Cerpen Hasta Indriyana (Suara Merdeka, 28 Februari 2010)

Suweng ilustrasi Suara Merdeka (1)
Suweng ilustrasi Suara Merdeka 

PEREMPUAN itu tinggal di bukit ujung dusun. Di bukit itu tak ada rumah, kecuali gubuknya. Untuk mencapai ke sana, harus melewati petak-petak tegalan sejauh dua kali panjang lapangan sepak bola dari rumah terakhir pojok desa. Ia hidup sendirian. Kisah mengenai seorang anak yang dilahirkannya, selalu menyertai jika orang-orang membicarakannya. Anak itu, yang sekarang seusia SMP, gadis ayu berkulit kuning bermata jernih, diadopsi seorang warga yang kemudian diajaknya hidup di Jakarta.

Bukit mungil bertanah cokelat itu terasa hanya dihuni burung-burung, serangga, dua ekor kambing, dan dirinya. Rumah dari papan kayu seadanya, nyaris terlihat bagai tempat berteduh bagi warga yang bertani di tegalan sekitar. Di sana ia pernah merasakan pedihnya nyaris mati. Di sana pula ia pernah merasakan manisnya kisah asmara.

***

AKU adalah warga baru di sini. Hampir setahun ini hidup menempati rumah mertua. Dua tahun jadi guru dan ditugaskan di sebuah desa tandus, telah mempertemukan aku dengan seorang jodoh. Aku bertemu istri di sebuah sekolah ketika pada suatu pertemuan musyawarah guru mata pelajaran, kami saling memerhatikan, berkenalan, menakar, dan berjanji untuk beribadah dalam sebuah ikatan perkawinan. Istriku anak petani. Ia guru honorer yang mengajar di sebuah SMP di kota kecamatan selama hampir lima tahun.

Begitulah jodoh, bertaut di suatu tempat di mana seseorang banyak mengahabiskan waktunya di sana. Kami menikah secara sederhana dan disaksikan keluarga dan tetangga. Tanpa pertimbangan rumit, kami memutuskan tinggal di rumah mertuaku. Alasan keadaan ekonomi dan sosial bukan suatu keterpaksaan bagiku. Kami bahagia.

Daerah ini, walaupun berbeda propinsi dengan tempat asalku, memiliki banyak kesamaan. Batu kapur, barisan bukit-bukit, pohon keras yang menjulang, tanah tegalan yang digarap sekali setahun dalam tadah hujan, dan orang-orang yang lentur menghadapi keganasan alam. Aku merasa seperti hidup di kampung halaman. Mertuaku, seperti orangtuaku sendiri rasanya. Entah, mungkin karena kesamaan kondisi alam membuat watak dan perilaku jadi sama. Aku seperti tidak memerlukan adaptasi yang berarti.

Sebagai pegawai negeri sipil, aku bekerja rutin enam hari, Senin sampai Sabtu. Berangkat pukul setengah tujuh, pulang pukul satu siang. Begitu terus, setiap hari. Ketika berangkat mengajar, aku hapal aktivitas warga. Keluarga muda yang belum lama menikah seperti kami, ketika berboncengan pasti mendapatkan perhatian yang lebih. Tak jauh dari rumah istri, ketika motor menggelinding seratusan meter, Lik Jono selalu menggoda kami.

“Pegangan yang kenceng, jangan cuma pinggangnya!” selorohnya. Kami pun tersenyum. Pagi-pagi begitu, di tangannya tergenggam sabit dan rentengan bumbung bambu, siap menyadap nira.

Beberapa meter kemudian, kami lewat di warung Yu Karni. Ibu-ibu sudah berkumpul di sana untuk berbelanja kebutuhan keluarga. Warung itu menjadi semacam pasar kecil yang riuh oleh ibu-ibu. Belum sampai melintas, selalu ada gurauan yang ditujukan pada kami. Saru dan seru. Begitu seterusnya, mulai dari keluar rumah sampai di depan pintu sekolah, orang-orang berkelakar dan menyapa ramah. Setiap hari.

Aku sangat dikenal di dusun ini, mungkin karena aku satu-satunya guru, pegawai negeri. Aku juga hapal siapa saja warga, mungkin karena hampir semua masih ada tali saudara dengan mertua. Tidak mudah bagiku mengenali watak masing-masing, mulai dari anak-anak sampai simbah-simbah. Termasuk seorang perempuan yang tiap pagi menggendong kendi gerabah di punggungnya.

***

“JANGAN kamu cerita pada siapa pun. Awas! Kamu tahu ini? Bisa nancap di sini!” ancam seorang laki-laki sambil menempelkan sebilah pisau dapur di leher gadis. Si lelaki memandang mangsanya, korbannya yang terlentang di amben bambu. Napasnya terengah. Berdiri memunggungi, ia mengenakan celana dengan tergesa. Keringat membasahi dadanya yang telanjang.

Gadis itu masih terdiam dengan posisi semula. Kain jarit di sampingnya ditarik untuk menutupi bagian tubuh yang terbuka. Ia diam saja. Tak bisa dibaca perasaannya lewat wajah yang dipancarkan. Sedih, takut, senang, atau biasa saja. Rautnya datar. Sementara, rasa puas sekaligus cemas merajai wajah lelaki. Dalam waktu singkat, peristiwa itu terjadi. Laki-laki kabur dari rumah gadis. Tiada orang tahu.

Tak ada berita tersebar tentang peristiwa malam-malam, seorang lelaki mengendap-endap di rumah gadis yang tinggal sendirian. Tak ada orang mengabarkan bahwa perawan ayu itu dipaksa memuaskan nafsu si lelaki. Tapi, waktu telah mematangkan kisah. Si gadis yang tumbuh mekar sendirian di pinggir dusun pun berbadan dua. Seisi desa geger. Siapa gerangan? Rapat dusun yang menyertakan perangkat desa digelar. Berkali-kali, tak mampu membuka tabir. Si gadis membisu. Tak ada yang mampu membujuk. Para istri gelisah. Orang-orang menjadi tertutup.

Maka, cara supranatural pun ditempuh. Orang pintar yang dimintai tolong, memberikan ciri-ciri fisik pelaku. Tak lebih. Beberapa lelaki berdasarkan petunjuk orang pintar jadi gelisah. Mereka, antara lain seorang perangkat desa, perangkat dusun, takmir masjid, dan seorang pelajar SMA kelas satu. Si gadis pun ditanya nama pelakunya satu per satu, nama lelaki berdasar ciri-ciri dari orang pintar itu. Ia menggeleng. Tak ada yang diakuinya.

Waktu berjalan. Jabang bayi lahir. Hidupnya seperti yatim. Ia mirip siapa? Tiada yang mirip di dusun ini. Bahkan sedesa. Bayi perempuan tumbuh menjadi anak yang ayu. Kulit kuning dengan mata jernih seperti mata air pancuran.

***

“TAK banyak orang bisa membuatnya tersenyum. Mas adalah salah satu di antara sedikit orang itu.”

“Oya?”

“Tiap pagi ia mengambil air di pancuran dengan kendi yang digendong dengan selendang. Selalu lewat rumah kita, beberapa kali. Tiap bertemu orang, wajahnya selalu seperti itu, datar. Aku heran, mengapa terhadap Mas, ia bisa demikian ramah?”

“Mungkin baginya, aku seperti seseorang yang dikaguminya. Siapa keluarganya?” Aku bertanya.

Istriku bercerita tentang perempuan yang sudah belasan tahun menempati bukit. Ini malam purnama di Sabtu malam. Kami bercerita seusai mengoreksi ulangan harian siswa. Jendela kamar kubuka. Angin semilir. Di kejauhan, cahaya bulan seperti pecahanpecahan emas berjatuhan di dahan pohonan. Satu-dua kunang-kunang melintas, bagai bintang beterbangan di atas tanah.

Rumah mertua ada di pinggir, ujung desa. Desa tetangga yang dibatasi hamparan tegalan terlihat dari kerlip lampu-lampu rumah. Tapi ada yang menyita pandanganku, gundukan bukit mungil di depan yang membentuk siluet seperti batok kelapa tengkurap. Aku memandangnya lama. Istriku tahu perasaanku, aku yang gampang terharu.

“Namanya Suweng. Ya, orang-orang memanggilnya Suweng, karena ia memakai anting-anting bermata, mata batu merah siyem. Anehnya, suweng yang dipakai hanya satu, di sebelah telinga kiri. Itu dulu, mulanya.”

Aku menggeretkan korek. Asap rokok kusebulkan ke luar jendela. Kopi di cangkir masih setengah, kuseruput pelan. Istri merapikan kertas dan buku-buku.

“Besok, pagi-pagi, dia akan menatap jendela kamar ini. Kalau kebetulan kita melihatnya, dia pasti akan tersenyum.”

Aku tersenyum. Istriku bercerita bahwa dulu Suweng tinggal bersama ibunya. Sebelum tinggal di bukit, rumahnya di RT 04 dekat rumah Mbah Wito. Semenjak ibunya meninggal, ia sendirian. Setelah peristiwa Suweng melahirkan anak tanpa bapak, ia diminta tinggal di bukit. Itu keputusan rapat desa. Kemudian, ia dibuatkan rumah sederhana oleh warga. Pekerjaannya buruh tani. Terkadang apa pun dikerjakan kalau ada warga memintainya tolong.

“Terus, rumahnya yang dulu?”

“Diminta pihak desa. Tapi sampai sekarang dibiarkan kosong.”

“Diminta? Untuk apa?”

“Entahlah, tak ada yang ingin tahu. Biar aib itu cepat berlalu, mungkin.”

Beberapa cerita menyebar ketika itu, Suweng dihamili jin. Ada cerita lain, ia diperkosa orang dari luar desa. Ada lagi cerita bahwa ia dihamili oleh seorang tokoh desa, tapi ditutup-tutupi. Ada juga yang menyebutkan bahwa sebenarnya ia hamil atas dasar suka sama suka dengan seorang pemuda di dusun ini. Cerita yang menyebar sebatas bisik-bisik. Lambat laun, peristiwa itu mengabur. Tak ada yang berusaha menguak. Semua kembali berjalan seperti tak pernah terjadi sesuatu.

***

“KAMU gadis yang cantik dan baik,” kata seorang lelaki pada Suweng di gubuknya. Suweng tersenyum. Ia paham, apa yang kemudian mesti ia lakukan. Suweng menunduk, matanya melirik buah dadanya yang menyembul. Ia mengerti bahwa lelaki itu, dan juga dirinya menginginkan satu hal.

Napas mereka memburu. Serangga malam seperti terburu menderit dan mendesah. Tak hanya sekali-dua peristiwa itu terjadi. Di malam-malam, langkah kaki laki-laki dimulai dengan berjingkat mengendap-endap tanpa alas. Tanpa janji ketemu, tapi seperti ada jadwal yang sewaktu-waktu mereka ingin memadu, ketika orang-orang seperti pulas dan terlelap. Ringkas.

“Simbokmu dituduh BTI. Tapi bisa selamat. Bapakmu diambil truk. Tak kembali. Kau mestinya juga PKI. Tapi kamu baik hati,” kata si lelaki setelah napas menyurut dan keringat mereka menyusut.

Suweng diam saja. Ia merasa lega. Membereskan amben, lalu mengambil segelas teh yang sudah disiapkan sebelumnya. Lelaki menerima, lalu meneguknya hampir habis. Wajah Suweng yang kuning, terlihat ranum ditimpa cahaya teplok. Ia menunduk membetulkan kancing kutang.

“Harusnya, kamu jadi gadis pintar. Tapi simbokmu melarangmu sekolah. Ya, tentu saja. Dan memang, percuma sekolah bagi anak komunis sepertimu. Toh nanti hanya jadi buruh atau tani. Tak bisa jadi pegawai. Mbakyumu bernasib sama seperti bapakmu. Kasihan si pintar itu. Padahal, keluargamu tak ngerti apa-apa.”

Si lelaki mengeluarkan rokok kretek. Mengambil gelas dan meminumnya lagi. Suweng sudah hapal, si lelaki pasti tidak jadi merokok. Ia ingin merokok sebenarnya, tapi takut nanti jadi lama bercengkerama. Ia selalu was-was berada di dalam gubuk Suweng. Siapa pun lelaki itu. Tapi, ia adalah lelaki yang sebelumnya menebar tanah kuburan di sepanjang jalan dusun, sebagai cara membuat warga lekas terlelap.

“Ada sesuatu untukmu. Ke sini!”

Suweng malu-malu mendekat. Lelaki itu mengeluarkan kantong kain berwarna putih. Kantong seukuran genggaman tangan diserahkan pada Suweng. Suweng membukanya. Rona wajahnya memerah. Senang bukan kepalang.

“Itu hadiah untukmu. Jangan pernah cerita pada siapa pun.”

Suweng memegang suweng yang menempel di telinga kirinya, lalu melepasnya dengan kedua tangan. Kedua telinga itu lantas dipasangi suweng baru pemberian si lelaki. Suweng beranjak mengambil cermin kotak seukuran buku tulis. Ia mendekat teplok sambil menoleh-nolehkan kepala melihat wajah sendiri.

“Sungguh ayu, kamu,” kata si lelaki sambil menepuk pantat Suweng. Ia pun pergi, menuruni bukit membelah tegalan.

Perihal perhiasan Suweng yang tiba-tiba lengkap, menjadi bahan omongan warga, terutama ibu-ibu. Agak sedikit berbeda bentuknya. Tapi, yang membuat tidak biasa, karena kedua telinganya kini terpasang suweng semua. Siapa yang memberinya? Kapan Suweng membelinya? Apa lagi yang akan terjadi, kok di luar kebiasaan? Mereka bergunjing.

Waktu pun membuktikan. Suweng hamil untuk yang kedua. Santer berita itu. Tapi, orang-orang tidak meributkan. Masyarakat seperti paham pelakunya. Orang-orang tidak berani sembarang bicara. Dalam hati mereka, biarlah si lelaki yang menanggung. Atau, kalau dibiarkan, biarlah Suweng merasakan akibatnya. Ya, beberapa warga ada yang sempat melihat kelebat bayangan lelaki naik ke bukit di malam-malam. Dalam langkah mengendap, gerak-gerik segera terbaca ia siapa. Tidak hanya satu kali bahkan.

Dulu, setelah kehamilan pertama, ia diminta tinggal di bukit. Maksudnya, agar tidak ada laki-laki sembarangan mengganggu. Bagi sebagian warga, Suweng pantas diasingkan, apalagi ia keturunan keluarga yang memang harus diasingkan. Suweng menerima keputusan rapat desa. Warga seperti berjaga, bahwa siapa pun penyelinap bukit, pasti bakal ketahuan. Tapi, Suweng tetap saja Suweng, ia seperti batu perhiasan yang memancarkan daya tarik. Ia yang pendiam, penurut, dan bodoh, diinginkan tubuhnya oleh lelaki. Alasan sejarah hidup, kondisi ekonomi, dan kelemahan lain, menjadikan ia gampang dibohongi. Ia jadi terkesan seperti perempuan murahan.

Di dusun, tidak ada rapat desa atas kehamilan Suweng yang kedua. Pada suatu waktu, mungkin orang-orang menyebutnya sebagai keberuntungan, Suweng keguguran karena terpeleset saat mengambil air di pancuran. Semua nampak bernapas lega. Juga Suweng, ia biasa dan baik-baik saja. Dan dusun tandus itu, berdenyut dalam ketidakpedulian dan kepasrahan.

***

ISTRIKU hamil setelah satu tahun kami menikah. Kami semua bahagia. Bapak mertua senang mendengarnya. Ibu mertua, jika saja beliau masih hidup, pasti begitu sumringah bersiap menimang cucu.

Kami sekeluarga berencana mengadakan syukuran, kenduri kecil. Bapak mertua menyiapkan lima ekor ayam untuk dipotong. Beberapa tetangga dimintai bantuan memasak. Ikan-ikan gurami dipanen dari kolam belakang rumah. Dapur yang biasanya sepi, sedari pagi penuh guyonan. Aku dan istriku izin tidak masuk mengajar. Rumah seperti mau hajatan.

“Wah, memang tokcer Mas Guru ini,” kata Mbak Semi memancing.

“Nah, itu, Semi diajari caranya, biar lekas dapat momongan,” kata Bude Arjo. Semua tertawa. Istriku merah padam mukanya.

“Kalau cara kan sama saja ya, Mas?” sahut Mbak Semi.

“Eh, siapa tahu kamu nggak ngerti, malah cuma dilihat-lihat, nggak dibikin-bikin,” tambah Bude Arjo. Dapur menjadi riuh.

Aku sliwer-sliwer ke dapur, ke rumah samping, ke halaman belakang, ke rumah induk untuk menyiapkan uba rampe. Hanya ada tiga laki-laki, aku, bapak mertua, dan Lik Paidi tukang sembelih ayam dan mengurus banyak hal. Semua saling membantu, tak ada upah dan bayaran. Aku senang seharian ini.

Sore hari persiapan selesai. Para tetangga pulang untuk bersiap kenduri selepas magrib nanti. Di ruang tamu, aku sejenak istirahat dan bersantai. Aku pun mengenang acara pernikahan. Kulihat lagi album foto ijab kabul, di rumah ini. Semua keluarga pakde dan paklik dari pihak istri yang merantau di Jakarta mudik merayakan pernikahan kami. Tidak ada foto ibu mertua tentu saja. Sebagai gantinya, Bude Nanik berdiri menggamit tangan bapak mertua.

Sebuah album lama kubuka. Masa lalu keluarga istriku terabadikan dalam album lawas berwarna abu-abu. Istriku saat masih dalam gendongan, masa-masa remajanya, dan foto-foto bapak dan ibu mertua ketika masih muda. Tidak banyak foto tertampang, hanya beberapa lembar saja. Aku mencermati tiap orang, melihat mode pada zamannya.

Sampai pada suatu halaman, darahku tiba-tiba tersirap ketika menatap ibu mertua. Selembar foto berukuran kartu pos yang pinggirnya mulai dilekati jamur, menyita mataku. Di foto itu, beliau memakai perhiasan yang sepertinya aku mengenalinya. Suweng bermata batu merah siyem menempel di kedua telinganya. (*)

 

Gunung Kidul, 2009