Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 07 Maret 2010)

Kota-kota Kecil Penyanggah Kota Kecil ilustrasi Jawa Pos (1)
Kota-kota Kecil Penyanggah Kota Kecil ilustrasi Jawa Pos 

KARYA seni adalah persimpangan jalan, tulis Milan Kundera, saat ia kubaca dalam perjalanan. Bahuku terguncang karena batu dan lubang jalanan, tapi kuteruskan membaca, menyusuri sebuah pikiran. Jumlah jalan yang bertemu, lanjut Kundera, akan menentukan mutu seninya. Aku berpikir, jika kota dapat dikatakan sebagai karya seni, jalanan seperti apakah gerangan yang akan menentukan mutu sebuah kota?

Aku mengangkat kepala, menatap ke luar jendela dari bus yang berderak. Pohon-pohon, deretan rumah, dan semak-semak ikut bergerak. Bus kemudian memelan melewati pasar dengan simpang yang semrawut. Suara orang ramai seperti berebut masuk melewati kaca-kaca yang retak dan berdebu. Teriakan penjual obat pecah di tepi jalan. Penjual sayur mencangkung di muka keranjang. Lelaki tua menarik kambing dan seorang anak muda memarkir motor tanpa plat pas di moncong bus. Ketika akhirnya bus, susah-payah, lolos dari perangkap persimpangan, aku larut kembali memaknai simpang bagi sebuah kota.

Ya, mula-mula silangan jalan: pertigaan atau perempatan lalu tumbuh saling memberi; persimpangan mencipta kota, kota mencipta simpang-simpang. Sebuah tempat memiliki prosfektif untuk berkembang jika terletak di tempat bertemunya dua atau lebih ruas jalan. Ia akan jadi tempat pemberhentian, karena di situ mungkin ada rumah makan, bengkel kompresor, warung kopi, terminal bayangan, stasiun kecil, dan akhirnya nanti ruko, rumah bertingkat, swalayan. Lalu bakal muncul gardu polisi, papan iklan, lampu neon, traffic-light. Kemudian jalan baru dibangun, jalan lama terbelintang, simpang demi simpang bertemu; dari sekadar tempat berhenti, jadi tempat persinggahan, lalu jadi kota tujuan. Begitulah sebuah kota tumbuh. Tetapi soal mutu? Tunggu dulu. Kadang kupikir, kota dengan banyak simpang membuat kita tersesat karena terlalu banyak alamat, terlalu banyak nama-nama!

Tapi, ah, tak ada yang sanggup menolak takdir simpang dari sebuah kota! Ia akan tetap terjaga, terus berjaga, bagi lintasan dan segala yang bakal singgah. Meski sebenarnya sebuah kota butuh persimpangan lebih “hakiki”: jalan lempang ke kota yang lain. Bukan sekadar belokan dalam kota yang hanya cukup membuat seorang pedagang sate keliling berputar-putar dengan gerobak dorongnya. Maka, kota yang memiliki pedalaman, hulu atau ”mudiknya”, punya hilir atau “induknya” sendiri—ditandai jalan yang panjang—akan lebih hidup dan berkembang. Atau kota lintasan, jalan pintas untuk menjangkau sebuah tempat lebih cepat, juga akan tumbuh lebih cepat. Namun simpang bukan sebatas darat, sebab juga ada jalan air dengan dermaga dan pelabuhannya. Itulah sebabnya, kota pelabuhan tidaklah berhadapan dengan kebuntuan laut mati. Pelabuhan sama dengan persimpangan, malah mestinya lebih banyak simpang, jalan air yang menghubungkan pulau-pulau, bahkan benua.

Aku tidak bilang kota tanpa simpang menerima kutukan jadi kota mati. Percayalah, kota tanpa simpang tapi terletak di jalur utama, jika pengelolanya tak hanya cerdik korupsi, niscaya tetap berdenyut hidup. Ia jadi persinggahan. Tempat transit, tanpa lengking pluit, jadi kota jasa dibutuhkan siapa saja. Tapi, adakah kota yang tak punya simpang di dunia?

***

Pada akhirnya, ada atau tidak ada persimpangan, sebuah kota akan menciptakan kota-kota kecilnya sendiri sebagai penyanggah. Lalu sadar atau tidak, keduanya saling memberi. Kota-kota penyanggah punya “induk” yang mengharap limpahan berkah, dan kota yang disanggah punya “mudik” yang diharap mengalirkan rezeki. Begitukah? Begitulah yang kupahami.

Memang, kota-kota penyanggah itu hanya kota kecamatan yang berkat persimpangan atau terletak di pelintasan, beroleh akses lebih baik. Lalu, seperti rumah kerang, tumbuh ia di antara kota kabupaten atau kotamadya yang lebih dulu tumbuh. Sebagian dari kota induk itu terus berkembang, sebagian lain terasa buntu. Apa pun keadaannya, kota penyanggah tetap berperan: selapis demi selapis, bagai menghikmati kulit bawang. Pendapatku ini cukup terasa jika kita menyusuri kota-kota kecil yang tumbuh subur di Pulau Jawa. Besarnya jumlah penduduk mungkin membuat “kebutuhan” akan kota di Jawa jadi tinggi, sebab kotalah gudang kebutuhan dan pusat konsumsi. Itu satu hal. Tapi paling penting ialah akses jalan yang bagus, lapang, dan mulus. Jalur utama—termasuk jalur kereta—terus berbenah, dan lebih banyak lagi jalur alternatif, dan itu artinya simpang-simpang yang terbuka.

Kawan, aku tinggal di Jogja, di kota kecil Sewon. Di sini semua jalan beraspal, jumlahnya terus bertambah, seperti labirin, membuat kau bakal tersesat berputar-putar. Sebaliknya sangat mudah mencari jalan ke luar; arahkan saja kendaraanmu sesuka hati, nanti pasti sampai di jalan utama sebab jalanan kecil itu bertemu satu sama lain. Aku merasa beruntung tinggal di tempat yang jalannya bagus-bagus seperti di sini. Tapi kadang ngelangut sedih teringat banyak tempat yang sejak dunia terkembang belum pernah sekalipun tersentuh batu dan kerikil. Ah, Kawan, aku tak tahu ke mana rasa riang sekaligus murung ini kualamatkan. Rasanya tak mungkin kepada raja dan pangeran. Meski bagi sebagian orang Jogja dianggap pusat atau titik imbang Pulau Jawa. Kau toh pernah dengar konsep-konsep filosofis semacam Mangkubumi atau Pakubuwono yang maknanya bahkan merujuk kerajaan pedalaman ini sebagai “pusat bumi”. Tapi aku tak banyak paham soal itu, sementara anggap saja tempat tinggalku titik tengah Pulau Jawa lebih karena fakta geografis. Fakta ini pun sebenarnya tak terlalu penting, kecuali hanya titik tolakku menjelajah kota ke segala arah.

Demikianlah, jika aku ke timur, aku akan bersua kota kecil penyanggah kota-kota sekitar. Yang terdekat Delanggu, kota kecil penghasil beras, menyanggah kota induknya, Klaten. Delanggu membangun ruangnya di ruas jalan Jogja-Solo, yang rasanya sebesar apa pun jalan penghubung selalu terasa tidak muat. Beberapa tahun lalu jalannya diperlebar, tapi kendaraan terasa makin banyak; rel kereta api commuter dibuat ganda, namun penumpang tambah sesak. Dan Delanggu tumbuh dengan beras aneka merk, wangi, dan pulen, meski pabrik karung goni yang dulu ia punyai sudah lama tutup, dan karung-karung plastik dengan mudah menggantikannya, semudah mendirikan toko-toko kelontong, rumah besar dan masjid warna-warni. Bersamaan dengan itu, sawahnya yang subur mulai ditimbuni tanah kapur, difondasi batu dan pasir dari Merapi; jadi ruang baru bagi kota yang berlari!

Jauh di timur, aku terkesan dengan Caruban, jalan pintas bagi bus-bus AC-eksekutif jurusan Jogja-Surabaya. Bangunannya merapat ke sisi jalan, membuat bus yang lewat seolah akan menggores dinding rumah dan toko-tokonya yang rawan. Sebaliknya, gang-gangnya terbuka lebar, becak dari pasar leluasa masuk ke kedalaman. Kurasakan, Caruban bagai sekotak brem, makanan khasnya yang manis-masam. Ia punya segala hal: dua pasar besar, stadion, terminal, bahkan gedung wakil rakyat Madiun, sebentar lagi jalan tol, tapi tidak mengubah wajah pengayuh becak di ujung gang.

Kota kecil dengan alun-alun besar ialah Bangil, kota yang tampak didirikan secara manual di antara Sidoarjo dan Pasuruan. Toko-toko di perempatannya banyak yang tua, bercat putih kelabu, sebagian berdinding kayu, tapi berkat itu tak mengenal karat dan ngengat. Simpang dan rel kereta, bersilangan bagai benang bordirnya di kain tapis. Selepas hutan jati Situbondo, aku bertemu Tenggir, tak ada di dalam peta namun ia sendiri sangat peduli pada peta; petunjuk arahnya lengkap, ke Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi. Di Jember yang basah, selepas Rambipuji, ada kota yang sama—tiada dalam peta—bernama Tanggul tapi sangat terbuka pada dunia; punya banyak tempat penukaran uang asing!

***

Ke utara dari Jogja, aku bertemu Muntilan, penyanggah Magelang dan Mungkid yang baru tumbuh di kaki Borobudur. Deretan tokonya masif, nyaris tak bercelah, semua terisi bukan hanya tape ketan dan jajan pasar, tapi seluruh kebutuhan yang pokok dan tak pokok. Toko-toko itu pula agaknya yang membedakan Muntilan sebagai kota wedana di masa lalu, dan kota niaga di masa kini. Selepas pasar bersiaplah melihat kendaraan ngebut di jalan satu arah seolah melintasi sirkuit masa depan. Tak tahu, siapa akan menang; Muntilan yang tenang, atau para pelintas dari kota-kota sekitar yang bergegas.

Di Temanggung ada juga kota pelintasan, Parakan; pasarnya terus membesar, simpangnya mempercepat tujuan. Aku terkenang masjid tua kampung Kauman, dekat tikungan, seolah jadi penunjuk arah ke Pantura, melewati jalan naik dan menurun, tembus ke Weleri. Dan di jalur Pantura sendiri tumbuh kota-kota kecil di antara ibu kota kabupaten, jadi penyanggah yang geraknya kadang lebih hidup ketimbang kota utama. Juwana di Pati, Kaliwungu-Kendal, Comal-Pemalang, Palimanan-Cirebon, Lohbener-Indramayu. Apakah karena lebih kecil sehingga denyutnya gampang terlihat mata telanjang?

Menuju ke barat, aku singgah di Kroya, sebelum Cilacap. Di sini jalur kereta utama di Pulau Jawa seakan bertemu diam-diam, di bawah stasiun beratap baja. Turunlah, luangkan waktumu menempuh jalan-jalan kecilnya, kau bersua toko pakaian, kedai swalayan, warung soto yang nikmat. Angin sawah berembus mengangkut aroma lumpur, jerami padi, dan bebek-bebek. Malam hari, sehabis hujan, suara kodok akan menidurkan kota, dan deru kereta seperti menindih mimpi.

Lebih ke barat lagi, selepas Banyumas menjelang Purwokerto, aku kerap tergeragap disambut kota kecil yang manis, Sokaraja. Manis, serasa getuk goreng atau lukisan alamnya yang lembut di kanvas beludru, membuatku selalu rindu bertemu.