Cerpen Setta SS (Jurnal Bogor, 14 Maret 2010)

SEJAK lebih tiga tahun lalu saya tinggal di Kota Gudeg ini, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Berita lelayu, yang sering saya dengar dari pengeras suara di atas menara Masjid At-Taqwa, sekitar 100 meter dari tempat kos saya.

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh

Ada berita lelayu

Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun ….

Bapak pembaca berita lelayu itu mengucapkan ayat 156 surat Al-Baqarah sebanyak tiga kali, seperti biasanya. Lalu ….

Telah meninggal dunia dengan tenang

Nama : ….

Usia : ….

Alamat : ….

Meninggal pada hari … pukul ….

Kemudian dilanjutkan dengan menyebut keluarga yang ditinggalkannya; istri atau suami, kakak, adik, anak, hingga cucu-cucunya, kalau memang ada. Dan pada akhirnya, memohon dengan hormat pada siapa saja yang mempunyai waktu luang dan bersedia untuk bertakziah dan sekaligus mengantarkan si mayit ke tempat peristirahatan terakhirnya di dunia ini, liang lahat!

Saya biasanya hanya mengecilkan volume radio yang sedang saya putar sesaat untuk mengetahui siapa orang yang meninggal pagi itu dan berapa usianya. Selebihnya saya segera memutar lagi volume radio hingga suara pengumuman itu tak terdengar lagi. Begitu juga dengan semua teman-teman sekosan saya.

Bagi saya, berita itu sudah menjadi santapan rutin hampir setiap hari. Biasa-biasa saja. Tidak ada yang aneh sama sekali. Paling isi beritanya ya itu-itu juga. Hanya tinggal mengganti nama orang yang meninggal, usia, dan tempat tinggalnya. Beres!

Seperti yang barusan saya dengar, bapak itu kembali mengumumkan sebuah berita lelayu. Selalu saja tepat menjelang jam enam pagi, saat saya sedang membaca diklat kuliah sambil mendengarkan radio ditemani secangkir teh poci hangat.

Saya sempat tercenung cukup lama tadi. Usia orang yang meninggal pagi ini 105 tahun!

Tadinya saya pikir bapak itu salah baca. Tapi ketika dia mengulangi membaca untuk kedua kalinya, tetap saja suaranya dengan sangat jelas mengatakan usia seratus lima tahun!

Akhirnya, mau tak mau, saya harus mengakuinya juga bahwa saat ini pun ternyata masih ada orang yang usianya melebihi angka seratus! Bah!

Tiba-tiba saya langsung teringat usia saya saat ini. Usia saya baru 21 tahun kurang dua bulan dan sembilan hari. Jadi, kalau seandainya saya juga diberi umur hingga 105 tahun, berarti saya masih punya sisa waktu 84 tahun lagi ya?

Ah, masih jauh, baru seperlimanya! pikir saya santai.

Namun saya bisa menyimpulkan, rata-rata usia orang yang meninggal, yang selalu diumumkan oleh bapak itu, tidak lebih dari 70 tahun. Paling banyak usia enam puluhan. Ada juga beberapa yang usianya di bawah 30 tahun.

Saya masih ingat, dua hari yang lalu, bapak itu membacakan sebuah berita lelayu tentang seorang wanita yang meninggal dalam usia 27 tahun. Tetapi, belum pernah sekalipun saya mendengar usia orang yang meninggal itu 21 tahun, sama seperti usia saya. Apalagi hanya seorang bayi yang baru beberapa bulan hadir di dunia ini.

Entah karena memang tidak ada atau berita lelayu ini hanya khusus untuk mengabarkan mereka yang meninggal dalam usia tua saja, saya tidak tahu. Saya hanya suka saja mendengarkan bapak itu membacakan sebuah berita lelayu di pagi hari. Tidak lebih dari itu! Lagian apa peduli saya?

***

“KENAPA Bapak menangis?” tanya saya heran menyaksikan punggung bapak itu berguncang-guncang menahan isak, bersandar pada dinding masjid di dekat tempat mik.

Tadi saat saya pergi ke warung untuk membeli satu kotak kecil teh poci, bapak itu mengabarkan sebuah berita duka lagi. Iseng, saya melongokkan kepala dari jendela masjid yang terbuka untuk melihat apa yang sedang dilakukannya.

“Setiap kali saya membacakan sebuah berita lelayu, saya jadi teringat akan jatah usia saya sendiri. Saya tidak tahu kapan akan mati, tetapi saya yakin suatu hari kelak akan datang saatnya, giliran saya yang diumumkan telah mati lewat pengeras suara ini,” jawab bapak itu dengan suara bergetar, masih dengan isaknya yang putus-putus.

“Kematian adalah awal siksaan yang sangat menyakitkan bagi orang yang durhaka. Sementara, saya sendiri tidak begitu yakin akan bisa selamat melewati pintu yang satu ini jika waktunya telah tiba nanti,” lanjut bapak itu lagi tanpa saya minta.

Bergegas saya meninggalkan bapak itu setelah dia menuntaskan semua kata-katanya pada saya.

Uh, saya heran, kenapa saya hanya diam saja tadi saat dia bicara tentang hal yang menurut saya biasa-biasa saja itu. Saya seperti terhiptonis! Tetapi ada nuansa lain yang saya rasakan setelah mendengar kata-katanya tadi.

Ya, sesuatu yang jarang sekali saya pikirkan. Bahkan selalu terlupakan dari ingatan saya selama ini: KEMATIAN. Karena jujur saja, saya sudah cukup sibuk memikirkan bagaimana agar bisa lulus setiap mata kuliah dengan nilai baik, segera menyusun TA, maju sidang, wisuda, dan segera bekerja di perusahaan bonafid impian saya. Dan saya benar-benar terlena dari memikirkan hal yang satu itu.

Tetapi, diam-diam, saya merasakan hawa dingin menelusup, menembus saluran pengeluaran di kulit ari saya. Bulu kuduk saya berdiri!

***

SELEPAS Isya ….

Nderek mboten, Mas?” sapa seorang bapak setengah baya yang membawa kotak infak masjid kepada saya. Bapak yang selalu mengumumkan berita lelayu itu.

Di luar masjid, bapak-bapak yang lain sudah berkumpul untuk bersama-sama berangkat ke rumah orang yang anggota keluarganya meninggal untuk membaca surat Yasin dan tahlilan.

Tadi pagi saya sedikit kaget mendengar suara kentongan dipukul bertalu-talu. Tadinya saya kira ada maling yang tertangkap, seperti biasanya bunyi kentongan di kampung kelahiran saya. Setelah suara kentongan itu reda, telinga saya langsung menangkap suara khas bapak tadi di pengeras suara mengumumkan sebuah berita lelayu lagi.

Saya baru tahu, ternyata kentongan berdiameter hampir satu meter di samping masjid yang tidak pernah dipakai itu hanya dipukul ketika ada berita lelayu dan orang yang meninggal itu penduduk asli di sekitar masjid ini.

Mboten, Pak. Saya ada urusan lain,” jawab saya pendek. Saya kurang suka bepergian ke rumah orang yang sedang berduka. Pasti suasananya juga serba kelabu. Diliputi kesedihan.

Monggo, Mas,” pamitnya pada saya sambil menganggukkan kepala.

Saya juga menganggukkan kepala sambil memasang sebuah senyum tipis. Tanpa sepengetahuannya, saya memperhatikan langkah-langkah bersahajanya menyusul bapak-bapak lain yang mulai berjalan meninggalkan pelataran masjid.

Kalau saya lihat dari perawakan sedangnya yang tampak masih cukup kekar dan sehat, saya tebak usianya sekitar setengah abad, atau kalau pun lebih tak akan terlalu jauh.

Saya bertanya dalam hati, berapa tahun lagi nih bapak akan mati?

Kematian itu seperti buah kelapa jatuh, Mas. Memang banyak kelapa yang baru jatuh di saat sudah benar-benar tua dan penuh dengan pati. Namun, tak sedikit pula yang sudah lepas dari mayangnya pada waktu masih degan, kelapa muda. Bahkan, ada juga yang sudah berguguran kala masih berupa bunga.

Jika selama ini usia orang meninggal yang saya umumkan hampir selalu di atas lima puluhan, bukan berarti maut hanya bagi mereka yang sudah renta saja. Ia akan mendatangi siapa saja tanpa memandang batasan usia.

Saya tersentak sendiri. Kenapa perkataan bapak itu lagi yang ke luar dari memori saya untuk menjawabnya?

Saya merasakan sesuatu yang kasat mata merayapi seluruh permukaan tubuh saya seketika. Sama seperti yang saya rasakan saat pertama kali bapak itu mengucapkannya. Dingin!

Bergegas saya melangkahkan kaki menuju tempat kos saya yang tak berapa jauh dari area masjid itu.

***

SEHARI berselang ….

Tong! Toong!! Toong!! Toong!! Tooongg!!!

Saya terlonjak kaget dari tempat tidur. Reflek, mata saya yang terasa sempit saya kucek-kucek dengan punggung tangan kanan saya. Ternyata saya ketiduran lagi sehabis shalat shubuh tadi.

Toong!! Toongg!! Toonggg!!!

Perhatian saya langsung tertuju pada suara kentongan itu. Tiba-tiba saya langsung teringat sesuatu. Saya alihkan mata ke arah jam weker di pojok meja belajar. Tepat sekali, sekarang pukul enam kurang beberapa menit. Seperti biasanya, memang jam seginilah bapak itu selalu mengumumkan sebuah berita lelayu.

Dan tentunya, sama seperti kemarin pagi, pasti hari ini yang meninggal juga penduduk asli sini. Suara kentongan tadi tandanya.

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh

Ada berita lelayu

Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun ….

Saya merasakan ada sesuatu yang janggal dari nada suara itu. Suaranya tidak seperti biasanya.

Telah meninggal dunia dengan tenang

Nama : Bapak Rabejo

Usia : ….

Tiba-tiba tubuh saya langsung lunglai seketika.

Saya tidak memperhatikan lagi apa yang diucapkan oleh suara itu selanjutnya. Hanya satu hal yang saya ingat, namanya Pak Rabejo, jawab si Ifan, teman sekos saya yang sering ikut mengajar anak-anak TPA di sore hari, saat saya tanya nama bapak yang selalu mengumumkan berita lelayu itu sebulan lalu! (*)

Yogyakarta, 13 Oktober 2oo3 o3:37 p.m.

Setta SS, lahir di Lubuklinggau 22 Desember 1981, penikmat sastra, alumni Jurusan Mesin FT UGM.

Advertisements