Talida dan Api yang Menyala-nyala

February 26, 2017 - Leave a Response

Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 26 Februari 2017)

talida-dan-api-yang-menyala-nyala-ilustrasi-suara-merdeka

Talida dan Api yang Menyala-nyala ilustrasi Suara Merdeka

Jalan setapak ini menanjak. Penuh batu dan ranting-ranting tumbuhan liar yang meranggas. Di sini, udara menderu seperti dalam tungku. Matahari warna api memenuhi langit. Menelan warna biru. Napas kami berkejaran. Keringat kami bercucuran sepanjang jalan. Sampai-sampai, isi tubuh kami bagai bergejolak. Aku mengutuki entah siapa. Read the rest of this entry »

Advertisements

Ziarah Para Pembunuh

February 26, 2017 - Leave a Response

Cerpen Triyanto Triwikromo (Jawa Pos, 26 Februari 2017)

ziarah-para-pembunuh-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Ziarah Para Pembunuh ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

Bukan Makam

“Aku mencari-Mu.”

“Aku tak ada.”

“Bukalah pintu-Mu.”

“Tak ada pintu untukmu.”

“Aku hendak menziarahi-Mu.”

“Aku bukan makam.” Read the rest of this entry »

Wa

February 26, 2017 - Leave a Response

Cerpen Ikhsan Hasbi (Republika, 26 Februari 2017)

Wa ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpeg

Wa ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Sepetang ini Rahmat belum juga kembali. Langit seharian seperti berkabung, awan-awan bagai gelembung yang hendak meledak dan menumpahkan air kehidupan. Seorang perempuan yang mulai renta, duduk sambil memasak keripik pisang. Ia menunggu bocah 10 tahun itu pulang dari pasar. Di bolak-baliknya pisang agar matangnya merata. Minyak mendidih seperti hari-hari yang terlewati, meletup-letup dan menguarkan asap yang hangat. Read the rest of this entry »

Sepupu

February 25, 2017 - Leave a Response

Cerpen Yetti A.KA (Koran Tempo, 25-26 Februari 2017)

sepupu-ilustrtasi-munzir-fadly-koran-tempo

Sepupu ilustrtasi Munzir Fadly/Koran tempo

Pada usiaku yang ke-14 tahun, sepupu yang paling kusayangi memutuskan pindah agama dan menjadi seorang pembaca kitab yang taat. Sebelumnya, di mataku, dia seorang pelari yang hebat dan aku selalu senang melihatnya mengenakan kaus kaki panjang garis-garis hitam-putih dalam berbagai perlombaan yang diikutinya dan menunggu satu hari ia melempar kaus kaki itu ke dalam keranjang khusus barang-barang yang tak berguna lagi, dan aku segera memungutnya untuk kusimpan diam-diam dalam lemariku. Ketika sepupuku memutuskan pindah agama, aku sama sekali tidak merasa kehilangan dia, tapi di rumah bibiku seolah telah terjadi sebuah kematian yang mengerikan dan mereka berkabung hingga bertahun-tahun lamanya. Mereka memutuskan tidak berhubungan lagi dengan sepupuku dan semua orang dilarang bertemu dengannya dan aku merasa beruntung sekali telah menyimpan kaus kaki bekas itu. Paling tidak, dengan memiliki kaus kaki itu, aku merasa sepupuku tidak pergi ke mana-mana. Dia masih duduk di depanku, bercerita dengan mulutnya yang cenderung kecil dan sepasang matanya yang pemarah tentang seekor lutung yang tampak merana dalam kandang di kebun binatang, dan sepupuku terus bertanya-tanya kenapa manusia sering tega kepada makhluk lain. Itu tindakan brutal, kata sepupuku. Aku tidak punya pandangan sejauh itu. Fakta bahwa bibiku sangat menyukai dan mendukung adanya kebun binatang dan sering mengajakku ke sana di akhir pekan atau musim liburan membuatku harus hati-hati dalam mengeluarkan pendapat. Read the rest of this entry »

Tahi Lalat

February 19, 2017 - Leave a Response

Cerpen M Shoim Anwar (Media Indonesia, 19 Februari 2017)

tahi-lalat-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Tahi Lalat ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

ADA tahi lalat di dada istri Pak Lurah. Itu kabar yang tersebar di tempat kami. Keberadaannya seperti wabah. Lembut tapi pasti. Mungkin orang-orang masih sungkan untuk mengatakannya secara terbuka. Mereka menyampaikan kabar itu dengan suara pelan, mendekatkan mulut ke telinga pendengar, sementara yang lain memasang telinga lebih dekat ke mulut orang yang sedang berbicara. Mereka manggut-manggut, tersenyum sambil membuat kode gerakan menggelembung di dada dengan dua tangan, lalu menudingkan telunjuk ke dada sendiri, sebagai pertanda telah mengerti. Read the rest of this entry »

Meninggalkan Semut di Masjid

February 19, 2017 - One Response

Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 19 Februari 2017)

meninggalkan-semut-di-masjid-ilustrasi-farid-s-madjid-suara-merdeka

Meninggalkan Semut di Masjid ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Hujan turun. Butiran-butiran air sebesar biji jagung menghajar genting dan ranting, pohon dan kebun, dan memaksa orang-orang menyembunyikan diri dalam rumah masing-masing. Angin buruk berembus. Tiang listrik di ujung gang bergoyang-goyang. Tiga dahan besar pohon trembesi di pinggir jalan patah dan melintang dari tepi ke tepi yang lain. Itulah salah satu sore terburuk sepanjang 1987. Read the rest of this entry »