Cerpen Han Gagas (Republika, 28 Maret 2010)

Susuk Kekebalan ilustrasi Republika

HATIKU gamang saat kaki menjejak pematang dan menyusuri setapak. Gelap turun sempurna memerangkap semua rumah dan pepohonan. Bulan, walau separuh, cahayanya berhasil membuat bayang-bayang pohon memanjang dan membesar, dan angin menjadikannya bergoyang-goyang. Di depan, tampak sebuah rumah limasan kabur disinari lampu  senthir , membiaskan sinar suram. Lengang.

Karso menggamit pundakku saat tiba di pelataran. Lalu, kami menaiki undak-undakan. Berhenti sejenak, mengatur napas. Ia mengetuk pintu pelan-pelan. Suaranya menghunus sunyi malam.

Sepi. Tak ada jawaban.

Siang tadi, Karso mengajakku membeli kembang tujuh rupa di Pasar Legi dan jarum emas di Toko Koh Yan, sebagai piranti kekebalan.

“Kau tahu sendiri, kawan-kawan terjagal ajal. Tak ada jalan lain, kita harus pasang susuk pada Eyang Warok!”

Kata-kata Karso memupuk kecemasanku. Memencarkan cairan takut ke penjuru pikiranku.

Pintu masih terjalin rapat. Karso mengetuknya lagi. Lebih keras.

Sekarang keadaan memang berubah drastis. Semua orang sangat berhati-hati bahkan terhadap kerabat dan tetangga sendiri. Kabar terbunuhnya para jenderal di Jakarta itu menyulut bara api hingga di pelosok desa ini. Menghancurkan perasaan damai, menukarnya dengan pembunuhan keji anggota Barisan Reog Ponorogo (BRP), organisasi kesenian Reog Ponorogo bentukan PKI. Aku yang hanya simpatisan dan  senggakan (tukang berteriak  ho’ye dan  ho’ya saat pertunjukan reog), kabarnya juga masuk daftar.

Suara tokek mengagetkan lamunanku. Pintu masih membatu. Karso mengetuknya lagi, lebih keras, lebih kerap. Suaranya tersela langkah kaki pelan mendekat. Karso menghentikan ketukannya.

“Siapa?” Terdengar suara perempuan.

“Saya, Eyang Putri. Karso dari Tambakbayan.”

“O, Karso, dengan siapa?”

“Hargo, Eyang Putri. Murid Kiai Basir,” tambah Karso.

Aku tak tahu kenapa guru ngajiku itu harus disebut. Mungkin karena Kiai Basir adalah orang NU yang tersohor dan bisa diterima semua kalangan.

Selot pintu ditarik, daunnya membuka separuh, menampakkan seraut rupa perempuan tua terkurung ruangan gelap, tanpa cahaya.

“Masuk!”

“Terima kasih, Eyang Putri.”

Kami melangkah masuk. Selot didorong, pintu menutup kembali. Mataku terpicing karena gelap. Hanya menangkap sosok Eyang Putri bergerak ke ruang belakang. Hatiku lebih tenang karena sudah berada di dalam.

Namun, gelap memercikkan lagi api kecemasanku. Syukurlah, tak lama, sepotong cahaya memberkas di gedheg (dinding dari anyaman bambu) dan  senthong (ruangan yang berfungsi untuk kamar). Diikuti langkah kaki mendekat, membuat berkas itu makin benderang.

Sosok laki-laki kurus, muncul dari pintu sambil membawa lampu  ting bersuluh kecil. Berjalan kukuh, makin lama tampak wajah perseginya yang berewok. Ia, Eyang Warok Wulunggeni.

Hatiku langsung bergetar! Bagaimana tidak, berita kesaktiannya begitu menancap di benakku. Kabarnya, pada zaman perang, berkat Aji Pulosani dan Jimat Wesi Kuning, semua senapan Belanda tak mampu menembus tubuhnya dan hanya membuat tulangnya benjol-benjol karena pelor yang terpental. Dulu sewaktu aku kecil, pernah melihat aksinya mbarong (memanggul barong macan) di atap rumah, memanjat pohon kelapa dan turun meluncur dengan kepala menghadap ke bawah. Aksi yang tak masuk akal.

“Duduk, Nak!”

Nuwun , Eyang.”

Kami duduk di kursi kayu, menghadap meja panjang. Eyang Warok menaikkan lampu dan mencantolkannya pada sebuah pengait di tiang rumah. Sinar temaram menyapu seluruh ruangan, menyinari barong macan di atas lemari tua dan seperangkat perlengkapan reog yang tertata di sudut ruangan. Sepasang kepala rusa diawetkan tergantung pada gebyok ukiran jati. Bayangan tanduknya memanjang berkejaran, menimpa jaring laba-laba yang terkoyak.

Eyang Warok berjalan mendekat lalu duduk di depan kami. Memandangku dan Karso bergantian. Hatiku berdesir!

Karso segera mengulurkan bawaan dan tangan Eyang Warok menerimanya dengan lekas. Di usianya yang berkisar delapan puluh tahun tampak kulit tangannya masih liat. Bungkusan daun pisang itu dibuka. Tangannya memilah-milah, lalu ditutupnya dengan menusukkan batang lidi. Ganti bungkus kertas yang dibuka, menghitung jumlah jarum emas, lalu ditutup.

“Tunggu sebentar,” ucap Eyang Warok sambil berdiri.

Ia berjalan ke belakang. Lampu ting bersinar lembut menyentuh punggungnya. Bayangan tubuh kurusnya memanjang hingga mengenai gedheg rumah. Lalu, bayangan itu menghilang ke dalam senthong .

Karso diam. Matanya mengatup. Senyap kembali memerangkap. Gendang telingaku memeka. Udara terasa beku. Hening.

Ruang belakang terdengar menderakkan suara. Eyang Putri keluar membawa nampan berisi sepasang cangkir. Aroma kopi panas dan kental melayang, menari hingga rongga hidung, membangkitkan seleraku. Bau kopi khas hasil tumbukan sendiri.

“Silakan diminum.”

“Terima kasih, Eyang Putri.”

Eyang Putri kembali ke belakang. Langkahnya pelan, ujung kain jarik yang dikenakannya menyentuh lantai tanah. Menggesek seperti ular.

Karso menyeruput kopinya. Aku mengikuti. Benar-benar racikan yang pas. Mantap. Aku jadi ingat, Eyang Putri semasa gadisnya pernah membuka warung kopi. Kabarnya, ia juga seorang warok walaupun perempuan. Ketika berjualan wedang kopi hingga larut malam, ia pernah digoda seorang lelaki nakal. Saat si lelaki minta api untuk rokoknya, ia mengambil begitu saja bara panas dengan tangannya lalu disorongkan pada lelaki itu. Sontak merah padam muka lelaki iseng itu dan tanpa permisi ia langsung lari terbirit-birit.

Pintu senthong berderit menyentak pikiranku. Eyang Warok membawa nampan berisi sepasang gelas dan lepek. Kembang tujuh rupa yang kami bawa tadi, sekarang telah bercampur dalam air di gelas. Di lepek, dua irisan uwi bersisihan, konon semua susuk bersemayam padanya. Ia kembali duduk. Wajahnya tampak merapuh. Kerut-merut muka perseginya lebih kentara karena tersepuh keringat tipis. Konon kabarnya, berhubungan dengan ilmu gaib menyita banyak energi.

“Silakan dihabiskan!”

Eyang Warok menyorongkan lepek dan gelas ke depan kami. Tiba-tiba benakku disergap wejangan agar berhati-hati pada hal-hal syirik. Jauhi ilmu santet, Jaran Goyang, dan kebal. Aku gamang, namun ingatan tentang kematian Kang Pur, Parikesit, Sasmita, dan Tejo lebih kuat menancap dan menggulung wejangan itu.

Karso mengambil uwi dengan jepitan jempol dan jari telunjuknya. Kepalanya mendongak dan layaknya minum pil ia dorong uwi itu ke tenggorokannya. Lalu meraih gelas, dan menenggaknya hingga habis. Karso menepuk pahaku, menebalkan nyaliku. Kegamanganku menyurut. Aku tak mau mati ketika anak-anakku masih kecil. Aku meraih uwi dan segera menelannya, lalu meminum habis air kembang. Tandas sudah. Hanya menyisakan ampas yang tersangkut di rongga mulut dan bonggol kembang di dasar gelas.

Konon  uwi dan air kembang itu untuk melancarkan susuk ke posisi masing-masing. Kata Karso, sepasang susuk akan menetap di kedua alis mata agar kewibawaan merasuk dan kepala tahan pukul, dua pergelangan tangan agar kekuatan memukul berlipat, dada agar kebal senjata, tulang punggung membaja, dan dengkul supaya kuat menendang.

Tiba-tiba muncul sepasang kelelawar terbang mengitari limasan lalu hinggap di atas barong macan. “Hati-hati!” suara berat Eyang Warok mengagetkanku. Ia langsung berdiri dan bergegas ke pintu. Udara terasa panas.

Aku mendengar derap langkah mendekat. Eyang Putri tiba-tiba sudah ada di depanku, ia segera mematikan suluh lampu, gelap kembali menyergap. Suara kelelawar berdericit ke seantero ruangan. Perasaan aneh dan ngeri menyelimutiku.

“Kalian larilah lewat pintu belakang lalu susuri setapak di dalam hutan! Kalian pasti selamat,” suara Eyang Putri berirama cepat.

“Tidak, Eyang Putri. Kami di sini saja,” kata Karso.

Aku diam, lebih karena dikuasai keterkejutan. Kaki-kaki menderap makin keras dan terdengar gemuruh di pelataran.

“Wulunggeni! Keluar kau!!” Teriak seseorang dari luar, meledakkan kecemasanku. Jantungku berdetak kencang. Tiba-tiba rasa takut merajam.

Selot pintu ditarik, kulihat segerombol orang di pelataran mengacungkan  montik (golok). Jantungku serasa copot, terlihat paling depan Warok Wirodigdo dan seorang yang bersenapan.

Eyang Warok berjalan keluar dijajari Eyang Putri. Mereka langsung berhadapan dengan Warok Wirodigdo dan seorang bersenapan itu.

“Ada apa Wiro?” tanya Eyang Warok.

“Aku tak mau basa-basi! Kau selama ini yang menyokong BRP. Aku mengantarkan bapak ini untuk menangkapmu!” jawab Warok Wirodigdo.

“Tapi apa salahku, Wiro?! Bukankah aku hanya berkesenian saja? Tak lebih!” Sikap Eyang Warok menegas.

“Aku tak peduli! Kata bapak ini, kau harus dilenyapkan!”

Warok Wirodigdo langsung menyerang. Semua orang menyingkir. Mereka tahu, senapan dan senjata tajam tak berguna dalam pertarungan itu. Ilmu kanuragan lah yang utama.

Eyang Warok melompat ke pelataran diikuti Warok Wirodigdo. Mereka membuat arena pertarungan yang luas. Orang-orang mengerubungi Eyang Putri, mengeroyok perempuan tua itu. Karso segera membantunya.

Dadaku berdegup keras. Cemas merayapi sekujur tubuhku. Suara debum memekakkan telinga. Juga pelor yang ditembakkan. Letupan montik berbenturan berpijar di mana-mana. Kulihat sepasang kelelawar bersimbah darah, berkelojotan di tanah. Kematian merajam benakku kuat-kuat. Wajah anak-anakku membayang jelas.

Paku-paku menancapi pikiranku: antara lari melewati pintu belakang atau memilih pertarungan.

Dan, tubuhku bergetar! Serasa menebal pelan-pelan, membesar. Ototku mengencang, tulangku mengeras, berderakan. Aku merasa ilmu kebal merasuki tubuhku hingga sumsum tulang. Jantungku terpacu, nyaliku membaja! Aku mengamuk seperti banteng terluka. (*)

 

 

Ponorogo dan Solo, Januari 2010

Han Gagas, penulis kumpulan cerpen Jejak Sunyi, 2008.

Advertisements