Cerpen S. Prasetyo Utomo (Republika, 4 April 2010)

Masjid ke-1.000 ilustrasi Rendra Purnama

LEMBUT purnama mengantarkan langkah Suryo mencapai masjid tua peninggalan Syekh Maulana. Inilah masjid ke-1000 yang disinggahinya dalam pengembaraan malam. Tiap tengah malam, sejak dilepas dari jabatannya di kantor, Suryo menjelajah seribu masjid dalam kota untuk menuntaskan zikir malamnya. Sendirian. Tiada putus. Telah disinggahinya 999 masjid, yang ditempuhnya dengan berjalan kaki dalam berbagai cuaca langit.

Mencapai dasar 100 undak-undakan berbatu menuju serambi masjid, Suryo sudah menduga akan bersua dengan anak lelakinya. Kali ini, ia gugup memasuki masjid ke-1000 yang dicarinya setiap menjelang puncak malam. Langkah kakinya terhenti sebelum melewati anak lelakinya, Cakra, yang duduk di batu undak-undakan terendah menuju masjid tua di puncak bukit.

Cakra duduk tenang memegang tongkat dengan bibir yang tak berhenti membisikkan doa. Lelaki muda itu tak bisa melihat apapun yang berkelebat di depannya. Bulan dan mega di atas kubah masjid tak pernah dilihatnya. Bayangan ayahnya yang kini termangu memandanginya, tak tertangkap sepasang matanya yang hampa. “Mohon sedekah, Tuan.”

Tangan Suryo bergetar. Menggenggam uang receh. Dijatuhkan tepat pada kaleng bekas roti yang menganga dan uang logam terserak di dalamnya. Gemerincing uang logam di dasar kaleng menakik senyum di bibir Cakra. Lelaki muda itu menampakkan kesenangannya. “Terimakasih, Tuan. Semoga panjang umur, murah rezeki, dan sehat.”

Suryo, yang selama ini memendam runcing logam tertancap di dalam dada, tersentak memandangi anak sulungnya. Suaranya lirih, “Apa kamu sudah tak mengenaliku?”

Cakra tergagap. “Ayah?”

“Kau tak ingin pulang? Sejak Ratri, adik perempuanmu menikah, aku tinggal sendirian.”

“Ayah sering ditinggal Ibu?”

“Jangan pikirkan dia. Aku hanya berharap kau segera pulang.”

“Masjid ini rumahku. Mudah-mudahan Ayah ikhlas melepasku.”

Lama Suryo memandangi anak lelakinya. Anak sulung itu duduk canggung di tepi jalan, di batu undak-undakan terendah menuju serambi masjid.

“Kalau Ayah ingin menengokku, datanglah kemari.”

Suryo memandangi anak sulungnya. Wajah itu tampak lebih bening. Tak sekeruh dulu. Tak seberingas sediakala. Ditinggalkannya anak lelakinya. Mendaki 100 undak-undakan berbatu ke serambi masjid. Tak diduganya sama sekali bila pada undak-undakan ke-99, ia disambut Kiai Badawi yang berjanggut putih, berjubah putih, dan bersorban putih. Kiai memberinya jubah putih dan memasang sorban putih di kepalanya. Mengajaknya duduk dalam lingkaran orang berzikir.

Suryo memejamkan matanya. Ia berzikir. Kepalanya berayun-ayun. Mula-mula suaranya lirih. Tapi, lama-kelamaan ia merasakan kesejukan mengalir dari dadanya dan menggetarkan nadinya. Rasa nyeri logam runcing di dadanya, berangsur-angsur leleh, tak terasa sengatannya.

***

Menemukan ketenteraman berzikir, Suryo seperti memasuki dunia yang terbuka: bukan lagi lembab dinding masjid ratusan tahun, dengan tiang-tiang kayu jati tegak menjulang, mengilat karena tua. Ia merasakan tiang-tiang itu membubungkan zikir hingga menembus kubah, terbebas ke cakrawala, menyatu dengan cahaya purnama yang digetarkan cericit kelelawar puncak malam.

Masih tercium harum bunga-bunga di pusara Syekh Maulana, terhembus dari belakang masjid, pada saat Suryo mengawali zikirnya. Masih terbayang wajah Ratri, putrinya yang baru menikah dan pindah ke kota lain diboyong suaminya. Masih terlintas wajah istrinya yang angker dan menjelma iblis penuh kedengkian, mengusir Yu Girah, pembantu berwajah bening, berkaki pengkor, yang tinggal di sudut gang.

Masih berzikir, Suryo menyingkirkan wajah istrinya yang suka melontarkan kata-kata kotor. Melupakan perilaku perempuan itu yang selalu meninggalkan rumah dan pergi ke suatu tempat yang tak pernah dimengerti dan pulang menebar kemurkaan.

Terus saja Suryo berzikir. Mula-mula dalam pelupuk matanya terlapis samar cahaya selembut purnama. Lenyap. Datang lagi cahaya bersinar. Lenyap. Datang lagi. Begitu berulang kali. Ia tak lagi mendengar suara orang berzikir serupa dengung lebah bergetar. Ia tak mendengar apapun. Juga bisik zikirnya sendiri. Cahaya itu menyergap dalam pelupuk mata yang terkatup. Ia merasa berada pada dataran tanah yang lembut subur pada temaram senja yang tak pernah tergulung gelap malam. Ia bisa melihat dirinya sendiri. Duduk bersila dalam dataran tanah yang terhampar dalam damai, bukan padang pasir, bukan sahara gersang. Hanya ada dia dan cahaya yang menyungkupnya lembut. Ia bisa melihat dirinya terpejam dalam zikir.

Lelaki tua berjanggut putih, berjubah putih, dan bersorban putih lembut itu menghampiri Suryo. Inikah Syekh Maulana? Tasbih tergenggam di tangannya. Bersila. Cahaya yang menyelubungi tubuh lelaki tua itu lebih cemerlang. Alangkah sejuk dataran tanah. Bukan bumi yang purba. Bukan pula dataran di masa keabadian mendatang. Ini dataran tanah tiada bertepi.

Suryo tak bisa menandai napasnya sendiri. Ia tak menandai detak nadi. Ia tak merasakan degup dada. Ia tak merasa cemas, sakit hati, atau tertikam nestapa. Tak merasakan raga yang men jadi beban karena rasa lapar haus. Tak berkehendak. Tak berhasrat. Tak bernafsu. Ia nyaman dengan cahaya itu, tenteram dalam zikir.

***

Tangan lelaki tua berjanggut putih, berjubah putih, dan bersorban putih itu menggenggam tangan Suryo. Ia tergeragap. Ia kembali merasakan detak nadi, degup dada, napas, dan bau lumut tembok masjid tua. Dataran tanah yang menenteramkan itu lenyap dalam sentuhan tangan lelaki tua berjanggut putih, berjubah putih, dan bersorban putih. Suryo masih merasakan temaram cahaya dalam pelupuk matanya.

“Sudah waktunya kau menghentikan zikirmu,” pinta Kiai Badawi sambil mengusap janggutnya.

“Mengapa aku tak boleh menghabiskan waktuku untuk berzikir?”

“Kembalilah pulang.”

“Aku lebih suka ketenteraman ini.”

“Kau bisa menemukannya dalam kedamaian hatimu setiap saat. Kali ini zikirmu cukup. Pulanglah. Hari menjelang pagi.”

Tak terlihat siapa pun saat Suryo membuka kelopak matanya. Yang dilihatnya, Kiai Badawi, serupa benar dengan raut wajah lelaki tua berjanggut putih, berjubah putih, bersorban putih, yang tampak dalam zikirnya. Kiai Badawi menemaninya duduk bersila di karpet masjid. Lelaki-lelaki yang berzikir semalam dalam suara seperti dengung lebah dalam sarang, tak dilihatnya lagi. Tubuhnya terasa ringan. Menuruni 100 undak-undakan berbatu dari serambi masjid, diiringi Kiai Badawi. Tak lagi merasakan logam runcing yang menyekat luka dalam dada, yang selama ini rasa nyeri menjalar dari sana.

Yang terdengar hanya suara langkah kaki Suryo dalam sepi menjelang dini hari. Batu undak-undakan yang terendah menuju masjid, dekat jalan raya, berembun, sudah lama tak diduduki Cakra. Menjelang subuh. Bulan memancar samar dan pudar dalam cahaya yang kian bundar. Ia melangkah ringan, terus melangkah menyusuri jalan raya pulang. Rupanya, semalam ia telah berjalan jauh meninggalkan rumah. Melewati tengah kota. Ini masjid ke-1.000 yang dilacaknya untuk berzikir. Masjid terakhir yang memberinya kesejukan jiwa.

Mencapai pelataran rumahnya, Suryo merasakan kesunyian mengalir, asing dan menggugupkan. Lelaki setengah baya itu tergagap. Dilihatnya pintu depan terbentang, terbuka separuh menganga. Siapa yang memasuki rumah? Dimasukinya ruang tamu. Dinyalakan lampu. Mencapai ruang tengah, ia merasakan keanehan. Dimasukinya kamar Ratri. Lengang. Tertata rapi. Dimasukinya kamar Cakra. Lembab berdebu. Dimasukinya kamar utama. Istrinya telentang di ranjang. Tak bergerak. Matanya berkedipkedip. Tinggal matanya saja yang berkedipkedip. Tanpa cahaya. Memutih. Mata yang mengutuk dunia. Marah. Murka. Tapi tak berdaya.

Menjelang subuh, memandangi tubuh istrinya telentang, tanpa gerak, tanpa bicara, mengingatkan Suryo pada saat perempuan itu usai melahirkan Ratri. Keletihannya larut dalam diam. Hanya matanya yang bicara. Tidak mengutuk dunia. Tidak marah. Tidak murka.

Menjelang subuh itu, dalam sunyi, Suryo merawat istrinya seorang diri. Memandikannya dengan air hangat. Mengganti pakaiannya, mendandaninya. Menyuapi bubur lembut dan menuangkan teh manis hangat sesendok demi sesendok. Hingga saat azan subuh, ia berangkat ke surau. Menyalami Kiai Bisri yang basah tangannya sehabis mengambil air wudu. Tatapan kiai alangkah teduh. Suryo tak perlu lagi mengeluh pada kiai kalau dadanya nyeri, lantaran omelan fitnah istrinya. Nyeri logam runcing di dada lebur dalam zikir semalam di masjid tua Syekh Maulana. Lagi pula istrinya sudah tak dapat bicara, apalagi memaki.

Dari jauh Suryo melihat Yu Girah bermukena melangkah terseret-seret, berjungkit-jungkit, serupa anjing laut merambah permukaan pasir pantai. Terengah-engah Yu Girah mencapai serambi surau. Berhenti di depan Suryo dan Kiai Bisri. Menunduk. Menanti. Suryo mendekati Yu Girah, dan memintanya dengan rendah hati, “Mau kau merawat istriku yang terkapar sakit?” (*)

 

 

S. Prasetyo Utomo, adalah penulis kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi, 2005. Saat ini bekerja sebagai dosen di IKIP PGRI, Semarang.

Advertisements