Hamdi


Cerpen Ika Yunia Fauzia (Republika, 10 Januari 2010)

 

 

“HIDUP ini indah, seindah tumpukan sampah yang menggunung di depanku. Seharum aroma barang-barang busuk yang selalu menusuk hidungku. Bagaimana tidak kuanggap indah, karena barang kotor itu, aku bisa meneruskan hidup, memberi makan anak-anak, sampai-sampai aku bisa memberi modal istriku untuk membuka usaha dagang kecil-kecilan.”

Itulah kalimat yang pernah diungkapkan oleh Hamdi, lelaki Mesir yang biasa memunguti sampah di depan Wisma Nusantara kepadaku. Berawal dari ketidaksengajaanku memerhatikan lelaki itu tersenyum ketika memandangi tumpukan sampah di pojokan Wisma Nusantara, Kairo. Ia seperti melihat harta karun yang menumpuk. Sangat Berharga. Dengan cekatan, tangannya terus mengorek dan mengorek sampah yang sudah seharian tak terjamah manusia. Sampah-sampah yang sungguh sangat kotor. Tak ada seorang pun yang memerhatikannya, kecuali lelaki itu.

Salaamualaik…izziyyak, ya habibi,” sapaku bersahabat kepada lelaki yang wajahnya sudah tak asing lagi di mataku.

Ana kuwaish, Alhamdulillah. Kamu pasti Gaganj, bukan?” ucapnya dengan pasti sambil memperlihatkan gigi kuning yang beraturan rapi.

“Jaa..jang, bukan Gaganj,” kataku membetulkan ucapannya.

Memang, orang Mesir terbiasa mengucapkan huruf ‘J’ dengan huruf ‘G’ dan huruf ‘NG’ dengan ‘NJ’. Jadilah nama pemberian orang tuaku berganti dengan nama baru ‘Gaganj’. Akhirnya, aku lebih suka menyebutkan nama Muhammad daripada Jajang jika berkenalan dengan orang Mesir. Apalagi, jika aku sedang malas melayani pembicaraan mereka yang pasti akan memanjang gara-gara membahas namaku yang memang terdengar aneh bagi lidah dan telinga orang-orang Arab.

“Sudah berapa banyak harta karun yang berhasil Anda keruk hari ini, Tuan Hamdi?” tanyaku mencandainya.

“Alhamdulillah, yang pasti bisa untuk makan besok dan juga membelikan buku dan pencil untuk anak perempuanku. Yang pasti, kamu akan kebagian rezeki jika aku dapat rezeki yang lebih. Hitung-hitung untuk beli diktat kuliah kamu. Jangan lupa, besok kamu harus datang untuk makan malam ke ‘istanaku’ di daerah kuburan Darrasah. Tanyakan saja, Tuan Hamdi, si ‘saudagar sampah’. Pasti semua orang tahu.”

Dengan terkekeh dan sambil menepuk-nepuk bahuku, akhirnya lelaki itu mengakhiri obrolannya dan memohon diri dari hadapanku. Ah, bagaimana aku bisa membayangkan bahwa ia begitu bahagia menjalani hidupnya. Padahal, bagiku, kehidupannya sungguh sangat kekurangan. Sangat miskin. Untuk menyewa rumah saja, ia tidak mampu sehingga harus rela menempati kuburan di daerah Darrasah sebagai tempat tinggal.

Pernah ia memberiku uang sepuluh pound. Katanya, itu uang zakat sebagai wujud syukur karena rezeki yang diperolehnya lebih dari cukup. Aku sebenarnya sudah menolak pemberiannya, tapi akhirnya kuterima juga karena aku tak tega mengecewakannya. Jika kubanding-bandingkan beasiswaku tiap bulan, penghasilannya pastilah lebih sedikit daripada beasiswa yang aku peroleh. Padahal, aku sendiri merasakan sangat kekurangan jika hanya mengandalkan hasil beasiswaku yang pas-pasan untuk sewa rumah tiap bulan, biaya makan, transportasi, beli buku, dan yang lainnya.

***

Hampir urung niatku untuk memenuhi undangan lelaki itu setelah teman-temanku tak ada yang mau menerima ajakanku untuk menghadirinya. Jamuan makan malam di tengah-tengah kuburan. Memang kedengarannya aneh. Selama ini, yang kutahu hanya orang-orang kaya saja yang biasa mengundang dan menjamu orang-orang asing sepertiku.

Tapi…harusnya tidak ada lagi kata ‘tapi’… aku harus datang. Aku sudah janji aku akan datang dan aku harus menepati janjiku. Segera kustop bus dengan Nomor 995 yang akan mengantarku ke Darrasah. Untunglah, nasib baik ada padaku hingga aku bisa mendapat tempat duduk. Karena, biasanya, bus nomor ini selalu ramai. Kubayangkan komentar teman-teman serumahku ketika aku menguatkan niat untuk mengunjungi rumah sahabat baruku itu.

Hiii, paling-paling entar dibikinin paket spesial: sup tulang manusia plus semur daging berulat dengan saos darah dan lalapan bunga kamboja. Tak lupa, akan ditemani oleh si manis Jembatan Darrasah.” Ardi teman karibku membuka pembicaraan.

Tanpa dikomando lagi, teman-temanku yang lainnya pun angkat bicara. “Ente kok bisa-bisanya sih dapat teman model gituan, Jang. Ana mau deh kalo diajakin jamuan makan malam di Wisma Duta. Tapi, kalau jamuan makan malam di kuburan, kayak film horor aja, Jang. Udah, nggak usah dateng aja. Ntar bisa-bisa short ending lagi. Ente jadi santapan makan malam keluarga Hamdi. Besoknya, kita yang repot karena ente menghilang.”

Masak jauh-jauh dari Bandung ke Kairo cuma untuk jadi korban drakula.”

***

Yalla Darrasah.”

Teriakan sopir bus segera menghentikan lamunanku. Tinggi juga selera humor teman-temanku. Segera kuingat pesan Hamdi untuk menanyakan ‘istananya’. Terbukti, ia memang cukup terkenal di antara penduduk yang senasib dengannya, yaitu mereka yang memang tinggal di area pemakaman itu. Hingga mudahlah aku mencari rumahnya.

Malam di kuburan. Hitam pekat, gelap gulita, sunyi senyap. Kurasakan tidak ada nafas dedaunan. Area kuburan ini hanya dibatasi oleh pagar-pagar tinggi yang tertutup dengan gembok. Di setiap gerbangnya tertulis nama keluarga pemilik kuburan, seperti petakan rumah yang tak beratap. Kontan, aku teringat betapa susahnya menguburkan temanku yang meninggal beberapa tahun lalu akibat keracunan gas. Karena, setiap kuburan ada pemiliknya. Sehingga, menguburkannya harus mencari ‘tumpangan’ kuburan dulu. Kususuri jalanan yang sepi sampai akhirnya berhasil kutemukan alamat yang kucari.

Salaamualaik, ya siidi.”

“Waalaikumsalam, ya Gaganj. Akhirnya kamu datang juga. Kami sudah menunggumu dari tadi. Lihatlah makanan ini sudah hampir dingin. Sebentar, biar istriku mamanasinya lagi. Istriku ini sangat pintar memasak. Kamu pasti akan ketagihan untuk datang ke rumahku lagi. Ini lihat ada mahsyi, salathoh, mulukhiyyah, lisan usfuur, kushari, ayam bakar, dan tak lupa esy.”

“Sebelumnya, kenalkan ini Mustafa, anak sulungku. Ia juga seorang saudagar sampah untuk wilayah Buust. Tapi, mencari sampahnya setelah ia pulang sekolah. Rencananya, ia ingin kuliah di Azhar nantinya karena ia bercita-cita ingin seperti Imam Ghazali atau Muhammad Abduh. Kalau putri bungsuku ini namanya Nizma. Katanya, ia ingin jadi dokter. Bukan begitu, Nizma?” Ia tertawa. Kemudian kembali berkata, “Nah, kalau ini istriku tercinta, Madam Salwa.”

Dengan bangga, Hamdi menceritakan cita-cita anaknya. Ah, benar-benar kebahagiaan yang tidak dibuat-buat.

Tiba-tiba, ia mengagetkanku dengan ajakannya. “Yalla, kita mulai makan sekarang. Pastinya, kamu sudah lapar, bukan?”

Segera kumulai makan besarku hari ini. Bagaimana mungkin seorang penjaga kuburan yang nyambi sebagai tukang sampah mampu menjamuku dengan makanan yang sangat beragam. Bagi ukuran orang Mesir, makanan ini sudah sangat mewah dan tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

***

Udara yang segar. Langit dan bumi masih menampakkan wajah aslinya sebelum diracuni oleh asap knalpot, suara bising kendaraan, teriakan penjual esy, teriakan tukang bakiak, suara lagu-lagu Arab dari mobil-mobil, teriakan- teriakan para kernet: ‘Abbassa’aad, Ramsiis’, suara orang Arab berkelahi, dan suara-suara lainnya.

Malam masih menyisakan jejaknya pada embun yang terpagut di atas dedaunan hijau. Matahari sebentar lagi akan merekah. Ah, jarang sekali aku bisa merasakan pagi. Biasanya, kuhabiskan malamku untuk membaca buku, menulis makalah, ataupun sekadar mencorat-coret notebook kesayanganku. Akhirnya, aku baru mulai tidur setelah Subuh dan bangun pada jam sepuluh pagi. Tapi, pagi ini, aku harus segera ke Wisma Nusantara karena ada acara yang harus kuhadiri.

Kulihat jam tanganku tepat pada pukul enam pagi. Berarti, masih ada waktu satu jam lagi. Karena, acara aka dimulai pada pukul tujuh. Jalanan masih lengang, hanya ada beberap mobil yang melintas. Segera aku menyeberangi jalan. Sekilas kudengar seseorang memanggil namaku.

“Gaaagaaaanj!”

Dan tiba-tiba terdengar suara

BRAAAK.

Segera kubuang pandangan ke arah teriakan yang baru saja kudengar. “Hamdi.”

Jalanan pun digenangi darah. Tubuh Hamdi sudah tak bisa kukenali lagi. Truk kontainer yang menabraknya segera menepi. Orang-orang segera datang ke tempat kejadian, menutupi jasad Hamdi, dan menutupi darah yang tercecer di jalanan dengan lembaran-lembaran koran. Kulihat sekilas tiang lampu di pinggir jalan yang bengkok akibat terserempet truk kontainer, bersamaan dengan tertabraknya Hamdi. Aku hanya terdiam melihat semua. Entah mengapa aku seperti tak percaya melihat apa yang terjadi. Segera terlintas bayangan Madam Salwa, Mustafa, dan Nizma. Bagaimana nantinya nasib mereka?

***

Dua hari kemudian, kubulatkan niat untuk mengunjungi Madam Salwa, Mustafa, dan Nizma. Kutimbang-timbang tas kresek yang berada di tanganku: minyak, makaruna, susu, keju, buah-buahan, dan yang lainnya. Biarlah kurelakan beasiswaku untuk membeli semuanya. Setelah sampai di tujuan, segera kudapati Madam Salwa dan anak-anaknya sedang berkumpul sambil ditemani beberapa orang tetangga. Kulihat sesekali Madam Salwa menyeka air matanya seraya mengelus-elus kepala Nizma yang selalu menangis.

“Suamiku sudah dimakamkan di kuburan keluarga milik Tuan Ahmad, pemilik kuburan yang selama ini dijaga oleh suamiku. Dan, alhamdulillah, kemarin, aku mendapatkan uang tunjangan sebesar delapan puluh pound dari pemilik truk kontainer yang menabrak suamiku. Sebenarnya, menurut Mustafa, uang ganti rugi dari perusahaan itu sebesar dua puluh ribu pound. Tapi, uang itu diserahkan ke pemerintah untuk mengganti tiang lampu yang bengkok yang juga tertabrak truk kontainer. Akhirnya, suamiku hanya mendapatkan delapan puluh pound. Walau begitu, menurutku, masih untung daripada tidak mendapat tunjangan sama sekali. Sekarang, aku masih punya Mustafa untuk bisa menggantikan pekerjaan Babanya, tapi dia harus berhenti sekolah.”

Aku tak memerhatikan lagi kalimat yang diucapkan oleh Madam Salwa. Karena, perhatianku tertumpu pada uang ganti rugi untuk nyawa Hamdi. Ganti rugi yang sangat sedikit. Bagaimana mungkin nyawa seseorang hanya dihargai sebesar delapan puluh pound, separuh dari jumlah beasiswaku setiap bulan, yang bisa ditukarkan dengan lima atau enam ekor ayam.

“Alangkah berharganya tiang lampu yang bengkok itu dibandingkan biaya hidup Madam Salwa, Mustafa, dan Nizma; dibandingkan dengan sekolah serta masa depan mereka. Andaikan yang tertabrak bukan seorang pemulung sampah. Andaikan yang tertabrak seorang insinyur, dokter, pengacara, atau menteri. Ternyata, harga sebuah nyawa tak lebih dari harga statusnya. Ah, hidup memang terkadang tidak adil,” ungkapku dalam hati. Kembali kusimak setiap kata yang me luncur dari mulut Madam Salwa yang menyemangati kedua anaknya untuk selalu bisa bertahan hidup walaupun telah kehilangan Baba mereka. Aku hanya diam mematung. Entah pikiranku lari ke mana. (*)

 

 

Didedikasikan untuk seorang pemungut sampah di Kairo yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas beberapa tahun lalu. Semoga arwahnya diterima Allah. Amin.

 

2 Responses

  1. Ironinya, mengingatkan pada film Life is Beautiful.

    Like

  2. mantap…..bagus ceritanya, walau sebagai perempuan aku benci banget sama pelacur, tapi baca kisahnya yang sakit parah kaya gitu, sumpah…….jadi kasian….banget, jadi mau nangis………

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: