Cerpen Ida Ahdiah (Republika, 24 Januari 2010)

Subuh Mak'ke ilustrasi Rendra

ADA suara yang menggangguku pada sebuah subuh gerimis, di bulan Januari. Suara azan dari mushala itu membuatku terjaga dengan tidak biasa. Bola mataku kaku menatap langit-langit kamar yang tampak samar-samar karena hanya disinari lampu tidur berwatt rendah. Telingaku kupasang baik-baik mendengarkan alunan azan merdu, yang kunikmati dengan hati tidak menentu, antara percaya dan nyata, sebab tidak biasa. Seumur hidup baru kali ini aku mendengar azan serupa itu….

“Mas dengar azan barusan?” Aku menengok ke arah suamiku yang sedang menggeliatkan tubuhnya, di sampingku.

“Kedengarannya seperti suara perempuan,” katanya dengan suara bangun tidurnya yang serak.

“Baru kali ini, lho, aku mendengar perempuan azan. Rasanya gimana gitu,” ungkapku dengan perasaan kurang nyaman.

“Suaranya lumayan merdu,” komentar Mas.

“Suara milik siapa, ya, Mas.” Diterpa rasa penasaran aku bergegas menuju jendela, membuka tirainya. Dari situ aku bisa melihat langsung ke mushala, yang hanya dibatasi halaman dan jalan kecil. Di sana tampak seorang perempuan sedang melakukan shalat sunah. Perempuan itu membelakangi kami. Aku yakin, dialah yang barusan melantunkan azan, sebab hanya dia yang ada di mushala itu. Tapi siapa?

Aku berupaya mengingat-ingat, siapa tahu aku mengenal suara itu, tapi nihil. Bukankah suara di depan pengeras suara tidak kerap berbeda. Suara di depannya kadang terdengar lebih merdu. Namun, mengapa perempuan itu melakukan azan? Pasti ia punya alasan.

“Ke mana Solihin?”

Pertanyaan Mas mengusikku untuk segera berwudu dan pergi ke mushala. Mas pun tampaknya berpikiran serupa. Kami merasa ada sesuatu yang tak beres di pagi subuh gerimis itu. Lainnya, ini hari Sabtu, kami tidak diburu waktu untuk pergi kerja.

Terus terang saja, meski mushala persis di samping rumah, aku dan Mas tak pernah shalat subuh berjamaah di sana. Sepagi ini biasanya kami sibuk bersiap-siap pergi kerja. Kami tak ingin terjebak macet, yang sering kali membuyarkan mood baik. Aku dan Mas tiba di rumah kembali ketika listrik mushala sudah padam.

Oh, ya, Solihin itu adalah marbot mushala yang setiap waktu shalat melantunkan azan. Suaranya sangat kami kenal, kendati tidak merdu, tapi tegas dan fasih. Sejak Solihin jadi marbot, 6 bulan lalu, aku dan Mas tak lagi memasang alarm untuk membangunkan kami di pagi hari.

Mushala hasil swadaya yang kami beri nama Wardah itu, dibangun tanpa pintu dan jendela. Ruangannya bisa muat 100 jamaah. Di kanan-kiri mushala, ada teras yang kami tanami pepohonan kerdil berdaun rimbun sebagai peneduh. Angin yang bebas keluar masuk, mengipasi jamaah di kala udara panas.

Kamar untuk Solihin merangkap kantor, dan perpustakaan mini ada di bagian depan. Selain azan, pekerjaannya adalah menjaga kebersihan mushala. Sehabis magrib hingga isya, ia mengajar anak-anak mengaji. Selain itu, Solihin juga jadi tempat bertanya anak-anak tentang pelajaran agama.

Sebelumnya warga tak terpikir mengangkat Solihin sebagai marbot, kendati semua orang mengenalnya. Sehari-hari ia bekerja membantu warga yang membutuhkan tenaganya memotong rumput, membersihkan selokan, bahkan mengubur kucing mati. Kami menyenangi pria lajang yang pekerjaannya rapi, bertutur kata baik, dan bicara seperlunya ini.

“Dia itu lulusan Madrasah Aliyah. Ngajinya begini. Azannya fasih,” begitu Mak’ke mempromosikan Solihin jadi marbot sambil mengacungkan kedua jempolnya.

Beberapa kali Mak’ke melihat dan mendengar Solihin memperdengarkan azan di mushala. Katanya, ia juga pernah jadi makmum di belakang Solihin bersama dengan pedagang baso, tukang tahu gejrot, dan tukang roti yang saat lewat bersamaan dengan waktu shalat.

“Dia nanti yang ngurus mushala sekalian ngajari anak-anak ngaji. Mushala jadi ramai. Mubazir mushala tidak digunakan,” kata Mak’ke satu hari Ahad ketika kami berpapasan saat jalan-jalan pagi.

Mushala yang susah payah kami bangun itu memang mulai tak terurus. Awalnya saja, di akhir pekan, kami sering kumpul merencanakan kegiatan seperti membuka Taman Pendidikan Alquran, Taman Balita, dan perpustakaan. Awalnya saja mushala dipenuhi jamaah shalat. Namun, setelah bulan berbilang mushala kian sepi. Warga sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Namun, aku ragu membawa usulan Mak’ke ke rapat RT. Bu Lastri, istri Pak RT pernah dibuat tidak happy oleh Mak’ke. Pada Ahad, saat kami sarapan bubur ayam dekat lapangan futsal, Mak’ke berkata begini pada Bu Lastri, “Bukan mau ikut campur urusan orang, ya, tapi mata suami pasti sepet melihat istrinya yang cantik memakai daster lusuh. Nanti kalau dia melirik cewek lain, yang lebih segar, baru ngomel-ngomel,” kata Mak’ke, yang sudah lama menjanda, dan setiap hari selalu rapi berkain kebaya.

Bu Lastri, yang bekerja di sebuah LSM perempuan, tertegun diam mendengar teguran itu. Setelah Mak’ke pergi, baru ia melontarkan kedongkolannya, “Aku yakin Mak’ke tak bakal menegur bapak-bapak sarungan, berpenampilan serampangan, yang dengan santainya nonton futsal di lapangan itu.”

Entah karena dasternya kemudian sobek atau karena teguran Mak’ke, aku tak pernah lagi melihat Bu Lastri memakai daster lusuh itu jika jajan bubur atau berbelanja. Ia kini lebih suka memakai celana training dan kaus oblong.

Pak Drajat, pengusaha konveksi, pernah juga kena sentil Mak’ke gara-gara ia penasaran ingin punya anak laki-laki. Keempat anaknya yang lahir secara beruntun adalah perempuan. Dan, saat itu, istrinya sedang hamil anak kelima, yang dari hasil USG, diketahui berjenis kelamin perempuan.

“Dulu laki-laki dan perempuan dianggap beda. Perempuan tak perlu sekolah tinggi karena dianggap tempat yang pantas untuk mereka adalah dapur. Sekarang, sih, sama saja. Laki-laki ada yang pintar, banyak juga yang bodoh dan malas. Perempuan ada yang jadi insinyur, dokter, tapi banyak yang jadi TKW. Tergantung kau mendidiknya. Berhentilah punya anak. Kau anggap istrimu pabrik anak, apa?”

Aku juga pernah kena sindir Mak’ke gara-gara tak pernah jamaah di masjid. Katanya, “Kok, bisa ya, rumah samping mushala, tapi tak tergerak untuk shalat berjamaah.”

Meski tersinggung karena pilihan katanya yang pedas, kami tak berani menanggapi Mak’ke. Mungkin karena Mak’ke adalah perempuan paling tua, 66 tahun di tempat kami. Dia dan suaminya, yang meninggal 5 tahun lalu, adalah penghuni awal perumahan ini.

Selain itu, Mak’ke juga banyak jasanya terhadap lingkungan. Dialah yang mencium kawanan pengedar yang menyewa rumah di lingkungan kami, yang sepi dan jauh dari jalan raya. Mak’ke pernah menangkap basah baby sitter yang membiarkan bayi asuhnya mengenyot jempol kakinya, sementara ia duduk di sofa nonton infotainment di televisi. Dia pula yang galak meminta anak-anak dan remaja untuk belajar kala ulangan jika kasyikan main di taman.

Dua sifat yang berseberangan itu membuat kami benci, tapi butuh Mak’ke. Waktu Mak’ke dirawat di rumah sakit karena demam berdarah, yang menengok harus rela antre. Anak-anak, remaja, orang tua, guru senam, tukang pijat, satpam, dan tukang ojek terlihat dalam antrean. Mengingat sepak terjang Mak’ke selama ini, aku curiga perempuan yang barusan azan itu adalah Mak’ke.

“Ayo kita buktikan saja, Mak’ke atau bukan,” kata Mas seraya meng ajakku bergegas ke mushala.

Setiba di mushala, aku tak kaget lagi ketika tahu perempuan yang barusan melantunkan azan adalah Mak’ke.

“Suara Mak’ke, oke, kan,” Ia nyengir memamerkan dua giginya yang tanggal.

“Luar biasa. Saya tak mengira Mak’ke memiliki suara semerdu itu,” ujar Mas.

Dan, subuh itu mushala dipenuhi jamaah. Semua mengaku terperangah saat mendengar suara perempuan azan. Apalagi ketika mereka tahu Mak’ke lah yang melantunkannya.

Seusai shalat subuh, Mas Iman, seorang insinyur perminyakan, yang bekerja di perusahaan multinasional, menyampaikan keberatan jika Mak’ke melantuntan azan lagi. “Saya khawatir perempuan azan akan menimbulkan kontroversi,” katanya.

“Perempuan azan memang tidak biasa,” sahut Mas.

“Jangan-jangan secara hukum perempuan memang dilarang azan,” kata Mas Yahya, pemilik penyewaan mobil.

“Dilarang azan kenapa? Azan adalah panggilan yang menyerukan telah memasuki waktu shalat. Menurutku, sama saja dengan seruan berbuat kebaikan yang bisa dilakukan oleh pria, perempuan, orang tua, bahkan anak-anak,” tutur Bu Lastri.

Kami terdiam. Tak seorang pun di antara kami yang bisa menjawab, apa hukumnya perempuan azan? Mengapa selama ini perempuan tidak azan? Maklum, pengetahuan agama kami terbatas.

“Ke mana Solihin? Kita tanya Solihin, pasti dia tahu hukumnya,” aku coba memecah kediaman. Selain juga, aku tak melihat Solihin jadi imam atau ada di antara jamaah subuh.

Mak’ke yang menjawab. “Semalam ibunya masuk rumah sakit, terkena stroke. Dia nginap di rumah sakit ….”

“Lalu, dia menyuruh Mak’ke azan?” tanya Mas Yahya.

Mak’ke menggelengkan kepalanya keras-keras. “Mak’ke azan karena tak ada orang lain di mushala ini. Kalau ada Solihin atau salah satu dari bapak-bapak di sini, ngapain Mak’ke azan ….”

Mendengar itu kami saling pandang dan diam.

“Tentukan saja oleh warga siapa yang akan azan saat Solihin tak ada.” Mak’ke memandangi kami satu satu per satu. “Kalau tidak ada yang sempat, Mak’ke tak keberatan azan subuh, zuhur, asar, magrib … lima waktu setiap hari!”

“Waktu zuhur nanti biar aku yang azan,” keputusan Bu Lastri membuat kami tersentak.

“Saya juga tak keberatan azan asar,” sahutku yang disambut Mas dengan dahi berlipat.

Sementara kami membahas soal siapa yang bertugas untuk azan, Mak’ke permisi meninggalkan mushala, hendak pergi jalan-jalan pagi. (*)

 

 

Advertisements