Cerpen Bamby Cahyadi (Republika, 07 Februari 2010)

Pak Sobirin, Guru Mengaji ilustrasi Rendra
Pak Sobirin, Guru Mengaji ilustrasi Rendra Purnama/Republika

SETELAH tabrakan hebat tadi siang, kurasa aku telah mati. Apa yang bisa kau lakukan saat berada di alam kematianmu? Tentu, jawabannya tak ada yang tahu. Begitupun aku. Aku tak tahu apakah sekarang telah berada di alam kematian itu atau sekadar pingsan. Hanya gelap yang bisa kusaksikan. Ingin sekali ada malaikat yang datang padaku. Tak peduli ia malaikat pencabut nyawa, malaikat penjaga pintu surga atau neraka, yang penting ia malaikat. Setidaknya, tubuh malaikat yang bersayap dan terang benderang segera memadamkan kegelapan yang tak berujung ini. Bukankah malaikat diciptakan Tuhan dari cahaya?

Atau, mungkin bayangan-bayangan hitam pekat berkelebat-kelebat yang datang mengunjungiku, aku tak keberatan. Konon, katanya, mereka itu roh-roh penasaran yang tidak diterima neraka, apalagi surga. Boleh juga bertemu ayah! Seharusnya, aku dan ayah bisa bertemu. Bukankah saat ini aku adalah roh gentayangan yang tak kunjung menemui pintu masuk ke jasadku. Jadi, menurutku, seharusnya ayah yang telah meninggal lebih dulu saat aku remaja bisa menemuiku.

Sekali lagi, apa yang bisa kau lakukan saat berada di alam kematianmu? Aku sudah tahu jawabannya. Jawabnya, mengingat-ingat kenangan masa silam hidupmu. Kenangan itu seperti mimpi-mimpi dalam tidurmu. Kini, ingatanku membentang di sepanjang loronglorong gelap tak berujung. Luas tak bertepi. Menelusuri kenangan masa kanak-kanakku dulu. Aku teringat Pak Sobirin, guru mengaji kami.

***

Masih lekat dalam ingatanku sosok Pak Sobirin. Lelaki separuh baya itulah yang menjadi guru mengaji kami dulu di Kota Tegal, Jawa Tengah. Ia begitu bersahaja sekaligus sederhana, ke mana-mana Pak Sobirin selalu setia menunggangi sepeda ontel kesayangannya. Ia selalu memakai baju koko warna putih dan mengenakan kopiah beludru hitam yang sudah pudar warnanya.

Setiap ia datang untuk mengajar kami mengaji, di gerbang pintu rumah ia akan membunyikan bel sepedanya. Maka, setiap kali bunyi bel sepeda Pak Sobirin berdering-dering, kami berebutan lari ke depan rumah dan membukakan pintu gerbang untuknya.

Kring, kring, kring!