Cerpen Orhan Pamuk (Suara Merdeka, 21 Maret 2010)

Saudara Jauh ilustrasi Abdullah Ibnu Thalhah - Suara Merdeka
Saudara Jauh ilustrasi Abdullah Ibnu Thalhah/Suara Merdeka

KAMI berjalan di sepanjang Jalan Valikonagi, menikmati malam musim semi yang sejuk. Pertunangan kami baru saja diresmikan; kami sedang mabuk dan dalam semangat yang tinggi. Kami baru saja ke Fuaye, restoran mewah baru di Nisantasi; saat makan malam bersama orangtuaku, kami membicarakan panjang lebar segala persiapan pesta pertunangan yang dijadwalkan pertengahan Juni.

Dalam perjalanan pulang ke rumah Sibel sore itu, saat lenganku merangkul dengan penuh kasih bahunya yang kokoh, ia tiba-tiba berujar, “Oh, tas yang indah!” Walaupun pikiranku dikaburkan oleh anggur yang memabukkan, aku berusaha mengingat tas tangan dan nama butiknya, dan keesokan harinya aku kembali.

Pemilik butik Sanzelize, Senay Hanim, masih memiliki hubungan kekerabatan dengan ibuku, tapi dia tidak ada ketika aku masuk ke butik sekitar jam dua belas siang. Saat itu hari panas, tapi di dalam toko dingin dan gelap. Mulanya aku berpikir bahwa tidak ada seorang pun di sana sebelum muncul seorang perempuan yang mendadak membuat hatiku terasa naik ke tenggorokan. Aku langsung berujar: “Saya ingin membeli tas tangan di manekin itu.” Aku mencoba berkata, meski terbata-bata.

“Maksud Anda Jenny Colon yang berwarna krem?”

Ketika kami saling tatap, aku segera teringat siapa dia.

“Tas tangan di manekin jendela pajang,” aku mengulangi.

“Oh, baiklah,” katanya dan kemudian berjalan ke jendela. Dengan cepat ia melepas salah satu dari pantofel kuning berhak tinggi miliknya, merentangkan kakinya yang telanjang—yang kukunya tampak dicat merah dengan rapi— ke lantai area pajangan, dan merentangkan lengan ke arah manekin. Mataku mengarah dari sepatu yang dilepasnya sampai ke kaki telanjang yang panjang. Panjang kakinya membuat rok berenda kuningnya tampak lebih pendek. Sambil membawa tas, dia kembali ke meja dan dengan jari-jari yang lentik dan terampil, mengeluarkan gumpalan bola kertas tisu, menunjukkan kepadaku bagian dalam ritsleting saku, dua saku kecil (keduanya kosong), dan juga sebuah kantong rahasia, yang darinya ia mengeluarkan kartu bertuliskan “Jenny Colon,” semua geraknya tampak misterius dalam keseriusan, seolah-olah ia menunjukkan kepadaku sesuatu yang sangat pribadi.

Advertisements