berdoa, semoga ibu dikaruniai kesehatan dan panjang umur. “Insya Allah, pekan depan aku menjenguknya,” tekadku.

Bersama ikrarku dalam hati, kedua bola mataku seperti terseret oleh kekuatan lain. Mataku mengajak menatap sebuah tasbih tua, tasbih Kaoka pemberian ibuku sepeninggal dari kakek buyutnya, yang tampak lusuh penuh debu tergantung di paku tembok.

Tasbih Kaoka itu segera kuraih. Kubersihkan dari debu yang menempel. Lalu, setelah bersih, aku mencoba menciumi berkali-kali, seperti saat bertemu sang kekasih. Ia sudah lama tak kusentuh untuk berzikir.

Sekadar mengobati rinduku pada ibu, tasbih itu akan kukitarkan kembali untuk berzikir. Ketika tasbih di tangan, tiba-tiba hatiku digetari rasa ingin menunaikan shalat fardhu berjamaah di masjid kota tempat tugasku yang baru. Shalat berjamaah di masjid memang sudah lama tak bisa kulakukan karena juga kesibukan kerja.

Selepas shalat Zuhur berjamaah, aku tak segera beranjak dari dalam masjid. Siang itu, biar sedikit terlambat menunaikan tugas-tugasku, aku sempatkan berdoa dengan waktu yang agak panjang. Tidak seperti biasanya sehabis shalat, lalu mak plencing pergi dari masjid dengan begitu saja.

Kali ini, aku akan berama-lama berzikir. Ingin rasanya doaku dikabulkan-Nya. Segera aku bangun dan mengarahkan kiblat pikiran dan hatiku kepada-Nya. Tiada lain, Lailahaillallah.

Jemari tanganku pun beranjak mengitarkan biji-biji tasbih Kaoka yang telah kugenggam. Aku mulai dengan istighfar, meminta ampunan agar bisa menggapai maghfirah-Nya. Lalu, beranjak menderas bacaan shalawat, semoga mendapat syafaat-Nya agar bisa cepat menuju kepada-Nya.

Bersamaan itu, entah seperti terhisap kekuatan dahsyat. Tubuhku terasa berputar-putar amat kencang, terbang tinggi, melayang-layang tak terbayang, lalu plasss… seketika hilang. Entah terbang di langit lapis ke berapa atau entah melayang-melayang di jagat mayapada bernama apa.

Weer… uwerr… uwerrr…, gedebuk jlek! Tubuhku tiba-tiba terlempar di sebuah hamparan tempat. Meskipun terlempar keras, tidak terasa sakit, tak juga ada yang lecet anggota tubuhku, apalagi hingga terluka. Aneh.

Oh, di mana ini?” tanyaku heran. Tempat yang tidak aku tahu dan rasakan sebelumnya. Aku seperti berada di ruang, waktu, dan dimensi lain. Bulu kudukku merinding. Hatiku diliputi rasa heran berkelebihan. Tempat itu sepi, sunyi, dan senyap. Ngungun…, suwung…, nglangut….

Sebuah ruang kosong dan hampa tak berisi, tapi serasa penuh. Kosong dan hampa sekali. Penuh berisi, penuh sekali, tapi kosong melompong. Sunyi, sepi, dan senyap. Ngungun, suwung, nglangut….

Oh, di mana aku?” tanyaku kini mengingat kebingungan. Seperti berada di ruang, waktu, dan dimensi lain. Sebuah tempat yang padang jingglang, terang, terang sekali, terangnya melebihi seribu kali sumunare sewu srengenge cacahe.

Padahal, tak terlihat di sana ada satu pun sumber sinar matahari atau myskat seperti cerita dalam kisah-kisah agama, sebuah cahaya yang amat terang benderang yang tak tertandingi di muka bumi. Namun, bersamaan rasa heranku, tiba-tiba tempat itu berubah sayup dan redup. Tak siang, tapi juga tak malam.

Oh, di mana aku?” tanyaku bertambah bingung. Seperti berada di ruang, waktu, dan dimensi lain. Sebuah tempat yang sejuk dan teduh. Sejuk dan teduh sekali meski di sana tak ada gumpalan embun dan daratan es yang menggunung yang membuat sejuk dan teduh tempat itu.

Nikmat. Rasanya beribu kali nikmat rasa ejakulasi ketika berahi memuncak. Seperti aku berada dalam dekapan sumber segala sumber kenikmatan. Mulai dari ujung kaki hingga ubun-ubun kepala berasa nikmat.

Hemm…, nikmat sekali. “Oh, di mana aku?” tanyaku tetap mengulang rasa heran. Seperti berada di ruang, waktu, dan dimensi lain. Berhampar suasana yang tenang, tenteram, dan nyaman. Segala hasrat sirna. Tak haus dan tak lapar, tak keluh dan kesah, tak iri dan dengki, tak tamak dan loba, tak sedih dan duka, tak ada ambisi-ambisi menguasai atau dikuasai. Semua hasrat fana sirna. Empty.

Oh, di mana aku?” tanyaku diaduk-aduk rasa heran berkepanjangan. Dalam bentangan keheranan, aku mencoba melihat diri. Sekali lagi, aku meraba seluruh anggota tubuhku. Tak ada yang tanggal satu pun di antara bagian tubuhku. Semuanya masih utuh.

Tapi, kali ini kian kuraba dan kueja, anggota tubuhku semuanya kian tak terasa, tak teraba. Seperti tak ada. Sudah kuusap berkali-kali tetap tidak terasa, tidak teraba. Kian berdecak heran, seperti sangkar jiwaku telah mukso, hilang begitu saja entah ke mana, tapi terlihat jelas aku masih ada.

Di mana aku sebenarnya? Dalam kebingungan, aku mencoba bangkit. Berdiri. Oh… meski berupaya kuat aku berdiri, tetap aku masih duduk. Ketika aku coba duduk, aku tetap berdiri. Begitu aku coba melangkahkan, tetap terpaku, kaki tetap di tempat, tak bergeser, dan tak beranjak.

Aku kucek mataku berkali. Aku coba melihat lagi. Aku tatap arah mata angin berada. Aku melihat ke utara, aku melihat ke selatan, aku melihat barat, aku melihat arah timur. Ketika mataku memastikan ke arah masing-masing penjuru mata arah angin, tak kutemukan di sana arah barat, timur, utara, dan selatan yang pasti. Tidak juga timur, barat, utara, dan tidak juga selatan. Tak bermata angin.

Aku kucek mataku berkali. Aku coba melihat lagi. Aku tatap ke atas, tetapi rupanya bawah, ketika aku anggap bawah ternyata atas. Begitu aku menatap ke kanan, ternyata kiri. Dan, kuanggap kiri, ternyata kanan. Tak berarah.

Apakah ini langit di atas langit, apakah ini nirwana atau surga atau alam khayal para salik atau alam lauhul mahfudz? Aku menjadi serba tidak tahu yang terliputi oleh ketidaktahuanku. Hanya merasakan aku berada di ruang, waktu, dan dimensi lain.

Terbentang tempat penuh kedamaian nan menakjuban. Tempat yang sunyi, sepi, senyap. Tempat yang ngungun, suwung, dan nglangut. Tempat yang tiada keluh dan kesah, tempat yang sirna akan hasrat dan ambisi. Tempat yang tak ada itu semuanya. Hanya terasakan adem, ayem, tentrem, Jinem.

Apakah ini kata pesalik yang dinamakan unang, uning, unong? Sebuah garis batas alam yang tak terkirakan, tak terjemahkan, alam yang tersembuyi oleh berjuta-juta hijab-Nya, alam yang amat terahasiakan. Tan kena kenaya. Keberadaan yang tak bisa direka-reka dan tak bisa dibanding-bandingkan oleh akal sehat siapa saja.

Oleh sebab itu, jika dikira-kirakan menjadi yang tak terkirakan. Jika diterjemahkan, justru tak bisa dimengerti oleh bahasa manusia rumpun apa pun. Jika dibabar secara logika, malah akan gelap keberadaannya. Malah, bisa dikata menyesatkan nantinya. Aku menjadi takut dan diam tak bertanya lagi.

Seperti terhisap kekuatan dahsyat. Tubuhku kembali berputar-putar amat kencang, terbang tinggi, melayang-layang tak terbayang, lalu plasss… seketika hilang. Wer… uwerr… uwerrr… gedebuk jlek! Tubuhku tiba-tiba terlempar di sebuah hamparan tempat.

Kali ini, aku merasakan keningku sakit. Sakit sekali. “Sampeyan nek zikir ojo karo turu, nek turu yo ojo karo zikir,” kata seorang jamaah shalat Zuhur yang menolongku di masjid itu mengingatkan.

Sementara itu, jamaah yang lain aku lirik tengah menjumputi butiran hitam biji tasbihku yang berserak di lantai masjid. Rupanya, tali pengikat tasbihku terputus hingga rangkaian biji-biji pisang Kaoka berjumlah 99 butir itu ambyar, bersamaan terjatuhnya tubuhku ke lantai masjid saat asyik-masyuk berzikir tadi.

Oh, rupanya aku masih di alam fana,” gumamku sambil menyusun biji Kaoka yang berserak. Sementara itu, belum pulih benar kesadaranku, tiba-tiba paklik dari kampung datang tergopoh-gopoh mendekatiku dan membisikan kabar.

“Mas Azam, maaf aku diutus keluarga untuk menyampaikan kabar. Bakda shalat Zuhur tadi, ibu jenengan sedo,” katanya dengan nada yang sengaja dibuat amat datar biar aku tidak tercekat kaget.

Badanku lemas seketika. Hatiku dirajam rasa sedih yang mendalam. Rasa sesal pun berjejal-jejal di hati. Kini, ibu sudah pergi menghadap Ilahi sebelum aku sempat menengoknya. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. (*)

 

 

Kota ‘Lumpur’ Sidoarjo, 9 Maret 2010

Kaoka adalah biji pisang kaoka yang bisa ditemui di pedesaan Jawa Timur, khususnya daerah Tuban dan Lamongan. Warnanya hitam dan liat. Jika sering dibuat berzikir, kian liat dan mengkilap. Konon, tasbih ini digunakan para wali dulu dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.

3 Responses

  1. Ehm… Jujur saja, cerpen ini sebenarnya klise. Banyak kenangan cerpen-cerpen yang pernah saya baca saat baca cerpen ini. Tapi ada sesuatu yang lain yang membuat saya terus membaca sampai akhir. Entahlah.
    Cerpen yang jernih dan polos, dalam lingkaran cerita yang absurd, apalagi banyak memasukkan bahasa Jawa-sufi yang menambah kedalaman cerpen.

    Like

  2. tidak suka pertanyaan yang berkali-kali “dimana aku” ehm maksudku cara pengungkapannya.

    tapi aku penasaran dengan endingnya

    mantab

    Like

  3. ringan tapi dalam, saya menyukainya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: