Cerpen Benny Arnas (Suara Merdeka, 07 Maret 2010)

Bulan Celurit Api ilustrasi Suara Merdeka (1)
Bulan Celurit Api ilustrasi Suara Merdeka

MAK MUNA duduk di tubir jenjang. Menengadah ke kelam raya. Bulan berubah menjadi celurit api. Lagaknya mengajak pucuk Limas berseteru. Mak Muna risau. Itu adalah lukisan masa hadapan yang tak berbingkai. Apabila diutarakannya tafsir tentang “peperangan” bulan sabit dan atap rumah pusaka itu, pastilah sesiapa menolak bersetuju.

Firasatnya, kampung akan petaka. Ah, Mak Muna mati-matian menindih-redam ramalan yang menyembul-nyalang itu. Cukuplah praduganya terdahulu yang melesat bak bumerang. Menancap-menusuk kehidupannya.

Ia beringsut mengganti tengkuluk —semacam penutup kepala. Pekan lalu —Mak Muna lupa persisnya, ia diundang Salim (Ai senangnya, diundang, oi!), ketua RT, untuk berkumpul di laman Haji Makmun bakda Isa malam ini. Iyut, tetangga yang ditunggu-tunggunya, tak jua menjemputnya. Mungkin ada perkara syaríi yang menghalangi, atau… Iyut sibuk tengah menemani sanak-sanaknya dari kota; muda-mudi yang pasti beragam ulahnya….

***

ORANG-ORANG beragam usia, pekerjaan, dan kehormatan berkumpul di tarup. Tarup?! Ya, zaman kini, biasanya tenda lebih banyak dibentang. Ah, serasa kembali ke masa lama saja….

Walaupun duduk di bagian belakang, tapi, sejatinya, Mak Muna menyimpan kebanggaan. Walau ia juga tahu, tak ada yang memedulikan bunga yang tiba-tiba mekar di dadanya itu. Jarang-jarang berada satu suasana dengan Haji Makmun, orang beruang dan terpandang yang beberapa kali fotonya tercetak di koran. Ah, bulan celurit itu tak menantang pucuk Limas. Aku berlebihan saja dalam berkira….Mata tua Mak Muna menangkap rombongan ada orkes melayu di panggung. Ai ai, senangnya hati seorang tua. Ia bayangkan, irama senjang dilagukan. Umar Tanjung, pemain gitar tunggal tersohor itu akan dipadu dengan Mak Nur, sejawatnya yang merdu berejung. Anak-anak seumur Mira pun akan bermain sandiwara. Melakonkan Dul Muluk. Atau juga, belasan pasangan muda-mudi menggayung-sambut pantun adat; mengenakan belah bulu, songket dengan badong raja, tanjak di kepala, dan terompah kayu yang kemeretak-kemeretok bagi yang bujang; kain lasem, baju kurung, dan sanggul malang yang ditanam tiga tusuk kembang goyang untuk yang gadis. Elok nian malam ni!

Saking khidmatnya memundur-mundurkan zaman, tiada terasa olehnya; satu dua sambutan telah tunai. Dan… ketika malam meninggi, entah apakah karena usia yang melamurkan telinga dan mata, atau memang ia harus sadar bahwa dunia bukan lagi sangkarnya, apa-apa yang dipidatokan Haji Makmun dengan setengah berteriak itu tiada dimengertinya. Pun mereka yang makan minum sambil berdiri itu, dan… Ya Rahman, joged-jogedan di atas panggung tarup orkes….

“Ayo… lanjut! ‘Kucing garong’!!!”

Hai hai hai Mak tua, lupakah, engkau! Kini bukan zaman keresidenan dan pesirah-pesirahan. Bukan jua masa radio kemerosok melayu yang antena peraknya bergoyang kiri-kanan. Ini tahun yang baru, Mak! Indonesia Raya baru saja memilih presiden! Kita jua akan mengangkat lurah!