Cerpen Khrisna Pabichara (Republika, 21 Maret 2010)

Pakarena ilustrasi Rendra

[Kepada Meilani Goenawan dan Belline Sucipto]

1

 

NEGERI kelahiranmu begitu sepi dan asing, bersungkup misteri dan teka-teki. Tak perlu kukisahkan padamu kenapa aku bisa berada di sini, di Wuhan, sebuah kota di Tionghoa, tempat leluhurmu dulu riuh beranak-pinak. Tapi jika kamu tetap memaksa, baiklah, ada satu alasan yang tak terbantahkan: Aku berusaha mencarimu. Namun, semuanya sia-sia. Wuhan kota dengan danau bak cermin ini, seolah menelan riwayatmu begitu saja. Sungguh, aku ingin tahu seperti apa kini rupamu. Masih bercahayakah mata sipitmu? Masih memukaukah sepasang dekik di pipimu? Masih hangatkah senyum cerahmu?

Sebenarnya yang ingin kutanyakan padamu cuma satu, kamu belum bersuami?

2

Jangan, jangan bertanya kenapa aku memaksakan diri melancong sejauh ini. Sebermula kepergianmu yang sangat tiba-tiba, seolah meragukan kemampuanku untuk menentang segala ihwal yang ditetapkan adat, lalu aku menyusulmu. Aku lebih memilih cinta daripada tradisi yang abai meletakkan manusia pada tempat sesungguhnya. Ya, kerabatku yang membenci etnis Tionghoa dan keluargamu yang memandang remeh para pribumi. Kita ada di persilangan budaya yang selalu bersinggungan, selalu berlawanan.

Merebak lagi kenangan dari mana semestinya perasaan ini mulai kuceritakan.

Dua puluh tahun silam sebelum kukisahkan kenangan ini, kita dipertemukan waktu di sebuah panggung pertunjukan. Kala itu, kita mementaskan kisah percintaan abadi, Romeo dan Juliet. Takdir memilihmu jadi Juliet, dan aku didaulat sebagai Romeo. Tak berselang lama, aku pastikan hatiku jatuh cinta padamu, perempuan Tionghoa pertama di sekolah menengah Karawitan satu-satunya di belahan timur nusantara itu.

Sungguh, aku ingat persis setiap adegan peran kita di atas panggung.

“Aku tak sanggup mengenalkan nama,” tutur Romeo dengan wajah bermandi cahaya bulan. Kemudian berjalan mendekati Juliet, hingga bersisa seperentangan lengan. “Jelitaku, sungguh, kubenci namaku sendiri, karena dia menjadi musuhmu. Jika ada namaku, akan kurobeklah dia.”

“Bukankah kamu Romeo, seorang Montogue?” Tanya Juliet.

“Bukan, kalau kamu tak suka!” Sergah Romeo.

“Bagaimana kamu kemari?” Seru Juliet, takjub, lalu berkata, “Pagar tembok itu tinggi dan susah dipanjat.”

Romeo tersenyum, “Sayap cinta menerbangkan aku melewati tembok tinggi itu.”

“Tapi, kamu bisa mati.”

“Cinta menyulut nyaliku berani berbuat lebih.”

“Jika ketahuan, kamu akan dibunuh.”

“Cahaya matamu jauh lebih mematikan!”

“Kamu mencintaiku?” Tanya Juliet. “Aku tahu jawabanmu. Pasti, ya. Dan aku percaya. Tapi, kumohon, jangan bersumpah. Aku tak mau sumpahmu palsu. ‘O’, putra Montogue, konon, Jupiter suka memperdaya sumpah orang yang sedang jatuh cinta.”

3

Begitulah kenangan itu menyatakan dirinya. Tunggu dulu, bukan dari sana hikayat cintaku bermula. Jauh sebelumnya. Ketika pesta kenaikan kelas, waktu itu kamu dengan rancak memainkan tunrung pakanjarak, tetabuh gendang bertalu khas Makassar. Tak lama berselang, tubuhmu meliuk gemulai menyajikan tari Pakarena pada riuh pelantikan Bupati Gowa. Mataku tak berkedip menatap setiap pukau gerakmu. Aku nyaris lupa naskah aru—ikrar setia rakyat Gowa kepada pemimpinnya—padahal, lafaznya telah kuhafal di luar kepala. Betapa ganjil, seorang gadis keturunan menguasai tari Pakarena. Maka wajar jika aku mengagumimu. Kekaguman itu pula yang memaksaku di hari-hari berikutnya berkeras mendekatimu. Hampir tak ada hari kubiarkan berlalu dengan menjauh dari sisimu. Hingga kusadari, ada perasaan ganjil yang entah apa telah menguasai hatiku. Hari dan bulan berlalu. Aku setuju jadi Romeo, kamu sepakat jadi Juliet. Sejak itu, aku punya panggilan khusus untukmu. Gadis Pakarena, begitu aku menamaimu.

Aku masih ingat, suatu ketika, kamu bilang shio-ku shio macan. Sungguh, aku orang yang sangat tak peduli pada rupa-rupa takhayul. Jangan heran jika aku terkikik menahan geli. Ketika itu, mata sipitmu meripit, “Ini bukan takhayul!” Sanggahmu sembari memukul lenganku dengan pelan. Hatiku berdesir. “Aku yakin itu cinta.”

Kali lain, kamu berkisah tentang legenda Imlek. Nian, aku masih hafal nama monster itu. Ketika kutanya apa maknanya, kamu menjawab cergas, “Nian itu tahun.” Sesudahnya, kamu mendehem saja, memintaku berusaha sendiri menyisir legendanya.

4

Riwayat mencatat, seperti pernah kamu kisahkan padaku, dulu sekali di tengah danau, seekor monster bermata besar bertanduk tunggal, tidur sepanjang tahun. Orang-orang menyebut monster itu Nian. Arkian, setiap musim semi dia bangkit dari tidurnya. Selain memorakporandakan ladang dan tanaman, monster berkuku tajam itu suka melahap manusia. Tak ayal, musim semi menjelma sebagai momok paling mengerikan. Tak ada yang bisa dilakukan warga desa, kecuali mengungsi jauh ke tempat aman di daratan tinggi. Sejauh-jauhnya, setinggi-tingginya. Semuanya mengungsi, kecuali seorang nenek renta yang tak lagi mampu berlari dan tak punya anak-cucu yang bisa membantunya menyelamatkan diri.

Riwayat juga mencatat, seorang pengemis berjalan mengitari desa sunyi itu. Perut lapar menyeret langkahnya ke gubuk sang nenek renta. Gayung pun bersambut. Sembari melahap makanan seadanya, pengemis itu menajamkan kuping, menyimak sebab-musabab ketakutan warga desa. Lalu, dia bertutur ihwal penangkal yang mujarab buat mengalahkan monster itu. Dia kabarkan betapa monster itu takut pada segala yang lebih besar darinya, suara keras lagi bising, dan warna merah menyala.

Dari sanalah bermula tari Barongsai, petasan, dan genderang. Juga tradisi ang pao. Kelak, seperti katamu, pengemis tua itu diyakini sebagai dewa yang diturunkan Kaisar Langit untuk menyelamatkan manusia. Dan, setiap tahun baru diperingati hingga kini, dengan nama Imlek.

5

Kamu juga kerap berkisah tentang rumah leluhurmu di tepi danau Dong Hu. Lalu, semasa pakansi, aku menemanimu pelesir ke Danau Matana di Soroako, kota bertabur nikel yang dikitari perkampungan miskin di Luwu Utara, sekadar melipur rindumu pada danau. Yang kusesali, aku tak bisa sefasih dirimu mengeja legenda. Maka, aku menggeleng ketika kamu bertanya tentang riwayat danau itu. Yang kutahu, matamu berkaca, setengah mati menahan airmata agar tak tersiar padaku.

Hingga kenyataan dengan bengis memisahkan kita. Ya, keluarga kita bermusuhan layaknya keluarga Montogue dan Capulet. Suku—agamaras—adat  pun diseret-seret sebagai alat pembenaran. Cinta kita dikalahkan. Kamu diungsikan ke Jakarta, aku dipulangkan ke kampung. Sejak itu aku kehilangan jejak. Sejak itu pula setiap hari layaknya hari berkabung bagiku. “Aku yakin itu cinta. Bagaimana denganmu?”

Aku yakin kamu pasti merasakan kepedihan yang sama. Tapi kita bisa apa?

6

Maka, tibalah aku di sini, di tepi Danau Dong Hu. Jangan tuding aku gila! Tak perlu mencari jawab apakah aku benar atau salah. Lumrahnya pemilik shio macan yang lain, logika tak ada artinya bagiku. Aku berani menyatakan segala yang kuyakini, semisal membantah segala penyimpangan pandangan orang tentang kaum asing. Meskipun, kusadari itu sudah terlambat dan tak berarti apa-apa. Kita telah sama-sama kehilangan.

Aku hanya ingin bercerita padamu tentang kenangan sebuah perasaan. Tidak usah kukabarkan betapa rindunya aku. Cukup aku jelaskan serba sedikit: aku sangat kehilangan, dan kehilangan itu tersebabkan satu hal yang dulu belum bisa aku ubah. Maka, jika aku bisa menemuimu lagi, cukuplah itu. Kamu ingat, dulu kita benar-benar percaya bahwa Kitab Penyatuan itu sungguh ada. Kitab besar yang memuat daftar jodoh setiap manusia, dan Tuhan akan menggerakkan penanya untuk mencentang nama setiap pasangan. Kamu dulu sering merasa kurang khusyuk berdoa, sampai-sampai kamu memejamkan mata rapat-rapat dan memintaku berlekas menggeser gerakan pena Tuhan.

Namun, kita memang tidak berjodoh. Oh, bukan tidak, tapi belum.

Malam ini, musim semi menghangatkan tubuhku. Jika tak salah ingat, setiap musim dingin, katamu, Wuhan pasti bersalju. Karena itu aku menyambanginya saat musim semi, ketika semua orang sedang riuh menunggu Tahun Baru Imlek. Andai kamu temani aku mencicipi masakan Hubei, menonton Opera Beijing, atau menyepuh tubuh dengan kabut dan cahaya bulan di tepi danau, seperti dulu kerap kauwartakan padaku, pasti tak sesepi ini. Tak sepedih ini.

Aku seperti sebongkah batu bisu. Diam dan kaku. Udara dingin menyergap. Angin berkecepatan rendah bertiup dari arah barat laut. Begitu lembap, begitu dingin. Suhu di bawah tujuh derajat celcius terasa menyayat pori. Sungguh, angin malam yang tak ramah mengilu kulit, merasuk ke semua rusuk tulang, menyelusup dan memenuhi hati. Tahukah kamu, sambil menahan gigil, aku lagi menyesali nasib suram dan membilang kebodohan masa silam? Sesal memang suka datang terlambat.

Kamu masih mau jadi Ibu bagi anak-anakku, kan!

Sudah semakin larut dari malam yang kita sepakati, kamu belum juga tiba. Ke mana saja? Jangan-jangan kamu takut bertemu denganku karena sudah tidak sejelita dulu. Jika itu benar, kamu salah. Aku selalu cinta pada hatimu, bukan rupamu. Apalagi tubuhmu. Ayo, datanglah! Malam ini kita shou yue, begadang sambil pesta ikan bakar, main mahjong, atau berbincang di beranda rumah hingga pagi. Lalu, kita rayakan Imlek bersama-sama.

Aduhai, kamukah itu yang berjalan menghampiriku? Itu kamu. Ya, kamu. Sungguh tak berubah sama sekali. Ternyata waktu tak kuasa memangsa jelita rupa dan tubuhmu. Kamu tetap secantik dulu. “Kau,” kataku dengan suara bergetar.

“Ya. Benar. Ini aku, menunggu kedatanganmu bertahun-tahun. Aku yakin kamu akan menepati janji, menemaniku menulis sajak di kertas merah untuk dipajang di daun pintu. Sudahlah. Tak perlu berlama-lama di sini. Mari ke rumahku.”

7

Keesokan paginya. Wuhan rebah di belantara sunyi. Tak ada ingar-bingar petasan dan riuh genderang. Aku terbangun dan menyadari diri terbaring di tempat ganjil. Yang asing, yang lengang. Tanpa kamu, tanpa keluargamu. Tanpa sesiapa. Aku tak mengerti bagaimana bisa aku tiba di hening pekuburan, dan menemukan namamu di kilau nisannya. Asing dan gasal rasanya. Ditambah kabut yang datang dan pergi tiba-tiba. Dan, kupingku dikejutkan bisikan lirih yang memaksa bulu-bulu di tubuhku sekonyong-konyong serempak berdiri. Entah dari mana asal bisikan itu, aku tak mengerti sama sekali. Bisikan itu begitu pedih, memilin-milin hatiku.

“Meilani Goenawan sudah tiada. Dia mati bersama luka perkosa ketika kerusuhan Mei terjadi. Kamu tahu kerusuhan itu, bukan?”

Kamu telah menempuh jalan Juliet. Apakah aku akan menempuh jalan Romeo? (*)

 

 

Jakarta, Januari 2010

Khrisna Pabichara, lahir di Makassar, 10 November 1975. Saat ini bergiat di Kosakata, Komunitas Mata Aksara, dan Komunitas Planet Senen.

Advertisements