Cerpen Hasan Al Banna (Koran Tempo, 03 Januari 2010)

Tio na Tonggi ilustrasi Istimewa
Tio na Tonggi ilustrasi Istimewa 

LEGENDA Pitta Bargot Nauli! Bagaimana bisa Tio merontokkan sepahatan cerita itu dari dinding benaknya? Bayangkan, tak terbilang jumlah malam yang dihabiskan Tio untuk tekun menyimak Bapaknya bercerita. Sebelum berakhir, jangan harap Tio hanyut ke sungai lelap, lalu tenggelam ke kedalaman dekap Bapaknya.

Konon di tanah Batak, seperti yang dikisahkan Bapak Tio berulang-ulang, tersebutlah seorang gadis piatu bernama Pitta Bargot Nauli! Ia anak yang berbakti kepada orangtuanya. Pitta tak sampai hati melihat Bapaknya, Jalotua, terus-menerus terpenjara kemiskinan, apalagi sejak menyandang status duda. Maka gadis baik hati itu pun bermohon kepada Mulajadi na Bolon—Maha Pencipta Alam Semesta, “Aku rela mati asal mayatku berguna bagi Bapakku! Tak apa, selagi mayatku bisa menebus Bapakku dari sandera kesusahan!”

Pitta merasa doanya bakal terkabul! Aroma maut bertiup ke rongga lehernya. Maka menjelang ajal, ia berpesan kepada Jalotua: “Jangan kuburkan mayatku, Bapak. Karena tak lama setelah mati, aku akan berubah menjadi sebatang pohon yang tumbuh di atas tanah. Jika Bapak hendak membangun rumah, ambil rambutku menjadi atapnya. Tanganku bisa dijadikan tiang. Badanku, ambil untuk papan lantai atau dinding. Kalau Bapak tak punya uang, pukulilah bagian mataku, agar air mataku keluar. Tampunglah, karena limpahan air mataku akan disukai orang.”

Pitta tidak sedang bermuslihat! Selunas ajal, ia pun tertanam di tanah yang curam; menyerupa pohon, dan meninggi sampai belasan meter. Sedih memang ditinggal putri kesayangan, tapi Jalotua tak ingin mengkhianati niat mulia Pitta Bargot Nauli. Mau tak mau, setiap hari Jalotua memukul tandan pohon, dan bercucuranlah air! Air diberi nama nira, lantas dimantra menjelma tuak, minuman sedap yang digemari masyarakat. Cerita punya cerita, pohon itu dinamai pohon bargot—aren. Jalotua pun lepas dari kekang kemiskinan, dan kemudian dikenal sebagai paragat bargot, penyadap pohon aren.

SEPERTI Jalotua, Bapak Tio juga paragat bargot. Itu warisan turun-temurun. Lagi pula tangan Bapak Tio lebih serasi menjadi paragat ketimbang membajak sawah atau berladang sayur-mayur. Selain itu, seiring jadi paragat bargot, Bapak Tio juga pengolah tuak sekaligus menyalurkannya ke lapo-lapo tuak di perkampungan sana.

Tuak adalah minuman tradisi masyarakat Batak. Minuman peringkus hawa dingin dan pengupas lelah setelah seharian bekerja di ladang. Nah, tuak buatan Bapak Tio terkenal sedap. Eh, tak sembarang orang mampu meragi nira menjadi tuak yang enak.Ya, resep alam untuk memahitkan dan memompakan alkohol ke nira tak beda dari orang lain: tetap raru—kulit kayu waru. Namun, ilmu para leluhur tak selalu sama. Lain oppung—kakek, lain mantra! Lain cucu, tentu lain pula cita-rasa tuaknya!

Namun, tuak yang diragi dengan raru tidak untuk digelar pada upacara adat. Untuk keperluan itu, tuak na tonggi yang harus dihidangkan. Penyajian tuak na tonggi dalam adat masih dipertahankan di beberapa kampung. Tunggu dulu! Jangan kira tuak na tonggi tak memerlukan keahlian. Betul, tuak na tonggi tak butuh raru, harus tetap alami, kental, dan manis.Tapi, hanya orang tertentu yang bisa menjamin tuak na tonggi siap disajikan. Dan Bapak Tio salah seorang ahlinya.

Maka sampai kini, Bapak Tio tetap setia sebagai paragat bargot sekaligus peracik tuak. Meski belakangan, pohonan bargot mulai langka. Ya, apa hendak dikata? Orang-orang kampung mulai meluaskan ladang sampai ke pinggang gunung. Dan tak terhindarkan, bargot turut diintai, ditebang. Lantas, menjelma penyangga dan dinding rumah.

Oleh karena itu, Bapak Tio memilih pindah ke punggung gunung, berlindung di rumah sederhana mirip sopo—gubuk buruk. Memang, punggung gunung adalah persemayaman kabut dingin dan kawanan hewan buas.Tapi bukankah misteri hidup inang segala kebuasan? Ya, alamat makin pencil keluarganya dari pikuk perkampungan. Namun, bukankah makin dekat dengan pohon bargot yang mengandung nira, mata air kehidupan?

“Putriku, Tio, kita harus cari pohon bargot yang masih bisa menangis,” kata Bapaknya suatu kali, “Ha, makin ke gunung kita, makin banyaklah air mata bargot.” Tio yang masih berusia empat tahun kala itu tak mampu mencerna maksud Bapaknya. Nah, kalau tak salah, sejak itulah Bapak Tio mulai berkisah tentang legenda Pitta Bargot Nauli. Entah mula dari mana, Tio pun tak kalah senang mendengarnya. Berkali-kali! Tidak jarang Tio menagih lebih dulu cerita tersebut ke Bapaknya. Tak peduli apakah Bapaknya sedang ditekuk kelelahan. Kadang, Bapaknya mengangsurkan tubuh Tio ke pangkuan Ibunya. Tapi Tio menolak sambil merengek, “Ah, Bapak saja.Tak enak kalau Ibu yang cerita.”

Mmh, Tio sebenar takjub kepada gadis belia dalam cerita tersebut. Mau tahu, jurus jitu Bapaknya untuk merendahkan riuh tangis Tio? Ya, dengan legenda Pitta Bargot Nauli itu, tangis Tio segera disalip roman muka yang berseri. Sampai-sampai, setiap kali Bapaknya bertanya soal cita-cita, Tio pasti tak pernah menukar jawaban.

“Tio, apalah cita-citamu, ha?”

“Jadi anak yang berbakti!”

“Bah, seperti Pitta Bargot Nauli?”

“Iya, Bapak. Tapi kalau bisa, janganlah aku mati.” Jawab Tio manja. Bapaknya tergelak gemas disambar kegelian.

“Tio, Tio, mana mungkin Bapakmu ini mendoakan kau mati, ah!”

Tapi anehnya, mengapa nasib Tio sekonyong-konyong semuara dengan Pitta? Saat Tio berumur empat belas tahun, Ibunya meninggal dunia. Lantas, sejak kepergian Ibunya, hidup mereka—khususnya Bapak Tio—dihimpit puruk. Kemelaratan semacam aum harimau lapar yang menyusup ke urat leher!

“Dibawa Ibumu tondi kita, Tio. Dibawanya semangat hidup kita.” Tio kerap mendengar Bapaknya mengeluh. Iyalah pula, keahlian Bapak Tio cuma paragat bargot, juga pengadon tuak. Tapi, bagaimana kalau pohon bargot di punggung gunung pun tak luput dibunuh orang-orang kampung? Lalu, sebagian kecil pohon bargot yang selamat, tamat pula riwayat niranya.

Bargot-bargot itu marah, Tio. Marah bikin mereka tak bisa menangis. Bargot-bargot tak punya air mata lagi, Tio,” engah Bapak Tio dalam perangah! Mau apalagi, coba? Pohon-pohon bargot milik alam, tak berempunya. Bargot-bargot tumbuh liar di bahu jurang, mengasuh diri di kerumunan semak-ilalang.

Biasanya, tiap pekan Bapak Tio mampu menyalurkan dua jeriken besar tuak ke lapo penadah.Tapi kini, butuh dua pekan untuk mengumpulkan sepertiga jeriken. Bapak Tio tak bisa menyalahkan lapo-lapo yang memilih penyalur tuak dari kampung lain, meski harganya sedikit lebih mahal. Oi, harimau kesengsaraan semakin leluasa mencabik-cabik nasib!

Bagaimana kalau Bapak Tio melacak sumber pencarian yang lain? Ah, percuma! Pohon bargot yang kering adalah pertanda musim kemarau sedang melanda. Bapak Tio luntang-lantung! Dicerai harapan hidup. Entahlah, agat—pisau untuk menyadap—sudah lama dikerubungi karat. Bambu penampung nira umpama kerongkongan yang lepuh. Sedang sepatu ladam, pembungkus kaki untuk memanjat pohon bargot tertungkup begitu saja di atap sopo.