Cerpen Stefani Hid (Suara Merdeka, 07 Februari 2010)

Penyair Bejo dan Tukang Cerita ilustrasi Suara Merdeka (1)
Penyair Bejo dan Tukang Cerita ilustrasi Suara Merdeka 

TAK lama setelah matinya si tukang cerita, banyak kertas-kertas ditemukan. Salah satunya adalah kertas lusuh yang tergeletak di atas meja Bejo. Kertas itu penuh dengan tinta biru dan tulisan tangan yang konon disinyalir adalah tulisan tangan Bejo. Polisi yang menyangka Bejo adalah pembunuhnya, berusaha mencari bukti-bukti dan mengaitkan cerita-cerita. Adapun isi kertas yang ditulis oleh Bejo adalah begini:

Aku dengar orang-orang tertawa. Pertama-tama, tawa mereka tidak begitu nyata seakan speaker yang mengeluarkan suara, namun lebih seperti gema. Gema yang dipisahkan oleh jarak, tertutup oleh gunung-gunung dan dikacaukan angin. Makin lama, gema itu makin terasa, dan dengungannya menganggu kepala. Getarannya pun mulai membuatku cemas. Makin lama makin mendekat hingga suatu waktu: aku merasakannya bergetar di kepalaku.

Aku mencoba menerka-nerka: apakah itu yang begitu lucu? Anehnya, mereka semua tertawa. Tidak seorang pun yang diam atau memasang mimik lain, kecuali diriku. Aku mungkin tidak begitu peka, atau tidak sadar. Atau mungkin mereka menertawai aku. Mungkin.

Aku tidak suka orang-orang, juga tawa mereka. Mereka begitu mengganggu. Tapi selama ini, kubiarkan saja orang-orang itu. Kubiarkan mereka tertawa. Aku hanya berpikir lihat saja nantinya; siapa yang akan tertawa pada akhirnya. Maka teruslah aku menjalani hidup. Banyak berpikir tentang diriku sendiri. Membiarkan orang-orang tertawa dan membenci mereka. Aku begitu sinis dan membenci banyak orang, bahkan orang yang tidak kukenal dan kutemui secara acak di jalan atau di kota. Jika aku melihat  mereka secara tak sengaja dan aku tidak suka (selalu ada yang tidak kusuka, selalu ada yang bisa kukritik), maka aku bergumam, dengan sedikit sumpah serapah. Kadang dalam hati, kadang kuucapkan perlahan. Jika mereka mencoba berbicara denganku, jawabanku selalu ironis dan meghina mereka. Aku bahkan sangat kreatif dalam menyusun kata-kata cemoohan. Jika sesuatu berjalan tidak seperti yang kumau, mulailah aku marah-marah dan memasang muka benci. Ya, seperti itu. Aku begitu marah karena kuhabiskan hidupku dengan sia-sia. Apa yang kulakukan setiap hari; apakah itu benar dan memang patut dilakukan? Aku selalu ragu. Kurasa aku tersesat. Dan jika aku tanya pada diriku sebelum tidur tentang apa yang harus kulakukan keesokan harinya, aku sering tidak tahu. Maka aku marah-marah.

Aku gemar menulis puisi. Dan jika kubaca puisi-puisiku, kebanyakan dari mereka berbicara tentang kesedihan. Di dalam puisi-puisi itu, sang narator membenci hidup dan dunia. Perjalanan hidup adalah hasil jebakan acak yang harus dijalani meski semuanya tidak pasti dan banyak hal membuatnya terjatuh berlutut. Tapi aku dengan sangat yakin dapat mengatakan bahwa puisi-pusiku adalah cerminan kehidupan. Puisi-puisi itu nyata, sedih, dan aku juga. Itulah masa muda, pikirku, penuh dengan penolakan. Hingga akhirnya masuklah aku pada tahap selanjutnya yaitu depresi dan akhirnya menerima kenyataan. Pada akhirnya ketika aku mulai beranjak dewasa, hidup terasa tidak begitu buruk. Paling tidak, sedikit lebih baik. Namun aku tetap marah-marah.

Aku memang sering marah-marah. Jika orang lain berbuat sesuatu tidak logis atau melakukan sesuatu tidak seperti yang kumaui, maka marahlah aku. Dan akhirnya, orang itu memanggilku “bangsat” atau semacamnya. Aku tidak protes dan menerimanya, lalu kupanggil “bangsat” juga orang tersebut. Secara sedehana, mungkin benar orang-orang itu. Aku memang “bangsat”. Tersesat. Dan terlalu tergila-gila dengan diriku sendiri.

Begitulah yang ditulis oleh Bejo.

***

TAK lama setelah matinya si tukang cerita, banyak kertas-kertas ditemukan. Salah-satunya adalah setumpuk kertas yang tergeletak di atas meja di ruang kerja si tukang cerita. Kertas-kertas itu tidak semuanya terisi; hanya beberapa lembar saja yang berisi tulisan tangan si tukang cerita. Seorang laki-laki pegawai dari sebuah penerbit yang biasanya menerbitkan cerita si tukang cerita, datang ke rumah tukang cerita yang tak lagi berpenghuni (konon ia tinggal sendirian sebelum ia mati) dan berusaha mencari naskah-naskah yang mungkin saja sempat ditulis oleh si tukang cerita sebelum ia mati. Ia hanya menemukan setumpuk kertas yang saya sebutkan tadi. Sebuah cerita ganjil yang sepertinya tidak selesai. Beginilah yang ditulis si tukang cerita:

Dulu Bejo adalah orang yang sabar. Apa yang ia mau, ia sering tidak sadar. Ia hanya menjalani hidupnya dengan ringan, apa adanya. Bejo selalu menurut dan berjalan sesuai arus. Jika orang lain menasihatinya, ia selalu menurut. Sebagai contoh, neneknya pernah menasihatinya untuk tidak merokok. Bejo menurut. Ia berhenti merokok. Begitu juga jika orang lain tidak peduli tentang dirinya, ia tak pernah menuntut. Namun setelah masa remajanya berlalu, Bejo berubah. Ia sadar banyak hal. Terutama setelah buku kumpulan puisinya terbit, ia menjadi seorang yang egois dan selalu marah-marah. Dulu sebagai anak kecil, ia tidak pernah cemas dan selalu tersenyum. Namun semenjak beberapa tahun lalu, semua senyumnya itu hilang seakan tak pernah ada. Rambutnya selalu acak-acakan dan mukanya selalu cemberut dan kecut.

Kupikir hal ini mungkin juga disebabkan lantaran ia belajar filsafat yang radikal tanpa bimbingan. Ia baca buku-buku itu sendiri, dan setelah membacanya, makinlah ia tersesat dan marah-marahnya semakin besar. Bejo mulai bertanya-tanya tentang eksistensi dirinya dan arti hidup. Beberapa filsuf memberi jawaban tentang hal itu, namun ia tak puas. Maka semakin marah-marahlah ia. Dan mulailah Bejo berusaha mencari-cari jawabannya sendiri. Ia berusaha mengisi hidupnya dengan hal terbaik yang bisa ia lakukan dan memberi hidupnya sesuatu yang ia percaya sebagai arti. Namun dalam pelaksannanya ia selalu ragu dan tak yakin tentang apa yang ia lakukan. Ia tak yakin apakah hal itu benar-benar pantas dan hal terbenar yang ia lakukan, atau ia telah menghabiskan waktunya dengan sia-sia. Keraguannya menjadi semakin kronis. Bejo merasa dirinya tersesat. Maka pada suatu malam ia marah besar. Setelah marah besarnya itu, Bejo menjadi orang yang semakin marah.

Tak lama kemudian, kudengar Bejo pindah ke Eropa. Ke sebuah kota bernama Anger di Perancis. Kepindahannya konon juga suatu misi dalam pencarian arti hidupnya. Setelah tinggal di Perancis selama beberapa bulan, Bejo benar-benar frustasi. Ia tak bisa menulis puisi. Otaknya buntu. Kata-kata yang ia percaya ada di dalam dirinya, tak lagi mau keluar. Ia begitu sedih dan tidak tahu mengapa otaknya begitu buntu. Ketika masih tinggal di Indonesia, Bejo tidak pernah mengalami masalah ini. Lantaran amarah dan kecemasannya Bejo dapat menulis dengan lancar. Ia begitu kecewa lantaran misi kepindahannya, yang seperti kukatakan sebelumnya, adalah untuk mencari arti hidup, malah menjadi sebuah momen yang kosong baginya. Bejo menjadi semakin khawatir. Ia merasa menghabiskan waktunya dengan sia-sia dan amarahnya semakin menumpuk.