Cerpen Dewachan (Republika, 03 Januari 2010)

Kota Palsu ilustrasi Istimewa
Kota Palsu ilustrasi Istimewa

KOTA ini palsu. Dunia hipokrit yang seluruhnya hanya belantara amazon. Banyak tangis dalam senyum. Banyak benci, namun yang tampak adalah cinta. Banyak cinta, namun yang tampak adalah benci. Jika putih terlihat kelabu. Jika kelabu terlihat hitam. Ini kota setan. Debunya masih lebih sedikit dibandingkan dosa. Kota ini penuh lara. Penuh pura-pura.

Bus-bus berlarian ganas seperti begitu mencintai waktu, tidak mau menyiakan sedetik pun. Dari bus kecil sampai besar, lokal sampai antarprovinsi, yang berlagak cheetah, berserakan di jalan, lalu terbirit-birit kesetanan. Merekalah si penguasa. Sang pendobrak kesedihan yang di luar batas. Yang tidak terima akan mati.

Di salah satu penjuru kota, seorang bapak terkantuk-kantuk, memaksa diri untuk melek, berusaha menaklukan kuap. Entah mau ke mana ia. Saat bus yang mungkin sedari tadi ditunggunya datang, ia langsung berlari menuju bus tersebut, bersaing dengan para guru, karyawan, anak sekolah, bahkan nenek-nenek agar mendapatkan tempat duduk.

Ketika semua penumpang telah masuk, giliran pengamen yang naik. Dengan gitarnya sebagai benda wajib (tentu saja karena ia pengamen), ia berdehem dan menunggu di pojokan sampai bus berjalan mengelus jalan tol.

Setelah tujuh menit bus berjalan, pengamen itu berdiri di tengah bus. Ia berdehem lagi sambil sesekali menggenjreng gitarnya. Semua yang di bus tahu, ia pengamen professional meski pengamen ini jarang terlihat, bahkan baru sekali terlihat. Ia beda. Ia mengenakan serban dan jubah putih. Janggutnya panjang. Jiwanya seperti tak pernah kosong. Seorang balita melotot memerhatikannya. Penasaran. Ingin tahu.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” salamnya.

Beberapa penumpang menjawab salam tersebut, namun lebih banyak yang bergeming, sibuk membaca koran seribuan, makan nasi kuning kotak, atau tidur.

Bus berjalan lebih tenang, seolah keletihan sibuk bersombong-sombong. Pengamen jubah putih memerhatikan seisi penumpang. Kemudian, ia menyanyikan bait indah. Tepat sekali. Sebentar lagi Ramadhan. Ia pintar memanfaatkan momen. Memerhatikan pasar.

“Shalatullah, salamullah,

Ala toha Rasulillah,

Shalatullah, salamullah,

Ala yasin habibillah.”

Banyak penumpang yang menikmati nyanyian pengamen jubah putih tersebut. Mereka diam, tenang, dan memejamkan mata. Menghayati. Namun, memang masih ada beberapa yang terganggu. Mereka memasang muka sebal karena niat tidur babak duanya tidak mulus dijalankan. Mereka lalu mengambil ipod, mp4 player, atau handphone, mendengarkan lagu agar tidak terganggu oleh suara artis jalanan tersebut.

Pengamen jubah putih tak peduli. Ia terus bernyanyi semerdu mungkin. Toh pasti ada yang menerima dan ada yang tidak. Biarkan saja hal lumrah seperti itu.

Pengamen jubah putih mengulang nyanyiannya. Ia tidak salah kostum. Ia memerhatikan kesesuaian penampilan dengan lagu yang dibawakannya. Mungkin, ia benar-benar berbakat menjadi penyanyi. Siapa tahu saja, salah satu dari penumpang bus kali ini ada yang berniat mengajaknya membuat album. Bukan album foto tentu saja.

“Saudaraku,” sapanya sambil memainkan senar gitar, memainkan nada yang indah. “Saya mempunyai sebuah cerita yang saya harap bermanfaat bagi saudara semua. Semoga saudara dapat memetik pelajaran dari cerita ini.”

Banyak penumpang yang membetulkan duduknya. Sepertinya, mereka mulai tertarik mendengar cerita dari si pengamen jubah putih. Menunggu dengan cemas. Mereka sudah terkontaminasi sapaan dari pengamen jubah putih sampai penasaran betul, cerita apa yang akan dibawakan pengamen tersebut. Ketidaksabaran berdesakan, saling dorong dalam kepala mereka. Dan, pengamen jubah putih sepertinya menikmati. Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang artis, selain menikmati wajah tidak sabar fansnya.

Sementara itu, kernet mulai beraksi, menagih enam ribu lima ratus rupiah dari masing-masing kepala, kecuali pengamen itu. Balita yang sedari tadi memerhatikan si pengamen kini sudah asyik sendiri, memainkan mainan plastik di tangannya.

Pengamen jubah putih mengangkat kepalanya sambil jarinya tetap menari di senar gitar. Ia memulai cerita. Gayanya bercerita seperti Aa Gym berceramah.

“Ada seorang laki-laki yang selalu dipenuhi rasa ingin tahu. Salah satu rasa penasarannya yang menghantui pikirannya akhir-akhir ini adalah keberadaan surga. Ia mencari ke sana ke sini, tetapi tidak juga menemukan. Hingga, ia menceritakan rasa penasaran ini kepada sahabatnya yang dianggap orang bijak. Kemudian, sahabatnya itu mengajak laki-laki penasaran tersebut bepergian untuk mencari jawaban di mana surga.”

Penumpang serius menyimak. Mereka berhenti membaca, makan, dan mendengarkan musik. Jarang-jarang didongengi oleh pengamen jalanan. Biasanya, mereka hanya mendapatkan lagu-lagu masa kini. Pengamen ini memang beda. Ia juga pintar menguasai situasi dan menarik perhatian.

“Laki-laki yang penasaran tersebut diajak oleh sahabatnya mengunjungi rumah sakit jiwa. Di sana, mereka menemukan banyak sekali pasien yang jarang dijenguk keluarganya, tidak dipedulikan. Laki-laki yang penasaran itu diam, merenung, dan melihat fakta di depannya sambil menunjukkan ekspresi sedih. Tetapi, ia memang benar-benar sedih. Karena merasa tak tahan, ia mengajak sahabatnya pergi dari rumah sakit jiwa itu sambil berucap kasihan.”

Penumpang terhanyut dalam cerita pengamen jubah putih yang tampak puas. Ia melanjutkan ceritanya sambil diiringi petikan gitar. Sungguh indah terdengarnya.

“Kemudian, si sahabat mengajak laki-laki penasaran tersebut pergi ke sebuah tempat lain. Laki-laki penasaran kini diajak pergi ke panti asuhan yang semakin reyot tak terurus. Ia melihat anak-anak yang bermain kelereng di pekarangan dengan tubuh kurus kering dan dibalut kaos usang. Panti ini hampir mati, begitu kata pengelolanya. Tak ada sumbangan yang masuk. Tak ada bantuan dari pemerintah. Tak ada penyokong sama sekali. Malang benar anak-anak itu. Di mana ada jalan keluar? Harus ada jalan keluar! Tapi, tak sampai lama, laki-laki yang penasaran tersebut tak tahan melihatnya. Ia mengajak sahabatnya keluar dari panti itu sambil—lagi-lagi—berkata kasihan.”