Zahra


Cerpen Rina Mahfuzah Nst (Republika, 28 Februari 2010)

Zahra ilustrasi Ci1

DI LUAR, gerimis turun mewarnai pagi. Gerimis pertama yang kurasakan sejak tiba di kota ini, dua hari yang lalu. Sejak semula sudah kusiapkan hatiku menerima kenyataan bahwa aku harus bertemu ayah mertuaku dalam keadaan yang berbeda dari apa yang diharapkan seorang menantu kepada mertuanya. Kematiannya.

Namun, ada hal yang lebih menggelitik batinku setelah aku berada di rumah ini. Perempuan itu. Dia bernama Zahra, kakak paling tua suamiku. Dia masih terlelap. Padahal, di luar, orang-orang sudah sibuk mempersiapkan kedatangan jenazah dari rumah sakit. Ada yang memasang teratak dan menyusun kursi. Ada yang menggelar ambal dan tikar.

Perlahan, aku mendekati tempat tidur dan menepuk-nepuk bahu perempuan itu sambil menyampaikan sebuah kabar.

“Kak Zahra, bangun. Amangboru meninggal. Amangboru sudah tidak ada lagi, Kak.”

Dia membuka mata. Rasa mengantuk masih terlihat jelas di rongga matanya.

“Sekarang, kakak bersiap-siap. Sebentar lagi rumah ini akan ramai.”

Perempuan itu hanya hening dari kata-kata. Matanya tak mengisyaratkan tangis atau kesedihan.

Ketika namboru sudah sampai di rumah duka dan jenazah amangboru telah dibaringkan dengan posisi menghadap kiblat, barulah Zahra mau mandi dan berganti pakaian. Tapi, tak lama kemudian, dia sudah ingin membuka paksa jilbabnya. Dia juga ingin membuka gamisnya. Suamiku yang menyaksikan itu hampir hilang kesabarannya.

“Sudahlah, Mak. Kalau dia tidak mau, biarkan saja dia terus di dalam kamar. Mungkin, kamar adalah tempat paling cocok untuknya.”

“Azmi, jaga kata-katamu. Dia kakakmu. Lagi pula, dia tidak sadar dengan apa yang dilakukannya,” tatapan lekat namboru memaku mulut Azmi.

Namboru kemudian memberikan sepiring nasi dengan sepotong ikan goreng di hadapan Zahra, cepat-cepat dia melahapnya. Seperti anak kecil yang acap kali menumpahkan remah-remah nasi ke luar dari piring makanannya, begitu juga Zahra. Beberapa butir nasi menempel di pipi, dagu, dan hidungnya. Bahkan, ada pula yang jatuh di bajunya.

“Zahra tidak pernah menolak makanan apa pun, Nabila. Dari ikan teri sampai ikan kakap. Dari gulai daun ubi sampai sop daging, semua dilahapnya. Tapi, jangan tanya pendapatnya tentang makanan itu. Apakah manis, asin, atau pahit karena dia tidak akan mengerti,” ucap namboru perlahan.

Sekilas, aku menatapnya. Mungkin, usianya berkisar empat puluh tahun atau lebih. Beberapa bintik hitam sudah terlihat di beberapa bagian wajahnya. Tubuhnya lebih tinggi dari aku, mungkin sekitar seratus enam puluh lima senti, tapi beratnya pasti lebih dari delapan puluh lima kilogram. Kelopak matanya menebal. Begitu juga dengan wajah, tangan, perut, dan pahanya. Persis seperti perempuan hamil lima bulan.

“Apa yang terjadi padanya?” pikirku dalam hati. Dia seperti anak balita yang masih diurus ibunya. Bangun, mandi, makan, tidur, dan seterusnya. Dan, mengapa dia hanya menyimpan keheningan dalam dirinya? Tak ada kata-kata atau reaksi yang muncul mewakili apa yang ada dalam hatinya.

“Kau heran melihat kakak iparmu itu, Bila? Dia memang begitu sejak bertahun-tahun lalu. Keempat adik laki-lakinya bahkan sudah menikah semua dan memiliki anak. Sebaliknya, dia melewati hari demi hari tanpa irama dan warna dalam hidupnya.”

Aku tercenung. Azmi memang pernah bercerita mengenai kakaknya sebelum kami menikah, tapi baru kali inilah aku mengenalnya dari dekat. Ada rasa iba menjalari hatiku melihat kenyataan yang dialami perempuan itu.

Para pelayat mulai memenuhi ruangan. Mereka mendekati jenazah amangboru dan memanjatkan doa. Namboru mengenalkan aku sebagai menantu dari anak ketiganya yang selama ini tinggal di Jawa. Mereka mengajakku bicara dan sesekali memuji kecantikanku. Tapi begitu melihat Zahra, mereka seperti melihat monster. Selanjutnya, mereka menjauh dan mulai berbisik-bisik satu dengan yang lainnya.

Saatnya berziarah. Suamiku memberi salam terakhir kepada almarhum ayahnya. Sejak delapan tahun lalu, dia tidak pernah pulang ke rumah dan bertemu ayahnya. Azmi tak kuasa menahan tangisnya. Bahunya berguncang dan air matanya mengucur deras dari sudut matanya. Aku bersama kedua anak kami tak luput merasakan keharuan ini. Tapi, Zahra hanya bergeming. Tak ada air mata mengaliri pipinya.

***

Di sudut ruangan di lantai dua, ada sebuah kursi berukiran Jepara yang berdampingan dengan sebuah meja dan lemari berukiran sama. Ada sebuah lukisan kaligrafi bertuliskan ayat kursi tergantung di dinding. Sebenarnya, rumah ini masih tampak bagus seandainya diberi sentuhan lebih modern pada pewarnaan dinding rumah ataupun susunan perabot di dalam rumah. Sayangnya, kesan tak terawat lebih menonjol.

“Setiap selesai shalat Ashar, ayah selalu duduk di situ. Menikmati segelas kopi sambil menggenggam tasbih di tangannya. Dia seorang pebisnis mebel kayu berukiran Jepara. Dari lemari, tempat tidur, bufet, kursi tamu, sofa santai, kursi goyang, dan sebagainya. Ayah juga penyuka barang-barang antik dari dalam dan luar negeri. Entah dari mana ayah belajar bisnis ini. Sebab, saat itu belum berkembang di Kota Medan.” Tiba-tiba, Azmi sudah berada di belakangku.

“Dia memang bukan seorang ayah yang komunikatif dan penuh ekspresi. Dia lebih sering mengurusi bisnisnya di dalam dan luar negeri. Tapi, kalau dia sudah berada di rumah, tepatnya di atas kursi Jeparanya, dia akan memanggil kami satu per satu.”

“Ayah akan bertanya, siapa di antara kami yang tidak pergi mengaji? Kalau tahu ada yang membolos, ayah sudah menyiapkan semacam kayu rotan kecil sebagai hukuman kami. Sama halnya kalau ada di antara kami yang merokok, mencuri uang di laci, berkelahi di sekolah, lalai dalam shalat, keluyuran, ketahuan berpacaran, dan mendapatkan nilai buruk di kelas.”

“Kekerasan yang diperlihatkan ayah di rumah bertambah sering terjadi, sehubungan musibah yang menimpa bisnisnya. Seorang pelanggan tetap yang selalu menyuplai barang dari toko ayah membuka hubungan langsung dengan perajin kayu dari Jepara. Dia juga sampai hati merebut beberapa pelanggan ayah. Ayah marah besar karena merasa telah dicurangi orang yang selama ini justru banyak belajar tentang bisnis mebel Jepara darinya.”

“Kami tumbuh dari sifat keras yang dimiliki ayah, tapi kami dapat berhasil melewatinya dengan baik. Pendidikan dan karier kami lumayan baik di masyarakat. Itu karena emak selalu menghujani kami dengan seluruh kasih sayang dan cinta yang dia miliki. Entah mengapa, justru Kak Zahra yang tertekan perasaannya sehingga mengalami gangguan kejiwaan yang tak juga sembuh.”

Aku melihat ujung mata Azmi berair. Aku mengusap lembut bahunya, lalu kubilang, “Kita hanya dapat mendoakan almarhum amangboru agar tenang dan lapang di sisi Allah, Bang. Yang tak kalah penting, bagaimana kita mengurus Kak Zahra supaya penyakitnya sembuh dan dia dapat hidup normal seperti perempuan yang lainnya.”

***

Selepas tahlilan malam ketiga, namboru sakit. Tubuhnya mendadak lemah, tenaganya seperti terkuras oleh sesuatu dari dalam tubuhnya. Walau begitu, namboru tetap tersenyum di hadapan anak-anak, menantu, dan cucucucunya. Namboru mengatakan bahwa dia baik-baik saja.

“Mak, itu tandanya emak butuh istirahat total. Sudah lama emak berkonsentrasi mengurus ayah sejak terserang stroke. Emak juga mengurus Kak Zahra tanpa mengeluh. Setelah kepergian ayah, biarkan Kak Zahra diurus oleh seorang pembantu khusus di rumah ini,” ujar Azmi mengemukakan pendapatnya.

“Azmi betul, Mak. Kami ingin emak sehat dan tidak mempunyai beban apa pun dalam hidup ini,” tambah Bang Dahlan, abang tertua Azmi. Kulihat namboru ingin menampik ucapan kedua anaknya, tapi langsung kucegah dengan ucapanku pula.

“Selama kami masih berada di rumah ini, biarkan semua keperluan Kak Zahra, Nabila yang urus, Namboru,” kataku.

Akhirnya, perempuan berusia lebih enam puluh tahun itu menganggukkan kepalanya.

“Ini foto Kak Zahra sedang bersama amangboru di halaman Istana Maimun Medan. Wah, kakak cantik sekali dengan gaun warna pink ini,” kataku kepada Zahra. Aku memperlihatkan foto masa kecilnya bersama ayah di ruang keluarga.

“Amangboru sering mengajak kakak jalan-jalan ke Istana Maimun, Bandara Polonia, Masjid Raya, dan Kebun Bunga. Banyak foto kakak dan amangboru di beberapa tempat itu. Kak Zahra paling diistimewakan amangboru, ya? Itu karena kakak anak sulung dan satu-satunya perempuan,” tambahku sambil membolak-balik album foto.

“Dulu, setiap amangboru akan pergi ke luar kota ataupun ke luar negeri, dia akan mencium ubun-ubun kakak. Katanya, supaya kakak enggak rindu dan jatuh sakit. Kakak masih ingat?” kataku sambil menatapnya, tapi tak kutemukan mentari di bola matanya. Tak juga sinar bulan. Apalagi, pelangi. Hanya ada awan yang kelabu.

Tapi, aku tidak menyerah. Aku selalu berusaha mengajak Kak Zahra berbicara. Baik di saat membangunkannya, menyiapkan sarapannya, menonton televisi, maupun memasak. Bahkan, saat memasak, kusuruh Kak Zahra ikut menyiangi sayuran, mengupas kentang atau wortel, memetik cabe, dan sebagainya. Tapi, aku seperti berbicara dengan batu, tak ada satu reaksi yang kudapatkan.

“Halo, Kak Zahra. Selamat pagi. Apa kabar kakak hari ini? Ayo, bangun dan mandi. Supaya kakak kelihatan lebih cantik hari ini. Kan malu kalau diejek sama matahari? Di luar, semuanya sudah bangun,” kataku pada suatu pagi.

Zahra bangkit. Tatapan matanya sangat aneh. Tiba-tiba, tangannya menarik rambutku dan menjambaknya dengan kuat. Aku merasakan sakit yang luar biasa di kepalaku. Aku menjerit sambil menangis, memintanya melepaskan rambutku. Suamiku datang, melepaskan cengkeraman tangan Zahra di rambutku. Zahra, perempuan bertubuh gempal itu, terjengkang ke tengah-tengah tempat tidur.

“Zahra tidak bisa dibiarkan. Dia sudah mulai meresahkan kita,” kata Azmi pada namboru dan keempat abangnya. Rumah namboru menjadi tidak tenang. Namboru sulit untuk beristirahat. Pada suatu hari, sesuai keputusan bersama, adik-adik Zahra membawanya pergi dari rumah.

***

Setahun kemudian, di sebuah rumah sakit jiwa, seorang perempuan duduk termenung di sebuah bangku panjang. Senja sudah menampakkan hadirnya, sesekali terdengar suara cericit burung di atas pohon.

“Kak, apa yang kakak pikirkan tentang figur seorang ayah? Seorang ayah adalah pemimpin sebuah keluarga, menjadi tiang yang menopang kehidupan rumah tangga. Apa bedanya hati seorang ayah dengan sepotong hati yang dimiliki ibu? Keduanya sangat berjasa, mengiringi kehadiran kita di dunia ini,” kataku layaknya seorang guru di hadapan muridnya. Kini, aku mengerti, persoalannya bersumber dari cinta yang tidak direstui orang tua. Dari situlah kebencian Zahra bermuara pada ayahnya.

“Seorang ayah juga manusia biasa, Kak. Siapa pun ayah kita tidak bisa kita samakan dengan ayah-ayah yang lain di penjuru dunia ini. Dia juga memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti sifat yang dimiliki manusia yang lain,” tambahku lagi.

“Cepatlah sembuh, Kak. Masih banyak cinta yang ada di muka bumi ini.”

Dia menoleh. Aku merasa dia akan semakin membaik. (*)

 

 

2 Responses

  1. Wah, nggak nyangka ada cerpenku di sini beserta ilustrasinya. Terima kasih ya udah dimuat di sini.

    Like

  2. lumayan..cerita yang mu7dah di cerna bisa dapat mgenisi khasanah dunia sastra kita!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: