Pohon Kelapa di Kebun Bibi

January 15, 2017 - Leave a Response

Cerpen Ni Komang Ariani (Media Indonesia, 15 Januari 2016)

pohon-kelapa-di-kebun-bibi-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Pohon Kelapa di Kebun Bibi ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

TUMPUKAN cucian piring sudah menunggu. Aku bisa menciumnya dari jarak beberapa langkah. Bahkan mungkin aku sudah merasakannya, jauh sebelum memasuki rumah. Seperti apa baunya? Sulit dijelaskan. Aku mencium sayur basi, ikan basi, ayam basi, kecap basi. Bercampur-campur sampai sulit dikenali.

Pada saat itu terngiang-ngiang kalimat bibiku, Me Man Rindi. Perempuan tinggi besar yang menghabiskan hidupnya dengan buah kelapa. Read the rest of this entry »

Pagar Bambu

January 8, 2017 - One Response

Cerpen Iyut Fitra (Media Indonesia, 08 Januari 2017)

pagar-bambu-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Pagar Bambu ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

TEMPAT itu dulu sunyi. Hanya sehamparan padang. Sebidang tanah luas yang ditumbuhi rumput-rumput liar dan ilalang. Ada satu dua pohon yang mulai meninggi. Beberapa sudutnya bahkan sudah ada yang dijadikan tempat pembuangan sampah. Lalu, tempat itu dibersihkan, dikapling-kapling, dan dijual oleh pemiliknya.

Karena lokasinya tak jauh dari jalan raya, juga karena harga tanahnya tidak terlalu tinggi, berebutanlah orang-orang untuk membelinya. Tak lebih dari sebulan, semua tanah yang sudah dikapling-kapling itu terjual. Hilang hamparan padang, hilang pula rumput dan ilalang. Kesunyian kini telah berganti. Orang-orang mulai membangun. Read the rest of this entry »

Kaki yang Ketiga

January 8, 2017 - One Response

Cerpen Hartoko Supriadi (Suara Merdeka, 08 Januari 2017)

kaki-yang-ketiga-ilustrasi-suara-merdeka

Kaki yang Ketiga ilustrasi Suara Merdeka

Tanah lapang di tepi desa, tempat sapi dan kambing merumput itu kini disulap menjadi arena pertandingan yang meriah. Kompetisi sepak bola antar kampung sudah beberapa hari ini berlangsung. Bila sore menjelang, tempat yang biasa sunyi sepi itu berubah menjadi riuh dan gegap gempita. Acara dipandu oleh reporter amatir lewat pengeras suara. Gayanya lincah memilin dan menjalin kata-kata. Seperti reporter dalam tayangan televisi, menarik dan enerjik. Membius penonton yang datang berduyun lalu berhimpun. Laksana gerombolan semut yang merubung gula-gula.

Penonton yang berdesakan di tepi lapangan itu sesungguhnya terbelah menjadi dua. Masing-masing mendukung dan menjagoi kesebelasan kampungnya. Tetapi mereka seperti bersepakat, ingin menyaksikan pertandingan dan permainan yang memikat. Mereka pun mengidolakan bintang lapangan yang sama. Kusuma yang dijuluki Si Geledek, putra dari kepala desa. Tendangannya terkenal keras luar biasa. Bila mendapatkan bola, si kulit bundar itu seperti lengket di kakinya. Read the rest of this entry »

Nubuat Pemimpin Akhir Zaman

January 8, 2017 - One Response

Cerpen Anindita S. Thayf (Jawa Pos, 08 Januari 2017)

nubuat-pemimpin-akhir-zaman-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Nubuat Pemimpin Akhir Zaman ilustrasi Bagus/Jawa Pos

KETIKA istrinya sebentar lagi melahirkan, dia mendapati dirinya lebih banyak menghabiskan malam di teras, menjaga pintu—sekiranya potongan tripleks berengsel tali itu bisa disebut demikian—seakan ada yang hendak mencurinya. Dia berada di sana bukan sebagai suami siaga, melainkan kepala keluarga yang sedang banyak pikiran. Tidak bisa tidur selama berhari-hari hingga rasanya nyaris sinting. Membiarkan hujan menghipnotis dirinya sementara angin busuk sampah dekat situ mengurapi bulu-bulu hidungnya.

Di awal menikah, dia sempat memanggil istrinya “Putri Malu” sebab dialah “Sang Pangeran”. Saat itu, istana mereka berwujud gerobak tua yang mesti didorong ke sana-kemari pada siang hari dan diparkir pada malamnya. Walaupun tinggal dalam gerobak, Sang Pangeran dan Putri Malu hidup bahagia. Masa tersebut dikenangnya sebagai masa singkat yang indah. Read the rest of this entry »

Di Dalam Hutan, Entah di Mana

January 8, 2017 - Leave a Response

Cerpen Dewi Ria Utari (Kompas, 08 Januari 2016)

di-dalam-hutan-entah-di-mana-ilustrasi-nyoman-suarnata-kompas

Di Dalam Hutan, Entah di Mana ilustrasi Nyoman Suarnata/Kompas

Aku tumbuh dengan sebuah larangan yang kudengar sejak aku memahami kata-kata. Sebuah larangan yang menetapkan bahwa seluruh kerabatku dan siapa pun yang masih segaris darah dengan nenek buyutku, untuk tidak memasuki hutan yang berada di pinggir desa tempat aku dan keluargaku hidup.

Hutan itu mungkin terdiri dari berbagai macam pepohonan dan tumbuhan. Aku tak pernah yakin karena aku hanya berani sampai di batas luar hutan itu yang ditandai dengan sebuah lapangan rumput seluas kira-kira selapangan sepak bola, untuk memberi jarak dengan perkebunan bermacam-macam milik beberapa warga desa. Aku sebut bermacam-macam karena memang mereka menanami kebunnya dengan bermacam-macam tanaman secara bergantian. Tergantung musim dan tergantung mana yang harganya tengah bagus di pasaran. Sering kali penduduk di sini menanaminya dengan jagung, kedelai, sayur-sayuran seperti kacang panjang, hingga tembakau. Keluargaku juga memiliki sebagian lahan kebun, namun karena sudah tak ada lagi lelaki di rumah kami, aku dan nenekku menyewakannya kepada orang lain. Terserah mereka mau menanami apa. Read the rest of this entry »

Kematian Kelima

January 7, 2017 - One Response

Cerpen Kurnia Effendi (Koran Tempo, 07-08 Januari 2017)

kematian-kelima-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Kematian Kelima ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

ANGIN mendesir mengusir daun-daun kering. Kerisik itu menyadarkanku, ternyata tinggal kami berdua di depan makam sahabat yang baru saja dikebumikan. Jantungnya berhenti mendadak dan keluarganya gagal menyelamatkan, meskipun anak bungsunya kesetanan menyetir menembus lalu lintas padat Jakarta semalam, menuju rumah sakit.

“Kita tinggal berdua, Mam.” Suaraku ditangkap dengan kesedihan mendalam. Penyesalan juga menggenang di mata Hargumam. Namanya Harsoyo, namun kami berempat mengubah panggilan kepadanya sesuai dengan kebiasaannya bergumam.

“Hmm…” Ia menggeleng. Air matanya tak sembunyi. Dia pensiun dua bulan lalu, tapi bukan karena itu tangisnya pecah. “Detak. Akhirnya engkau berhenti berdetik. Hmm….” Read the rest of this entry »